Menguji Komitmen Kita

Opini Ilmiah


Senin, 12 Januari 2015 - 08:40:44 WIB | dibaca: 1077 pembaca



Foto: Menelusuri Tembok Besar China

Oleh: Aswandi
 
SABTU, 10 Januari 2015, penulis menguji dua orang kandidat doktor Universitas Negeri Jakarta (UNJ), mengusung tema “Komitmen Guru”. Pengalaman menguji dua kandidat doktor pendidikan tersebut cukup memberi bukti bahwa masih rendahnya komitmen guru di negeri ini. Carl Glickman seorang pakar supervisi pendidikan menegaskan bahwa guru yang memiliki komitmen dan kemampuan (abstraksi) rendah, maka guru tersebut harus segera didroup-out atau dilarang melaksanakan tugas mengajar karena akan merusak masa depan peserta didiknya. Sayangnya, pemerintah atau pihak terkait masih saja membiarkan dan tidak peduli terhadap permasalahan yang sangat mencoreng dunia pendidikan ini.

Jauh sebelum itu, Mahatma Gandhi pernah menceritakan pengalamannya mengamati banyak calon pemimpin dunia ketika mereka berkampanye mengusung tema berkomitmen menegakkan Hak Asasi Manusia (HAM). Namun apa yang terjadi, setelah mereka terpilih menjadi pemimpin, belum lama berkuasa tercatat sebagai pelanggar HAM, dan tidak sedikit tergolong pelanggar HAM berat. Cukup menjadi bukti, bahkan berkomitmen itu penting dan tidak mudah karena tidak cukup hanya diucapkan, dituliskan, melainkan diuji dalam tindakan dan perbuatan. Menjadi sangat beralasan, apabila ada pihak yang harus mengakhiri hidup pengikutnya atau teman seperjuangannya yang telah berbaiat setia kepada organisasi, perjuangan dan pimpinannya, namun mengkhianati komitmen yang telah dibuatnya. Dalam Islam mereka tergolong orang munafik, jenis manusia paling jahat dihadapan Allah SWT karena secara pasti para munafiqin tersebut merusak perjuangan dari dalam. Adapun ciri mereka; berkata dusta, ingkar janji dan tidak amanah.

Komitmen adalah janji luhur pada diri sendiri dan pemilik kebenaran, dapat saja diucapkan, lebih baik jika komitmen itu dituliskan, jauh lebih penting apa yang telah diucapkan dan dituliskan itu diwujudkan dalam tindakan atau perbuatan.
Dalam presfektif komitmen, manusia dapat digolongkan; (1) Pengecut, yakni mereka yang tidak memiliki komitmen; (2) Peragu, yakni selalu ragu dalam tindakan perjuangannya, (3) Penyerah, yakni mereka yang mau memulai perjuangan, namun segera menyerah jika menemukan hambatan dan ragu akan kemenangan; (4) Pendaki, yakni mereka yang telah menetapkan sasaran dan berkomitmen mencapainya, dan siap berkorban untuk mencapai kemenangannya.

Komitmen yang sangat penting memiliki sifat khas; pembuka pintu menuju prestasi dan kemenangan, dimulai di dalam hati, diuji oleh perbuatan, musuh dari penolakan, karena komitmen itu adalah janji serius untuk terus maju, untuk bangkit, sudah berapa kalipun anda dipukul roboh, difitnah dan dikecewakan. Biasanya komitmen ditemukan di tengah-tengah kesusahan, dan ia tidak tergantung pada bakat dan kemampuan, ia adalah panggilan jiwa untuk menegakkan kebenaran, timbul sebagai sebuah pilihan, bukan sesuatu bersifat kondisional atau situasional, dan akan bersifat kekal abadi jika didasarkan pada nilai-nilai kebenaran bersifat universal.

Dari penjelasan di atas, penulis simpulkan bahwa komitmen sejati yang menjadi sumber kemenangan dalam perjuangan,  dicirikan dan dapat diuji, antara lain dengan menggunakan  beberapa parameter berikut ini, komitmen adalah; (1) jalan dan pintu masuk menuju kemenangan, keberhasilan dan sejenisnya; (2) didasarkan pada nilai kebenaran dan kebaikan; (3) sebuah pilihan, tidak bersifat situasional, ia kokoh sekokoh batu karang, ia tidak lapuk karena hujan dan tidak lekang karena panas; (4) harus diusahakan dan diperjuangankan, bukan hanya sebatas diucapkan. Booker T. Washington mengtakan, “Kita tidak bisa menolong orang lain di selokan tanpa masuk juga ke dalam selokan bersamanya”.

Pepatah Hindu berbunyi, “Jika kau membantu menyeberangkan perahu saudaramu, niscaya perahumu pun akan mencapai pantai”.
Dalam keseharian hidup ini, banyak yang mengklim dirinya pejuang, Namun dalam kenyataannya, mereka yang menyebut dirinya sebagai pejuang itu ternyata tidak beda dengan seorang pecundang, penghianat dan monster (hantu bangkit) perjuangan yang selalu membuat kekeruhan dan kekacauan dalam setiap langkah perjuangan itu. Pejuang sejati adalah mereka yang memiliki idealisme, tidak pernah menyesali hidup dan perjuangannya sekalipun ia kalah atau gagal dalam sebuah perjuangan. Jika akhirnya mencapai sebuah kemenangan, maka kemenangan itu harus dimaknai sebagai kemenangan bersama, sebuah kemenangan tanpa mengalahkan, demikian nasehat Sun Tsu, dan (5) setiap mereka yang berkomitmen terhadap kebenaran yang menjadi pilihannya, harus siap berkurban dan menanggung resiko. “Kalau seseorang belum menemukan sesuatu yang membuat dia rela mati, maka dia tidak layak hidup”, demikian Martin Luther King. Will Rogers menambahkan, “Hayati kehidupan sedemikian rupa dengan penuh hikmah sehingga setiap kali anda kalah, anda berada di depan”. Tidak ada juara yang setengah hati, kata Maxwell, semakin keras anda berjuang semakin sulit anda menyerah, kata Vince Lambardi, dan tak seorangpun yang telah berjuang memberikan kemampuan terbaiknya pernah menyesalinya, kata George Halas.

Contoh lain menguji komitmen seseorang dalam setiap perjuangan, seperti; Jika ia seorang petinju, ia bangkit lagi dari kanvas setelah berulang kali dipukul roboh. Jika ia pelari meraton, ia lari sepuluh mil lagi, padahal kekuatannya telah terkuras. Jika ia serdadu, ia melintasi bukit tanpa mengetahui ada apa di balik sana. Jika ia misionaris, ia mengucapkan selamat tinggal kepada kenyamanan sendiri untuk menjadikan kehidupan orang lain lebih baik. Berbahagia menurut mereka ketika bisa memberi, bukan ketika menerima. Jika ia seorang pemimpin sejati, ia merasa menjadi seorang pelayan (servant), berbuat lebih karena semua orang tergantung dan berharap kepadanya. Dan jika ia pendukung atau konstituen dari seorang kandidat pemimpin, kandidat rektor misalnya, maka mereka tidak akan berubah pilihannya hanya karena upeti, suap, janji-janji jabatan dan sebagainya.

Besok, Selasa 13 Januari 2015 akan dilakukan pemilihan rektor Universitas Tanjungpura (Untan) melalui pemungutan suara (voting), yakni 65% suara senat universitas dan 35% suara menteri. Pentingnya,  kegiatan tersebut, maka kepada semua pihak. Khususnya kepada panitia pemilih, pemilik suara agar berupaya mensukseskan pesta demokrasi di perguruan tinggi empat tahunan ini dan memberikan pilihannya sesuai hati nurani masing-masing, ia harus mampu melawan dan mengalahkan sahwat keserakahan, egoisme, dan kemusyrikan yang dimungkinkan mencerai kelancaran dan kesuksesan pemilihan rektor nanti. Jika sudah berkomitmen memenangkan satu kandidat calon rektor, maka jangan mudah berubah ke kandidat lain, kecuali didasarkan alasan yang benar dan dengan cara yang baik. Dalam banyak kesempatan, penulis sampaikan janganlah menjadikan sebuah kesenangan membagi atau memberikan sesuatu yang tidak kita senangi kepada orang lain. Kong Fu Tsu menasehati kita, “Jangan lakukan kepada orang lain, apa yang kita tidak ingin orang lain melakukannya kepada kita” (Penulis, Dosen FKIP Untan dan Direktur The Aswandi Foundation)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Memaknai Awal Perubahan

Pendidikan Indonesia Gawat Darurat

Kasih Sayang Ibu

Memilih Rektor Tepercaya

Diminta Kembali Menjadi Rektor