Mengajar dengan pedekatan resiprokal

Leo Sutrisno

Kurikulum 2013 telah dibatasi penerapannya untuk sementara waktu. Diputuskan,  sebagian besar sekolah di seluruh Indonesia, kembali ke KTSP 2006. Sementara itu, pemerintah akan memperbaiki model pelatihan guru  agar mampu menerapkan kurikulum dengan optimal. Namun hingga kini, bentuk pelatihan model Menteri Anis Bawesdan ini belum tersosialisasikan. Demikian juga, materi pelatihannya. Tulisan ini menyajikan suatu pendekatan mengajar yang mungkin dapat dipertimbangkan menjadi salah satu materi pelatihan.

John Hattie (2009)  merangkum lebih dari 800 meta analisis penelitian tentang berbagai faktor yang mempengaruhi hasil belajar. Ditemukan 138 faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa.  Ke-138 faktor ini dapat dikelompokkan ke dalam enam kategori, yaitu: pengajaran, kurikulum, guru, siswa, lingkungan rumah dan lingkungan sekolah. Kelompok yang paling besar pengaruhnya (dinyatakan dalam Effect size) adalah faktor pengajaran. Faktor-faktor yang berada dalam cakupan  pengajaran terdiri atas 36 model pengajaran. Di antaranya adalah model pengajaran resiprocal teaching yang pengaruhnya  pada hasil belajar paling  tinggi (0.74) di antara model-model yang lain.

.           Joan Baker dan Lisa M. Emerson (2014) menyebutkan bahwa pengajaran dengan pedekatan resiprokal  merupakan pendekatan multi-strategi yang terdiri dari strategi: membuat prediksi, melakukan klarifikasi, mengajukan pertanyaan dan membuat kesimpulan. Dikatakan juga bahwa pedekatan resiprokal ini sangat efektif untuk meningkatkan pamahaman pembaca tentang isi dari suatu sajian yang dibacanya. Selain itu, pembaca menjadi lebih aktif, lebih reflektif dan lebih strategik. Dampak lain yang juga menonjol dari pengajaran dengan pendekatan resiprokal adalah metakognisi siswa memperoleh fasilitas latihan yang memadai untuk berkmbang.

            Tan Ooi Leng Choo dari Penang Methodist Boys’ School, Tan Kok Eng dari Universiti Sains Malaysia, dan Norlida Ahmad dari Universiti Sains Malaysia (2011) menyebutkan bahwa pendekatan resiprokal ini didasarkan pada anggapan bahwa pengetahuan yang bermakna bagi seseorang itu merupakan hasil proses sosialisasi tentang cara yang tepat untuk mengajukan suatu gagasan serta cara bernegosiasi  gagasannya dengan gagasan-gagasan yang lain. Perspektif pendekatan resiprokal mengadopsi tradisi konstruktivisme baik konstruktivisme kognitif maupun konstruktivisme sosial. Seorang pembaca dapat menemukan makna suatu sajian yang dibacanya jika yang bersangkutan selama membaca  juga mengkonstruksi pesan yang diterimanya.


          Dalam menggarap disertasinya, (2007),  Israel A. Sarasti dari Universitas North Texas, AS menggunakan pendekatan resiprokal untuk meningkatkan pemahaman siswa kelas tiga SD dari suatu sajian berbentuk bacaan. Dalam percobaannya ia mengembangkan sejumlah pertanyaan yang terkait dengan keempat strategi yang ada di dalam pendekatan resiprokal. yaitu: predicting, questioning, clarifying dan summarizing yang harus diajukan guru selama para siswa membaca suatu sajian bacaan. Misalnya: perkiraanmu, bagian berikut ini tentang apa (predicting); apa isi dari sajian ini? (questioning), apa arti ‘ini’? (clarifying), dan apa gagasan utama dari bagian ini? (summarizing).

Berikut disajikan sebuah contoh model ‘Lesson Plan’ dengan resiprocal teaching’

Bahan bacaan

Dalam suratkabar KOMPAS tgl. 6 Mei yang lalu, halaman 9, perhatian kami tertarik oleh sebuah foto yang memperlihatkan sebuah monumen yang baru-baru ini didirikan di Sorong, Irian Jaya. Adapun monumen tersebut menggambarkan semacam ’Lingga Joni’ kontemporer, dan menurut keterangan dibangun oleh Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia dalam rangka kerja sama dengan RSU Sorong. Maksudnya sebagai peringatan atas suksesnya operasi pemandulan yang ke-100 di rumahsakit tersebut.

            Kita bangsa Indonesia sering membanggakan diri atas rasa ketimuran yang halus, atas kesopanan yang kita junjung tinggi. Tetapi didirikannya monumen serupa itu sama sekali tidak sesuai dengan rasa ketimuran, apa lagi dengan sopan santun umum.

            Gejala serupa ini memperkuat kesan kami, bahwa ‘rasa ketimuran’ hanya suatu slogan belaka yang kita kecapkan di muka orang-orang asing, tetapi dalam lingkungan bangsa kita sendiri kita injak-injak dengan seenak-enaknya.

            Prosedur:

1.    Bahan bacaan diperbanyak dan dibagikan kepada setiap siswa

     Siswa diminta membaca paragraf per paragraf bersama-sama.

2.   Setiap satu paragraf berhenti untuk disisipi ‘pertanyaan-pertanyaan resiprocal strategy seperti contoh berikut ini.

a.     Klarifikasi (untuk memperjelas)

Apa yang dimaksud dengan kata ‘monumen’? ada kata-akata lain yang juga perlu ditanyakan artinya kepada para siswa, misal: lingga joni, konteporer, Sorong dsb)

b.     Visualiasi

Apa yang engkau bayangkan setelah membaca paragraf ini? Guru meminta satu kali membaca paragraf itu dan memberi stabilo atau garis bawah pargraf itu semabri membaca. Kemudian mereka diminta untuk menutup bacaan itu dan selanjutnya mengulang kembali apa yang telah dibaca).

c.     Menanyakan (questioning)

·         Apa yang diceritakan di paragraf ini?

·         Pesan apa yang engkau peroleh dari paragraf ini?

d.     Menyimpulkan

·         Sebutkan  (dalam satu kalimat) isi paragraf ini!

e.     Membuat dugaan (predicting)

·         Menurutmu, kira-kira apa isi paragraf berikutnya? 

3.     Langkah seperti ini diulang kembali pada saat membaca paragraf yang berikutnya (paragraf kedua).

4.     Pada paragraf yang ketiga siswa di dorong agar melakukan langkah-langkah seperti  yang dilakukan guru dan siswa ketika membaca paragraf pertama  dan kedua secara berpasangan  dengan temannya.

5.     Guru bersama murid, mengakhiri kegiatan ini dengan membuat ringkasan tentang isi dari ketiga paragraf itu serta menarik pesan pembelajaran yang mereka peroleh. 

Mengingat dampaknya yang bergitu kuat ini, kiranya penggunaan pendekatan resiprokal dalam pengajaran  dapat dipikirkan untuk menjadi salah satu materi dari pelatihan guru yang akan diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Nasional.Semoga!