Menghormati Pahlawan

Opini Ilmiah


Senin, 10 November 2014 - 19:25:52 WIB | dibaca: 1042 pembaca



Foto: di Yakushiji Temple - Nara, Japan

Oleh: Aswandi
 
KEBERADAAN pahlawan tidak bisa dipisahkan dari sejarahnya.
Sejarah mengkonsepsikan kehidupan dalam perjalanan waktu. Sejarah mengajarkan kepada cara menentukan pilihan untuk mempertimbangkan berbagai pendapat. Sejarah juga dapat mempersatukan atau menciptakan persaudaraan diantara kita. Sejarah telah terbukti mampu mengajarkan kepada kita berakhlak mulia dan berbudi pekerti luhur, bahkan sejarah mengajarkan kepada kita mengenai apa yang tidak dapat kita lihat.

Cicero salah seorang sejarahawan yang hidup satu abad sebelum masehi mengatakan, “Jika kita tidak tahu apa yang terjadi sebelum kita lahir, berarti kita tetap sebagai anak kecil”. Sejarah adalah sebuah peristiwa yang sering diulang dalam modus yang berbeda, ia mengajarkan dan mengingatkan kepada kita bahwa setiap ada pahlawan selalu ada pecundang atau penghianat, faktanya setiap kali terjadi transisi kekuasaan diikuti pertumpahan darah dan kekacauan masyarakat.

Cut Nyak Dien salah seorang pahlawan nasional saat memimpin peperangan selalu mengingatkan pasukannya untuk tetap waspada, baik saat terang  (jelas siapa kawan dan siapa lawan), dan di saat gelap (tidak jelas siapa kawan dan siapa lawan), dan lebih waspada lagi di saat berawan (siapa kawan dan siapa lawan serba terlihat abu-abu atau samar, dari mulutnya terucap sebagai kawan setia memiliki loyalitas tinggi, tetapi dalam hatinya menusuk dari belakang atau munafik).

Sejarah bukan sekedar fakta/data, melainkan yang terpenting adalah interpretasi atau penilaian, kepedulian dan kewaspadaan.
Tempo dulu, dikumandangkan sebuah slogan “Jas Merah”. Slogan tersebut menegaskan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya, dapat bermakna tidak melupakan jasa para pejuang dan pahlawannya.

Hari ini, di belahan dunia, terutama di negera-negara maju. tumbuh dan menguat kesadaran bahwa sejarah bangsa berpengaruh terhadap daya saing bangsa. Sebuah bangsa yang melupakan sejarah bangsanya memiliki daya saing rendah, demikian sebaliknya. Ketika Amerika Serikat menyaksikan pesawat luar angkasa Sputnik milik Rusia diluncurkan, kemunduran dan keterpurukan prestasi akademik siswanya bidang matematika, sains dan bahasa, jauh lebih rendah dibanding prestasi akademik yang dicapai siswa Asia.

Pemerintah Amerika Serikat memandang negerinya dalam keadaan bahaya atau “Nation at Risk”. Berkumpul para ilmuan guna mencari jawabannya. Ditemukan ternyata penyebab dari lemahnya daya saing bangsanya adalah akibat melemahnya rasa kebanggaan warga negara dan para pelajar terhadap bangsanya. Solusinya, bukan upaya memperbaiki proses pembelajaran bidang studi tersebut, melainkan menambah dan mewajibkan siswanya untuk mempelajari sejarah bangsanya.

Pelajaran terpenting ketika kita ingin menghargai pahlawan tidaklah sekedar memperkenalkan fakta dan data saja, melainkan yang terpenting adalah interpretasi  terhadap fakta dan data tersebut.

Kenyataannya, bangsa ini belum peduli terhadap penting interpretasi sejarah, lebih khusus sejarah para pahlawannya.  
Sekalipun sedikit diajarkan pelajaran sejarah para pahlawan, masih terbatas mengajarkan sejarah para pahlawan kalah dan kurang sekali mengajarkan para pahlawan menang, padahal diantara keduanya memiliki strategi perjuangan berbeda. Pahlawan menang menggunakan otak sebagai strategi perjuangannya, sementara pahlawan kalah menggunakan otot.

Bukti lain, penghargaan kita terhadap para pahlawan, baru sebatas memperingati dan mengenang secara serimonial peristiwa kepahlawanan itu setahun sekali, yakni setiap 10 Nopember,  mengabadikan nama para pahlawan sebagai nama jalan, tugu, gedung, universitas, memberi sedikit penghasilan kepada para pejuang atau veteran dan sebagainya.

Menurut Gunawan Muhammad, hanya di negeri ini, nama pahlawan diabadikan menjadi nama universitas atau perguruan tinggi, mislnya Universitas Gajah Mada , Universitas Hasanudin di Makasar, Universitas Diponegoro di Semarang, Universitas Tanjungpura di Pontianak, dan masih banyak yang lainnya.

Penggunaan nama pahlawan pada setiap universitas hanya sebatas nama saja tanpa peduli hakikat dari penggunaan nama para pahlawan itu. Semestinya nilai-nilai kejuangan dan pengorbanannya kurang diajarkan kepada peserta didiknya, Jangankan nilai perjuangan dan pengorbanan untuk diajarkan, siapa sesungguhya pahlawan tersebut pun tidak diperkenalakan secara utuh dan jelas. Penulis memiliki keyakinan, banyak mahasiswa dan alumni Universitas Tanjungpura (Untan) yang tidak dan belum mengetahui dan mengenal siapa sesungguhnya Tanjungpurna itu, demikian pula mahasiswa dan alumni dari sebuah universitas lain yang menggunakan nama pahlawan. Kalau demikian hal, apa maksud dan makna dari penggunaan nama pahlawan tersebut.

Terpenting dari setiap kali kita memperingati hari pahlawan adalah instrospeksi diri bangsa ini, sejauhmana internalisasi nilai kejuangan dan pengorbanan para pahlawan kita amalkan dan lestarikan dalam kehidupan ini, baik secara pribadi maupun sebagai warga dari sebuah bangsa, misalnya  menjadikan sejarah para pahlawan ini sebagai muatan lokal yang terintegrasi ke dalam berbagaai mata pelajaran di sekolah dan di perguruan tinggi.

Penulis merasakan sendiri sulitnya menginternalisasikan dan/atau mengajarkan nilai kejuangan para pahlawan tersebut akibat kurang dukungan dari masyarakat, terutama kurangnya dukungan dari pemerintah. Penulis salah seorang yang ikut mempersiapkan lahirnya peraturan daerah (perda) hari bergabung daerah Kalbar untuk  mengingat  korban kekejaman Jepang di daerah ini yang lebih dikenal sebagai “Peristiwa Mandor”. Sudah sejak lama penulis usulkan agar peristiwa tersebut menjadi muatan lokal yang wajib diajarkan di sekolah, namun kenyataannya sampai hari ini keinginan tersebut hanya menjadi wacana yang belum juga terwujudkan.

Pengalaman lain membuktikan kurang dan lemahnya kesadaran pemerintah terhadap sejarah perjuangan para pahlawan. Pada saat Kapolri menugaskan penulis  mempelajari “Perpolisan Masyarakat (Polmas) di Jepang. Satu agenda, Kami diundang oleh kedutaan Indonesia di Jepang mendiskusikan berbagai hal. Ketika itu penulis menanyakan langsung kepada duta besar tentang kekejaman Jepang di Kalimantan Barat “Mandor” Indonesia. Ternyata, seorang duta besar yang bertugas di negera yang pernah menjajah Indonesia tidak mengetahui adanya peristiwa yang sangat kejam itu yang bagi kita rakyat Kalbar adalah sebuah peristiwa memutusan mata rantai generasi. Banyak orang mengatakan speristiwa kekejaman Jepang yang sebagian korbannya terkubur di Mandor itu memiliki kontribusi besar terhadap kemunduran daerah ini di banding daerah-daerah lain di Indonesia.

Jika sudah demikian kenyataannya, penulis menjadi tidak percaya bahwa kita dan bangsa ini menghargai dan menghormati pahlasan, penghargaan kita baru sebatas retorika dan serimonial belaka, dalam konteks kepahlawanan, bangsa ini adalah bangsa kerdil, bukan bangsa besar sebagaimana ditegaskan oleh Bung Karno dan ahli sejarah lainnya  (Penulis,Dosen FKIP Untan dan Direktur The Aswandi Foundation)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Pemimpin Bersama Guru

Pidato Pelantikan Pemimpin

Berguru Kepada Orang Gila

Memilih Kepala Daerah

Bergerak Bersama Membangun Bangsa