Menjadi Seorang Bupati

Opini Ilmiah


Selasa, 01 September 2015 - 16:17:05 WIB | dibaca: 1496 pembaca


Oleh: Aswandi
 
DALAM waktu dekat, kurang lebih tiga bulan ke depan,  diselenggarakan pemilihan kepala daerah, baik walikota/bupati dan gubernur. Di Kalimantan Barat  tujuh kabupaten akan menyelenggarakan pemilihan bupati, yakni kabupaten: Sambas, Bengkayang, Ketapang, Kapuas Hulu, Melawi, Sintang dan Sekadau.
Bupati sebagai unsur penyelenggara pemerintah daerah yang memimpin pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah otonomi mempunyai kedudukan, kewenangan dan tanggung jawab atas hasil dari daerah yang berada dibawah perintahnya.

Pemimpin sejati mengingatkan para calon bupati sebagaimana dikutip John C. Maxwell (2003) dalam bukunya “The Right to Lead” bahwa hak memimpin bukan diraih lewat pemilihan atau penunjukan semata. Mempunyai posisi dan jabatan, pangkat atau gelar tidaklah membuat siapapun memenuhi persyaratan untuk memimpin sesamanya. Hak untuk memimpin hanya dapat diusahakan melalui proses belajar yang membutuhkan waktu panjang”.  

Lou Tsu mengatakan pemimpin yang hebat ketika orang tidak merasakan keberadaannya secara formal sebagai pemimpin, melainkan pengaruhnya dampak dari kekuatan hati atau spritual yang dimilikinya.
Brooks, Srark, dan Caverhill (2005) dalam bukunya “Your Leadership Lecacy” “Pemimpin yang hebat, bukan karena jabatan yang dipegangnya, melainkan karena mereka dipercaya dan dihormati oleh orang lain”,
Jauh sebelum mencalonkan diri menjadi seorang bupati dan mengikuti serangkaian tahapan pemilihan bupati, seorang calon bupati sudah sejak lama telah menjalani proses menjadi bupati yang sesungguhnya dimana sikap dan tindak tanduk (trade record) nya menjadi bahan pertimbangan rakyat memilihnya.  

Menjadi seorang bupati ibarat menanam pohon. Jika pohon tersebut diharapkan menghasilkan buah yang banyak dengan kualitas baik, maka mulai pemilihan bibit, perawatan dan pemeliharaan pohon tersebut harus dilakukan secara baik pula. Pendapat lain menyatakan, “menjadi seorang pemimpin sangat mirip dengan berinvestasi dalam pasar saham. Jika Anda mengharapkan kaya dalam satu hari. Anda takkan berhasil”, demikian Maxwell.

Zenger, Folkman, Sherwin and Steel (2013) dalam bukunya “How to Be Exeptional” menyampaikan hasil riset yang menyatakan bahwa sekitar 32%  kemampuan memimpin karena faktor genetik, selebihnya sebesar 68% kemampuan memimpin dibentuk oleh lingkungannya melalui proses belajar mengembangkan kekuatan, bukan mengatasi kelemahan. Dan yang menjadikan seseorang pemimpin besar atau hebat adalah keberadaan kekuatan, bukan ketiadaan kelemahan. Para pemimpin belajar bahwa semakin banyak orang yang mereka sertakan (berdayakan) dalam kemajuan mereka, semakin tumbuh dan berkembang kemampuan kepemimpinannya”.

Ram Charan (2010) dalam bukunya “Leaders at All Levels” menyatakan hal yang sama bahwa kemampuan memimpin terbentuk dari praktek dan koreksi diri. Pemimpin harus berulang kali membenamkan diri dalam kerumitan selama karier mereka sebagaimana ungkapan; learning to day, leader tomorrow, dan menjadi pemimpin yang baik berawal dari menjadi pengikut yang baik.

Brian Tracy (2014) dalam bukunya “How the Best Leaders Lead” menyatakan bahwa para pemimpin membentuk dan mengembangkan dirinya sendiri. Mereka terus menerus memperbaiki dan memperbaharui diri mereka, belajar, berkembang dan menjadi lebih cakap dan kompeten dari masa ke masa.
William Ouchi (1985) menulis sebuah buku berjudul “Teori Z menyebutkan satu ciri penting pada manajemen Jepang adalah promosi yang lambat dimana seseorang diberi kesempatan memimpin setelah memiliki banyak pengalaman dan wawasan di banyak bidang lain.

Kouzes & Posner (1999) dalam bukunya “The Leadership Challenge” mengutip pendapat Warren Bennis seorang pakar kepemimpinan yang menegaskan bahwa mitos kepemimpinan yang sangat berbahaya dan merusak dari segala mitos kepemimpinan lainnya adalah bahwa pemimpin itu dilahirkan untuk sedikit orang. Dalam arti,  menjadi bupati (pemimpin) dicangkan hanya untuk sedikit orang diantara kita atau hanya untuk kalangan terbatas, seperti menjadi pemimpin hanya diperuntukkan bagi mereka berdarah biru.

John C. Maxwell (2001) dalam bukunya “The 21 Irrefutable Laws of Leadership” mengemukau hukum proses dalam kepemimpinan yakni “Kepemimpinan berkembang setiap hari, bukan dalam sehari”. Menurutnya, kemampuan memimpin sesungguhnya  merupakan kumpulan dari berbagai  ketrampilan yang hampir seluruhnya dapat dipelajari serta ditingkatkan.

Kemampuan untuk berkembang serta meningkatkan ketrampilannyalah yang membedakan pemimpin dengan pengikutnya. Pemimpin yang sukses adalah orang yang belajar. Berdasarkan penjelasan teoretik tersebut di atas, mekanisme promosi jabatan di dunia militer dan pimpinan pendidikan tinggi di Indonesia sudah berjalan baik, artinya seorang menjadi pemimpin melalui proses yang baik, tidak ada loncat jabatan, yang ada percepatan promosi jabatan. Sedangkan menjadi seorang bupati adalah sebuah proses panjang jauh sebelum mereka mencalonkan diri dan mengikuti seluruh tahapan pemilihan (pilkada).

Menjadi seorang bupati (pemimpin), selain karena dilahirkan dan sebuah momentum yang mengharuskan hadirnya seorang pemimpin, sebagian besar pemimpin hebat kehadirannya dibentuk melalui proses pembelajaran jangka  panjang untuk memahami segala permasalahan dan tantangan yang akan dihadapinya, bukan seseorang yang tiba-tiba muncul mencalonkan diri, wawasan dan pemahamannya tentang masalah di daerah yang akan dipimpinnya dan menjalankan roda pemerintahan daerah sangat terbatas, ibarat baru sebatas pagar rumahnya, namun karena banyak duitnya, banyak partai politik mengusungnya. Arnord Toynbee mengingatkan dalam tesisnya bahwa kemajuan sebuah bangsa (daerah) hanya terjadi apabila terdapat respons atau tanggapan yang tepat terhadap masalah dan tantangan yang dihadapinya. Berdasarkkan tesis tersebut, diasumsikan bahwa pemimpin yang muncul dadakan diragukan kemampuannya dapat merespons secara tepat dan baik tentang masalah dan tantangan yang dihadapinya.

Dan masyarakat, constutuen, atau para pemilih jangan terjebah euphoria tebar pesona, seolah-olah teman akrab dan mengaku dermawan (padahal yang dibagikan adalah dana Bansos), baik sebelum dan di saat kampanye berlangsung. Oleh karena itu proses sosialisasi tersebut tidak mampu menjelaskan figur bupati yang sesungguhnya, layaknya hanya sebuah panggung sandiwara. Sebagai bahan pertimbangan bagi pemilih dalam memilih bupati, penulis kutip sabda Rasulullah Saw yang menyatakan bahwa pilihlah pemimpin yang kuat dan tepercaya. Pendapat para pakar kepemimpinan, seperti Kouzes & Posner (1999) dalam risetnya menyimpulkan bahwa pemimpin yang dapat dipercaya memiliki 4 (empat) karakteristik utama, yakni jujur, visioner, inspiratif dan cakap. Sementara Brian Tracy menyatakan tujuh karakteristik utama pemimpin efektif, yakni: memiliki visi, memiliki keberanian, memiliki integritas, rendah hati, visioner, focus dan dapat bekerjasama (Penulis, Dosen FKIP Untan) 


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Malu pada Semut

Kemerdekaan dan Pendidikan

Ayo Kerja

Thuma’ninah dalam Pembelajaran

Rumahku Pantiku