Mencegah Penyalahgunaan Narkotika

Opini Ilmiah


Senin, 06 April 2015 - 08:54:06 WIB | dibaca: 1338 pembaca



Ilustrasi: Narkoba Pembunuh Generasi Bangsa

Oleh: Aswandi
 
THOMAS Lickona seorang pakar pendidikan karakter mengingatkan diantara tanda kehancuran sebuah bangsa adalah kerusakan moralitas generasi mudanya, seperti terjebak penyalahgunaan narkotika.
Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semisintesis yang menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan. Sementara prekursor narkotika adalah zat atau bahan pemula atau bahan kimia yang dapat digunakan dalam pembuatan narkotika.

Menurut para pakar, narkotika adalah zat atau obat yang tidak enak untuk dikonsumsi. Jika tercampur ke dalam makanan dan minuman, ia tidak merubah rasa, kecuali bagi mereka penderita sakit jiwa, mengalami depresi mental serius, seperti teralienasi (terasing dari dirinya) dan spit of personality (kepribadian yang terpecah) ditandai al: gelisah, resah dan tidak bahagia, mereka yang sedang sakit jiwa tersebut sangat menikmati zat dan obat yang mengandung narkotika.  

Untuk mengembalikan kesegaran tubuhnya dan kenikmatan jiwanya, mereka menyalahgunakan narkotika, jika tidak cepat direhabilitasi, maka mereka menjadi sangat tergantung kepada prekrusor dan narkotika tersebut dan sulit disembuhkan, menghabiskan banyak uang, dan menelan korban lainnya, bahkan ada yang menyayat-nyayat tubuhnya untuk mendapatkan darahnya yang telah tertular zat narkotika.

Jika ada diantara mereka telah menyalahgunakan narkotika, maka segeralah melapor ke pusat atau lembaga yang telah ditetapkan oleh pemerintah untuk menjalani rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial.
Pertanyaannya adalah apakah anak-anak kita sedang menderita sakit jiwa dimana kepribadiannya terpecah, gelisah, resah dan tidak bahagia dalam hidupnya sehingga dengan sangat mudah dan rentan terbius narkotika. Saya tidak menjamin putra-putri kita terbebaskan dari penyakit jiwa tersebut. Para psikolog sekarang ini menemukan banyak anak menderita penyakit jiwa dari studium rendah hingga tinggi, yakni “Kehilangan Harapan” dalam hidupnya. Ditemui banyak anak yang tidak punya mimpi tentang masa depannya. Barang kali karena mereka berasal dari kaum miskin dan tinggal nun jauh di sana. Oleh karena itu orang tua, guru dan kita semua sering-seringlah bertanya kepada mereka mengenai cita-citanya sampai mereka mengatakan memiliki cita-cita atau harapan dalam hidupnya.

Hasil penelitian Badan Narkotika Nasional (BNN) bekerja sama dengan Puslitkes UI tahun 2011, jumlah penyalah guna narkotika di Indonesia mencapai sekitar 4,2 juta orang atau 2,2% dari total penduduknya, bahkan BNN memprediksi pada tahun 2015 penyalah guna narkotika mengalami peningkatan menjadi sekitarb 5, 1 juta atau 5,1%.

Berdasarkan penjelasan di atas, dimana penyalahgunaan narkotika dari tahun ke tahun meningkat pesat, jika tidak ditangani secara sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab, maka fenomena tersebut mengindikasikan bangsa ini menuju kehancurannya. Oleh karena itu, pencegahan, pemberantasan, penyalahgunaan, dan peredaran gelap narkotika adalah tugas, tanggung jawab dan musuh kita bersama.

Mencegah penyalahgunaan narkotika lebih baik dari mengobati mereka yang telah menjadi korban penyalahgunaan narkotika. Baik pencegahan maupun penyembuhan tidak bisa dilakukan hanya dengan cara mengobati gejalanya, tanpa memahami akar atau persoalan yang menjadi penyebab utamanya, yakni; pikiran dan sikap mental berpenyakit. Misalnya, ketika Anda deman, oleh dokter diberi obat parasetamol dan segera diminum. Demamnya memang hilang, barangkali badan Anda terasa sedikit nyaman. Namun belum tentu obat tersebut mampu membunuh kuman atau bakteri yang menjadi penyebab utama deman tersebut.

Menurut penulis, pendekatan hukum tidak akan pernah efektif dalam mencegah penyalahgunaan narkotika. Test urine dilakukan, hasilnya positif berarti yang bersangkutan terindikasi mengkonsumsi narkotika, kemudian diambil tindakan hukum. Para gembong, apakah ia pemakai, maupun pengedar dihukum mati agar hukuman tersebut menjadi efek jera belum mampu menyelesaikan masalah atau masyarakat bebas dari penyalahgunaan narkotika. Si pelaku wajib mempertanggung jawabkan perbuatannya telah merusak moral bangsa ini. Mengapa demikian?. Ahli hukum dan moral mengatakan, “Di Atas Hukum Ada Etik”. Berperilaku baik karena alasan mematuhi dan/atau takut dihukum menunjukkan seseorang rendah moralnya. Sedangkan berperilaku baik karena alasan berbuat baik adalah kebutuhan hidupnya, mereka lapar dan haus jika belum berperilaku baik, itu tandanya seseorang memiliki moralitas tinggi.

Berdasarkan perjelasan di atas, dimana akar persoalan penyalahgunaan narkotika berakar pada pikiran dan sikap mental, maka penulis berkeyakinan bahwa mencegah penyalahgunaan narkotika dan prekursor narkotika, akan efektif dan efisien jika dilakukan melalui lembaga pendidikan, baik informal, formal, maupun nonformal. Terlebih lagi, anak di usia pelajar, SD, SLTP dan SLTA sering kali mengalami krisisi indentitas dan masa adolesensi atau bergejolak.

UU RI No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, pasal 60 (2c) menyebutkan, “upaya mencegah generasi muda dan anak usia sekolah dalam penyalahgunaan narkotika, termasuk dengan memasukkan pendidikan yang berkaitan dengan narkotika dalam kurikulum sekolah dasar sampai lanjutan atas”.
Anies Baswedan selaku Mendikbud mengatakan “fokus kebijakan pendidikan diarahkan pada penguatan perilaku yang mandiri dan berkepribadian”.

Para psikolog berkumpul di Fransisco University membahas satu tema “Mengapa Merubah Kebiasaan Buruk itu Sulit”. Pertemuan tersebut menghasilkan sebuah rekomendasi, memuat tiga unsur penting dalam pembentukan perilaku baik, yakni: (1) komitmen, janji dan niat; akan lebih baik jika komitmen tersebut dituliskan, dan setiap waktu diucapkan dan pemasangan pin, “Saya Anti Narkotika”. Jika perlu pembentukan satgas anti narkoba di setiap sekolah atau unit kerja; (2) modifikasi lingkungan; Berkali-kali bapak Mendikbud Anies Baswedan berpesan agar sekolah menjadi sebuah taman, dimana peserta didik berangkat ke sekolah dengan senang hati dan pulang dengan berat hati. Membangun kultur sekolah sebagai taman yang nyaman dan menyenangkan dimana komunikasi antara guru dengan siswanya berjalan efektif, menciptakan strategi pembelajaran dialogis agar setiap siswa memahami alasan mengapa mereka harus bebas dan anti narkotika, lakukan sayembara karya seni dan karya sastra di kalangan pelajar dan generasi muda bertema “Anti dan Bebas Narkotika” sebagaimana penulis saksikan di Jepang; dan (3) monitoring dan evaluasi (Monev) perubahan perilaku yang diinginkan/direncanakan. Akan lebih efektif, jika monev tersebut dilakukan secara formatif, yakni; setiap hari guru mencatat segala permasalahan dan penyimpangan perilaku (mis behavior) siswanya, kemudian setiap minggu atau setiap dua minggu atau setiap satu bulan sekali penyimpangan perilaku siswa tersebut dibahas bersama-sama guru, dipimpin oleh kepala sekolah untuk dicarikan solusinya. Semakin cepat monev itu dilakukan, maka akan semakin baik perilaku seseorang. Secara jujur harus diakui, selama ini kita telah lalai melakukan monev perubahan perilaku sehingga kenakalan dan kebodohan peserta didik itu terjadi (Penulis, Dosen FKIP Untan)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Akreditasi Pilar Mutu Pendidikan

Konvergensi Ilmu Pengetahuan

Mahasiswa Pelanggan Utama

Memutus Mata Rantai Kekerasan

Perkuliahan Bermakna