Meningkatkan Hasil UN

Opini Ilmiah


Selasa, 26 Mei 2015 - 08:31:55 WIB | dibaca: 930 pembaca


Oleh: Aswandi
 
JAUH sebelum Ujian Nasional (UN) diselenggarakan, bapak Sutarmidji selaku Wali Kota Pontianak dalam banyak kesempatan memberikan motivasi dan semangat kepada pihak sekolah, baik kepada kepala sekolah, guru, dan siswa peserta ujian nasional agar mencapai hasil UN setinggi-tingginya. Secara khusus beliau memberikan beasiswa berupa studi lanjut atau kuliah dan kendaraan roda dua bagi siswa yang mencapai 10 (sepuluh) besar nasional pada UN tahun ini.

Setelah ujian nasional dilaksanakan, ternyata tidak ada satupun siswa/i yang berasal dari Kota Pontianak mengukir prestasi atau hasil UN yang masuk 10 (sepuluh) besar nasional. Padahal berbagai upaya telah dilakukan, seperti berbagai metode telah dijalankan, sarana dan prasarana telah disediakan. Diberitakan oleh media di daerah ini, beliau sangat kecewa terhadap hasil UN tahun ini. Namun kondisi tersebut tidak membuat beliau putus asa untuk tahun-tahun berikutnya, beliau mengatakan “kita masih mencari metode lain. Mungkin perlu penyegaran, seperti pelatihan khusus untuk guru agar metode pembelajaran bisa diperbaiki, karena sarana dan prasarana sudah sangat memadai”.

Penulis sependapat atau setuju atas keinginan bapak Wali Kota dan Ketua Komisi D DPRD Pontianak untuk memperbaiki proses pembelajaran karena apapun hasil pembelajaran yang telah dicapai adalah dampak atau pengaruh dari proses pembelajaran itu sendiri. Jika ditemukan hasil ujian nasional tinggi di suatu daerah sementara proses pembelajaran belum berjalan efektif karena keterbatasan sumber daya yang dimiliki, maka hampir dapat dipastikan atau boleh diduga telah terjadi ketidakjujuran atau kecurangan dalam pelaksanaan ujian nasional di sekolah/daerah tersebut. Boleh dibuktikan asumsi atau hipotesis penulis ini.

Hasil Ujian Nasional terkait erat dengan ketuntasan belajar (mastery learning) peserta didik. Guna mencapai ketuntasan belajar tersebut diperlukan kontol atau pengawasan dan remedial dalam pembelajaran. Dua kegiatan penting dalam proses pembelajaran ini, yakni kontrol pembelajaran dan remedial dalam pembelajaran terabaikan atau tidak dilaksanakan dengan sungguh-sungguh oleh guru, kurang dimonitoring oleh kepala sekolah dan pengawas sekolah selama ini. Akibat pembelajaran yang belum tuntas itu berakibat rendahnya prestasi nilai UN.

Dalam berbagai kesempatan penulis sampaikan bahwa mencapai hasil UN secara sempurna bagi siswa/i di Kota Pontianak ini bukanlah persoalan yang terlalu sulit, apalagi dalam kondisi sumber daya manusia, fasilitas dan sumber dana untuk pendidikan dan pengajaran yang sudah sangat memadai. Persoalannya tinggal keseriusan dan tanggung jawab semua stakeholder pendidikan, terutama dalam pencapaian daya seraf melalui kontrol dan remedial pembelajaran itu.

Kontrol pencapaian hasil belajar dilakukan secara formatif, semakin sering dilakukan evaluasi atau penilaian formatif, maka akan semakin cepat diketahui kekurangan dan pencapaian hasil belajar siswa, dan secepat itu pula dilakukan remedial atau perbaikan. Selama ini, pencapaian daya seraf baru diketahu 4 (empat) bulan sekali melalui evaluasi sumatif (ujian semester), menurut penulis terlalu lama dan berdampak pada ketidakefektifan proses remedial. Selama ini para siswa/i yang tidak memenuhi pencapaian daya seraf karena tidak dilakukan kontrol belajarnya, maka siswa/i tersebut setiap harinya mengalami proses pembelajaran dalam kondisi kebingungan, akibatnya proses pembelajar berjalan pasif.

Pendapat penulis di atas didasarkan pada tidak kurang dari 50.602 studi yang telah direwiew oleh John Hattie, Visible Learning Lab, University of Auckland, New Zealand, EARLI, 2007 menyimpulkan terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa, yakni; guru sebesar 50%, kurikulum sebesar 45%, pembelajaran sebesar 43%, siswa sebesar 39%, rumah sebesar 36%, dan sekolah sebesar 23%. Sementara dalam pembelajaran, faktor yang mempengaruhi adalah sebagai berikut; self-reported grades (144%), providing formative evaluation (90%), classroom behavioral (80%), feedback (73%), and teacher-student relationships (72%).

Selain dilakukan secara mandiri oleh setiap guru layaknya ulangan harian yang ditindak lanjuti, pencapaian daya seraf dapat dilakukan secara melembaga dan menyeluruh guna pencapaian hasil belajar yang merata bagi semua sekolah dan madrasah, Untuk itu kontol belajar dapat dilakukan menggunakan instrument yang sama (LKS Bersama), kemudian hasil belajar siswa tersebut dianalisis dan direkomendasi oleh sebuah tim yang dibentuk untuk itu, terdiri dari unsur pengawas, kepala sekolah dan guru. Hasil dan rekomendasi tersebut secepatnya diberikan ke semua sekolah dan madrasah untuk segera dilakukan remedial bagi siswa yang belum mencapai daya seraf.

Selain itu, pernyataan yang sama terkait hasil UN ini disampaikan oleh Herman Mofi Munawar selaku Ketua Komisi D DPRD Kota Pontianak bahwa peningkatan hasil UN di masa yang akan datang dapat dilakukan melalui evaluasi menyeluruh.    
Mencermati pernyataan yang disampaikan, baik oleh bapak Sutarmidji maupun oleh bapak Herman Hofi Munawar tersebut di atas terkandung maksud pemerintah melakukan penyegaran dan evaluasi menyeluruh. Menurut penulis maksud tersebut segera diwujudkan dalam bentuk nyata, diantaranya tidak hanya penyegaran terhadap guru dan pembelajaran melainkan juga penyegaran pimpinan pendidikan yakni kepala sekolah dan pimpinan dinas terkait karena mereka harus bertanggung jawab terhadap hasil UN ini.

Kepala sekolah mengemban tugas dan fungsi dalam kepemimpinan sekolah, demikian pula kepala dinas terkait, mereka wajib melakukan pembinaan terhadap guru, kelas, sekolah dan institusinya. John Kotter seorang pakar perubahan mengatakan sebanyak 70-90 persen perubahan atau kemajuan setiap institusi dipengaruhi atau ditentukan oleh siapa pimpinannya. Disamping itu, sebuah asumsi atau tesis dalam manajemen mengatakan, “Jika organisasi atau institusi tidak mengalami perubahan atau kemajuan, maka tindakan yang harus segera diambil adalah mengganti pemimpinnya. Berdasarkan asumsi dan tesis tersebut di atas, bapak Sutarmidji selaku Wali Kota Pontianak sebagai pihak yang paling bertanggung jawab dalam pemerintahan daerah ini jangan ragu untuk melakukan penyegaran kepala sekolah dan/atau kepala dinas terkait. Kita berharap dan berkeyakinan, beliau mampu dan mau melakukannya. INSYAALLAH (Penulis Dosen FKIP Untan dan Ketua BAP S/M Kalbar).


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Lelang Jabatan

Tanjungpura Nama Kampusku

Sekolah sebagai Taman

Memilih Bupati Mencari Solusi

Penguatan Insan Pendidikan