Menyiapkan Guru Masa Depan

Opini Ilmiah


Selasa, 04 Februari 2014 - 06:22:35 WIB | dibaca: 1584 pembaca




Oleh: Aswandi

SEBUAH tesis menyatakan bahwa kemajuan sebuah bangsa ditentukan oleh pendidikan bermutu, dan pendidikan bermutu ditentukan oleh pembelajaran efektif yang dipengaruhi oleh banyak faktor, terutama kualitas pendidiknya. Kualitas atau profesionalitas para pendidik sangat ditentukan oleh Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) dimana guru itu disiapkan.

Sementara dunia keguruan hari ini menurut bapak Muhammad Nuh selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI masih dalam kondisi di rimba raya, di tengah-tengah usaha keras menghadapi berbagai persoalan terkait dengan guru, antara lain; kekurangan dan distribusi guru yang belum merata, ketidaksesuaian (mismatched) dalam penugasan, kualifikasi dan kompetensi guru perlu terus ditingkatkan, penugasan guru di daerah 3T (Terdepan, Terluar dan Tertinggal), kurikulum 2013, kurikulum LPTK, dan persoalan rekrutmen mahasiswa calon guru. Barangkali permasalahan yang sama terjadi di kementerian lain yang mengurus guru ini, Kementerian Agama misalnya.

Sehubungan fenomena tersebut di atas, beberapa hari yang lalu, tepatnya Rabu-Kamis, 3-4 Juli 2013, bertempat di Hotel Royal Kuningan Jakarta, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyelenggarakan Seminar dan Lokakarya (Semiloka) mengusung tema “Menyiapkan Guru Masa Depan” yang kemudian dijabarkan ke dalam sub tema; (1) Standarisasi Kelembagaan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) dan (2) Kurikulum LPTK dan Model Penyiapan Guru Masa Depan menghadirkan nara sumber, diantaranya; Muhammad Nuh (Mendikbud), Joko Santoso (Dirjen Pendidikan Tinggi), Supriadi Rustad (Direktur Pendidik dan Tenaga Kependidikan), Illah Sailah (Direktur Pembelajaran dan Kerjasama), Anna Suhaenah Soeparno (UNJ), Sunaryo Kartadinata (Rektor UPI merangkap Ketua ALPTKI), Bambang Suhendro (Mantan Dirjen Dikti). Semiloka tersebut dihadiri tidak kurang dari 242 peserta, terdiri dari berbagai unsur; Mendikbud, Komisi X DPR RI, Bappenas, eselon I, II, dan III di Lingkungan Kemendikbud, Rektor dan Pembantu Rektor I LPTK dan Dekan FKIP. Penulis hadir sebagai peserta semiloka dalam kapasitas selaku Dekan FKIP Universitas Tanjungpura.   

Muhammad Nuh dalam sambutannya menyatakan beberapa hal penting, antara lain; (1) dunia keguruan di Indonesia masih di alam rimba raya yang dihuni oleh banyak makhluk hidup dengan segala jenis dan karakternya, ada yang jinak dan tidak sedikit yang galak: (2) melahirkan guru pemberi cahaya sangat diperlukan di masa depan tidak cukup dengan hanya membongkar kealpaan sistemik selama ini tanpa melakukan pencerahan, terutama pencerahan kepribadian dan sosial yang selama ini terabaikan. Lengah dan lalai dalam pencerahan tersebut membuat mata hati tidak bernyawa atau mati, dan dampak negatif yang ditimbulkannya diwaris dari satu generasi ke generasi berikutnya menurut hukum deret ukur, misalnya satu kesalahan mendidik seorang murid atau peserta didik, maka dari satu kesalahan pada seorang siswa tersebut akan berkembang menjadi dua, tiga dan seterusnya. Mendikbud berharap dalam mempersiapkan guru masa depan beliau lakukan perubahan mendasar, jika perlu perombangan yang selama ini kurang efektif dan efisien serta tata kembali sebagaimana diperlukan dengan sepenuh hati, mulai dari sekarang, jangan tunggu besok lagi karena tantangan guru ke depan sangat-sangat berat. Tantangan dihadapan mata adalah pelaksanaan kurikulum 2013 dengan segala keterbatasannya, seperti kurangnya kesiapan guru dalam mengimplementasikan kurikulum baru tersebut, jangankan guru pada umumnya, guru yang baru saja mengikuti pelatihan sebagai trainer atau pelatih yang akan ditugasi mensosialisasikan dan mendesiminasikan pelaksanaan kurikulum 2013 sekarang ini disinyalir belum memiliki kemampuan yang memadai sebagaimana diharapkan.  .  .

Kesan mendalam mengikuti semiloka tersebut adalah terlihat kesungguhan dan semangat yang tinggi semua peserta, terutama dari bapak Mendikbud menginspirasi dan membangunkan kesadaran kolektif stakeholder dunia keguruan untuk bersama-sama menyiapkan guru Indonesia masa depan dan secara bersama-sama pula melawan siapa saja yang kurang bertanggung jawab dalam mengurus dunia keguruan ini, tidaklah heran apabila sementara ini diusulkan moratorium izin pendirian LPTK dan prodi baru di Lingkungan LPTK, dan nanti akan dilakukan rasionalisasi jumlah LPTK di Indonesia yang terkesan over capacity atau berlebihan, pencabutan izin penyelenggaraan program studi dan izin LPTK yang tidak bertanggung jawab mempersiapkan guru Indonesia masa depan, seperti mengabaikan proses perkuliahan yang efektif dan berkualitas.

Akhirnya semiloka berhasil merumuskan sebuah rekomendasi menyiapkan guru masa depan, yakni sebagai berikut; (1) Standarisasi Kelembagaan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK), meliputi; (a) Moratorium ijin penyelenggaraan program studi kependidikan baru dan pendirian LPTK baru, kecuali untuk LPTK yang dipertimbangan oleh pemerintah telah memenuhi standar LPTK; (b) Standar LPTK yang dimaksud mencakup: (b1) unit akademik (fakutas/jurusan ilmu pendidikan) yang memelihara dan mengembangkan keilmuan pendidikan dan pendidikan guru dan (b2) kapasitas sebagai penyelenggara program pengadaan guru pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan/atau pendidikan menengah; (c) Standardisasi LPTK dan program studi kependidikan ditargetkan selesai akhir tahun 2013 dalam bentuk regulasi; (d) Perlu review, evaluasi, dan penertiban menyeluruh terhadap program studi kependidikan dan institusi LPTK oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi bersama dengan Asosiasi LPTKI dan Forum Komunikasi FKIP Negeri; (e) Perlu ada peringkat LPTK dalam bentuk kategori A (sangat baik) dan B (baik); (f) Perlu segera dibentuk lembaga akreditasi khusus untuk LPTK baik program studi maupun institusi; (g) Perlu segera dibentuk Konsorsium Ilmu Pendidikan dan Keguruan (KIPK); (h) Struktur dan nomenklatur kelembagaan sesuai dengan statuta dan OTK masing-masing LPTK; dan

(2) Kurikulum LPTK dan Model Penyiapan Guru Masa Depan, meliputi; (a) Perlu diterbitkan payung hukum tentang Pedoman Pengembangan Kurikulum LPTK; (b) Diperlukan penguatan model pendidikan profesional guru guna menjawab tuntutan kekinian dan keanekaragaman subjek layanan di berbagai penjuru tanah air; (c) Diperlukan pengembangan  kurikulum pendidikan guru sehingga pendidikan akademik dan pendidikan profesi benar-benar merupakan satu keutuhan untuk membentuk guru yang bermutu, profesional, dan berkarakter; (d) Diperlukan pengembangan profil lulusan prodi sejenis dengan berbasis pada KKNI dan peraturan perundangan yang berlaku; (e) Diperlukan komitmen tinggi dari pemerintah (Kemdikbud) untuk memenuhi standar kelembagaan LPTK dalam menunjang implementasi kurikulum LPTK; (f) Perlu segera ditetapkan sebutan gelar guru profesional lulusan Program Pendidikan Profesi Guru atau PPG (Penulis, Dosen FKIP Untan dan Direktur The Aswandi Foundation)


Berita Terkait Opini Ilmiah /

Setiap Pegawai harus Punya Target Kinerja

Program SM-3T Tingkatkan Kualitas Pendidikan di Daerah 3T