Menerima dan Bangkit dari Kekalahan

Opini Ilmiah


Selasa, 15 Desember 2015 - 13:49:15 WIB | dibaca: 426 pembaca


Oleh: Aswandi
 
MEMILIH pemimpin melalui pilkada serentak baru saja selesai dilaksanakan. Dalam waktu tidak lama lagi, KPU secara resmi menetapkan pemenangnya. Menang atau kalah harus diterima dengan lapang dada sebagai sebuah pertanggungjawaban mengikuti pilkada. Pemenang jangan merasa telah  mengalahkan, dan sebaliknya yang kalah jangan merasa dikalahkan.
Mencari kesalahan pemenang hanya membuang energi dan sumber daya yang tidak jelas manfaat dan hasilnya, lebih baik belajar dari kekalahan dan kegagalan itu karena pasti ada yang salah atau keliru dilakukan selama ini.

Sejarah mencatat, tidak sedikit pemimpin besar dan pemimpin sejati yang sangat dihormati oleh para pemimpin di dunia ini adalah pemimpin yang sering mengalami kekalahan dalam proses pemilihan, tetapi mereka cerdas menerima kekalahan itu sehingga mereka dihormati umat manusia, seperti presiden Abraham Lincoln mengalami setidaknya 16 (enam belas) kali kekalahan sebelum berhasil menjadi presiden Amerika ke-16 dan Sun Yat Sen mengalami sedikitnya 10 (sepuluh) kali kekalahan sebelum ditetapkan menjadi pemimpin Cina modern yang sangat dihormati dan disegani dunia.

Bagi pemenang, syukurilah nikmat terpilih atau dipercaya menjadi pemimpin ini dalam bentuk kerja keras melaksanakan amanah yang telah diberikan para pemilih. Dan jangan menyibukkan diri terlalu lama untuk urusan selamatan, syukuran, dan pesta merayakan kemenangan.
Allah SWT mengingatkan “Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui, (QS. Al-Baqarah:216)

Orang bijak berkata, “Hadiah terbaik tidak selalu terbungkus indah dan rapi. Kadang Tuhan membungkusnya dengan masalah, kegagalan dan kekalahan, tetapi di dalamnya pasti ada berokah, terutama bagi mereka yang ikhlas menerimanya”.

Tidak jarang keberhasilan sebagai sumber kebesaran sekaligus sumber kehancuran seseorang. Oleh karena itu ingatlah selalu, menjadi pemimpin adalah untuk melayani dan menjalankan amanah yang telah diberikan oleh Allah SWT.

Pembelajaran bermakna dari setiap kali memililih pemimpin, bahwa menang atau kalah dapat dikembalikan pada dua hal, yakni (1) persatuan dan (2) perjuangan.

Kekalahan selalu terjadi karena lemahnya persatuan atau persatuan semu  terbungkus kemunafikan, di sana banyak dusta diantara mereka. Selain persatuan, strategi perjuangan sangat menentukan sebuah kemenangan dan ia dari waktu ke waktu  membutuhkan penyempurnaan atau tidak boleh stagnan. Jadi, Jika ingin menang, maka harus bersatu dan berjuang disertai pengorbanan, sebaliknya jika tidak bersatu dan berjuang,  berbuah kekalahan. Tentu saja, semua itu atas izin Allah SWT karena Ia pemilik kekuasaan, demikian QS. Al-Imran:26.

Paul G. Stoltz (2000) dalam bukunya “Adversity Quotient” mengemukakan beberapa variabel yang dapat digunakan untuk menjelaskan kualitas cerdas tidaknya calon pemimpin menerima kekalahannya, yakni; (1) kendali diri (self control) atau sabar (2) asal usul dan pengakuan (origin and ownership), mengembalikan asal kegagalan tersebut kepada diri sendiri, tidak menyalahkan orang lain; (3) jangkauan atau rembesan (reach), artinya gagal saat pilkada bukan berarti gagal segalanya dan (4) daya tahan (endurance), artinya kekagagal bukanlah takdir, melainkan bersifat sementara atau tertunda, sebagaimana Abraham Linclon dan Sun Yat Sen.

Beberapa langkah yang harus dilakukan oleh seorang calon pemimpin yang memiliki kecerdasan tinggi menerima kekalahan, yakni (1) mau mendengar (listening) apa saja informasi yang berkaitan dengan kekalahannya, setelah itu (2) melakukan eksplorasi terhadap informasi yang diperolehnya. Kemudian informasi tersebut (3) dianalisis secara cermat guna mengetahui penyebab kekalahannya dan setelah memperoleh kesimpulan dan rekomendasi dari hasil analisis terhadap kekalahannya itu, langkah terakhir yang tidak kalah pentingnya adalah (4) melakukan tindakan nyata dan bermanfaat bagi konstituen dan masyarakat pada umumnya.

Tidak terpilih menjadi pemimpin sama arti tidak mendapat kepercayaan karena landasan utama kepemimpinan itu adalah kepercayaan, tidak lebih tidak kurang.

Abraham Linclon seorang presiden AS yang sangat dihormati dan disegani oleh banyak pemimpin di dunia ini mengingatkan, “Apabila seseorang sudah tidak dipercaya, sekalipun ia mengatakan telah bertaubat dan menyampaikan permohonan maaf dengan retorika yang hebat dan menarik sekalipun, orang tetap saja tidak percaya kepadanya. Oleh karena itu, mumpung dipercaya, jagalah kepercayaan itu sebaik-baiknya.

Namun ada pendapat menyatakan bahwa kepercayaan itu dapat dibangun  atau dipulihkan kembali, Sekalipun kepercayaan telah benar-benar rusak, pakar kepemimpinan menaruh keyakinan yang sangat tinggi bahwa kepercayaan yang telah rusak itu dapat dipulihkan kembali, namun proses pemulihannya memerlukan waktu dan menuntut kesabaran tinggi.

Stephen M.R. Covey (2010) (2010) dalam bukunya “The Speed of Trust” menegaskan bahwa kepercayaan dapat dan dengan cepat dapat dibangun atau dipulihkan kembali melalui 5 (lima) gelombang kepercayaan, yakni; (1) kepercayaan diri; berintikan integritas, niat, kemampuan dan hasil. Ia mengalir dari dalam ke luar dan mempengaruhi semua dimensi kehidupan. Kardinal de Retz menegaskan “Seseorang yang tidak mempercayai dirinya tidak akan pernah benar-benar mempercayai orang lain”; (2) kepercayaan dalam hubungan; Kepercayaan dalam hubungan, berkaitan dengan perilaku yang konsisten, yakni; (a) berbicara apa adanya dengan menggunakan bahasa sederhana; (b) menunjukkan rasa hormat karena akhirnya yang menciptakan kepercayaan adalah wujud penghormatan pemimpin terhadap pengikutnya, oleh karena itu menjadi pemimpin jangan sombong; (c) menciptakan transparansi, sikap tulus, terbuka, autentik dan jujur; (d) memperbaiki kesalahan dan segera minta maaf; (e) menunjukkan loyalitas, bukan mengobral kepintaran; (f) memberikan hasil; (g) berusaha menjadi lebih baik atau menjadi pemenang untuk tidak disebut kalah; (h) menghadapi kenyataan karena tanggung jawab pertama seorang pemimpin adalah mendefinisikan realitas; (i) memperjelas harapan karena hampir semua konflik akibat harapan yang dilanggar; (j) proaktif mengambil tanggung jawab bukan menghindarinya; (k) mendengarkan lebih dahulu, jangan dibalik; (m) memenuhi komitmen, membela kebenaran dan mengalahkan kebohongan; dan (n) terus belajar memberi kepercayaan; (3) kepercayaan dalam organisasi berintikan keselarasan berkaitan dengan reputasi; (4) kepercayaan pasar; dan (5) kepercayaan masyarakat terhadap pemimpin yang tadinya sempat rusak dapat dipulihkan kembali (Penulis, Dosen FKIP Untan).


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Memilih Pemimpin

Revitalisasi Pendidikan Guru

Agama Tidak Diajarkan

Bukan Kelas Dua

IPK; Mitos atau Realitas