Mendidik dengan Cinta

Opini Ilmiah


Senin, 07 April 2014 - 11:30:02 WIB | dibaca: 709 pembaca



Oleh: Aswandi

SELALU dikeluhkan, jumlah guru masih kurang, namun pemerintah pusat mengatakan justru sebaliknya, yakni jumlah guru di Indonesia sudah cukup. Permasalahan guru pada distribusi atau penyebaran yang belum merata, mismatch dan kurang kompeten atau kurang layak untuk melaksanakan tugas mengajar, apalagi mendidik. Sepengetahuan penulis, pemerintah pusat sangat serius menjawab semua permasalahan guru di negeri ini, terutama membenahi lembaga pendidikan guru.

Penulis sangat apresiatif terhadap usaha pemerintah membenahi pendidikan guru didasarkan pada suatu keyakinan bahwa guru adalah faktor utama mempengaruhi pendidikan bermutu, beradab dan bermartabat. Karena hanya melalui sentuhan tangan dan hati seorang guru beradab dan bermartabat dapat melahirkan banyak murid yang sukses. Oleh karena itu,  kita jangan mau hanya disibukkan sebatas pada persoalan jumlah guru yang kurang, melainkan juga harus peduli terhadap rendahnya kompetensi kepribadian dan pedagogik guru sekarang ini, faktanya masih banyaknya guru yang kurang mencintai pekerjaannya terlihat dari rendahnya abstraksi dan komitmennya dalam menjalankan tugas utama sebagai guru, dan kurang mencintai muridnya. Dua kompetensi tersebut jauh lebih penting dalam melahirkan generasi sukses dan terhormat.Orang bijak berkata, ”Bekali anakmu dengan pengetahuan agar ia menjadi kuat, dan perhatikan karaktek mereka, karena karakter yang baik, menjadikan ia terhormat”.

Keterbatasan ruang opini, penulis kutip hanya beberapa kisah manusia sukses yang dilahir dari tangan seorang guru penuh cinta, yakni sebagai berikut.

Helen Keller, seorang perempuan buta, bisu, dan tuli dari sejak berusia 17 bulan, namun sejak berusia 10 tahun dia telah masyhur ke seluruh dunia. Pada tahun 1900 dia tercatat menjadi mahasiswa buta-tuli pertama yang diterima di Radcliffe College, dan menjadi seorang perempuan yang mengguncangkan dunia. Ia telah menyelesaikan pendidikan tinggi dengan predikat pujian, dan sepanjang hidupnya diabdikannya untuk tugas kemanusiaan, terutama menolong penyandang buta.

Helen Keller mengatakan, “Hanya cinta yang kuasa meruntuhkan dinding yang memisahkan kita dan kebahagiaan. Yang terbaik dan terindah dalam hidup ini tidak bisa dilihat dan diraba, tetapi harus dirasakan dengan hati penuh cinta.

Dibalik keberhasilan perempuan buta-tuli tersebut, ada seorang perempuan bernama Anne Sullivan, seorang yang mengasuh dan mendidiknya dengan penuh kesabaran dan cinta kasih. Sullivan berkata, “Dengan cinta kamu akan merasakan keindahan yang diberikan pada segala sesuatu, dan tanpa cinta kamu tidak akan merasa bahagia”. Keller memberi kesaksian, “Hari paling penting yang kuingat sepanjang hidupku adalah hati ketika guruku Anne Sullivan datang menemuiku. Melalui bibir guru yang selalu rapat di pipinya, dan jari jemarinya telah mengajariku bisa membaca”. Kepada kita yang hidup normal ini, ia berpesan agar memperhatikan 4 hal penting dalam hidup ini; berpikir tenang, mencintai dengan tulus, melakukan sesuatu dengan niat mulia, dan mempercayai Tuhan tanpa keraguan.

Bukti lain dari mendidik dengan cinta sebagaimana dialami oleh seorang gadis kecil ubnormal dan sangat agresif bernama Shella. Perilaku agresif hingga melukai gurunya dan menyisakan bekas akibat kekerasan Shella pada ibu gurunya, sekalipun demikian perilaku muridnya Ibu gurunya Horey Hayden selalu setia mendidik dan mengasuhnya dengan cinta hingga akhirnya Shella berangsur-angsur menjadi anak normal. Singkat cerita setelah dewasa Shella tercatat menjadi seorang perempuan sukses di dunia ini. Di balik kesuksesan anak manusia yang awalnya tidak normal itu adalah dampak dari sentuhan cinta dari seorang guru bernama Torey Hayden.   

Bukti terakhir disampaikan bapak Mohammad Nuh (2013) dalam bukunya “Menyemai Kreator Peradaban”, menceritakan bahwa seorang professor meneliti sebuah kampung yang sangat kumuh. Ia punya hipotesis bahwa anak yang hidup di kawasan kumuh hampir tidak ada yang sukses, mereka akan menjadi sampah masyarakat. Masa depan mereka bakal terpuruk lantaran dibesarkan di lingkungan buruk. Saat dewasa, biasanya kebanyakan menikmati kehidupan di penjara, Setelah berjalan 25 tahun, sang professor sosiologi terkejut melihat hasil survei yang dilakukan bersama mahasiswanya itu. Hipotesisnya meleset, Kenyataannya, anak yang tumbuh di lingkungan kumuh tidak hidup sebagai kriminal dan pesakitan. Dari 190 orang yang ditelitinya itu, hanya 4 orang (2%) yang masuk penjara. Selebihnya hidup normal dan sukses di berbagai bidang.

Kemudian dilakukan penelitian ulang secara lebih mendalam, ternyata ada sebuah fenomena yangmembuat sang professor itu tersadar. Dia menduga pasti ada sosok dalam hidup mereka yang bisa mengubah asumsi umum itu. Dia kemudian mencari tahu siapa orang yang berhasil memberi inspirasi dalam hidup mereka. Hampir semua anak yang disurvei yang kini sudah dewasa itu sangat mengingat sosok seorang guru SMP mereka, bernama Bu Chysan. Sang profesor penasaran dan mendatangi Bu Chysan itu. Ia menanyakan apa rahasianya hingga Bu Chysan bisa membawa perubahan hidup yang luar biasa bagi murid-muridnya, dan anak-anak lingkungan kumuh itu. Sosok tua yang sangat sederhana itu terdiam lama. Dengan senyum mengembang, iapun menjawab, “Yang saya tahu, saya hanya mendidik mereka dengan cinta dan saya sangat mencintai mereka.

Semua murid sukses, pernah disentuh oleh tangan seorang guru penuh barokah, dipeluk hatinya oleh seorang guru penuh cinta, bahkan penulis menemui ada diantara murid sukses jatuh sakit karena merasa tidak tahan berpisah lama dengan gurunya.

William Sears (2004) dalam bukunya berjudul “Anak Cerdas” menunjukkan berbagai studi bahwa sukses seorang anak ditentukan oleh keterkaitan hatinya pada seorang guru inspiratif penuh cinta. Anak-anak yang terkait lebih mampu mengarungi gelombang kesulitan dari pada anak yang kurang terkait. Kunci keberhasilan setelah dewasa meskipun terdapat kesulitan di masa anak-anak adalah karena adanya paling tidak satu orang dalam kehidupan anak tersebut yang memberi dukungan emosional yang teratur dan yang mempunyai pengaruh positif terhadap perkembangan anak tersebut. Dalam studi tersebut diungkap bahwa individu yang mencapai keberhasilan, meskipun berkembang dikelilingi oleh kesulitan, telah menciptakan suatu ikatan yang paling erat paling tidak dengan seorang yang merawatnya di masa anak-anak. Para peneliti juga menemukan anak korban salah asuh orang tua mereka dapat diselamatkan karena kehadiran orang lain dalam kehidupannya, seperti kakek-nenek, family, dan orang lain. Selama beberapa decade pada peneliti keterikatan menemukan bahwa interaksi sejak dini dengan pengasuh meninggalkan kesan abadi pada perkembangan otak bayi dan anak, suatu proses yang dikenal sebagai pencetakan. Hal ini mengingatkan kepada semua orang tua dan pendidik akan pentinnya pendidikan sejak dini dengan cinta karena akan berdampak besar pada proses tumbuh kembang berikutnya hingga mereka menjadi orang dewasa yang sukses (Penulis, Dosen FKIP Untan, Direktur The Aswandi Foundation)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Edaran Dirjen Dikti no.177/2014 tentang Usulan Kenaikan Pangkat/Jabatan Dosen

Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (MAWAPRES 2014)

Rekapitulasi Administrasi Ujian Skripsi

Biodata Sarjana Baru

Pendaftaran wisuda III tahun ajaran 2013/2014