Memutus Mata Rantai Kekerasan

Opini Ilmiah


Senin, 09 Maret 2015 - 10:17:18 WIB | dibaca: 1008 pembaca



Oleh: Aswandi
 
DARI hari ke hari, kekerasan semakin marak terjadi, dilakukan oleh para remaja generasi penerus. Fenomena tidak nyaman dan mengancam kehidupan ini membuat bapak Jusuf Kalla dan kita semua prihatin. Beliau secara khusus meminta Kemendikbud segera mempelajari dan meneliti guna mengetahui akar permasalahan kekerasan tersebut agar tidak terulang kembali di kemudian hari.

Bapak wakil presiden RI benar, menghentikan atau menghapuskan kekerasan harus diawali dari memahami akar kekerasan yang sangat kompleks dan sulit dipahami. Sigmant Freud mengatakan bahwa “hasrat merusak atau mematikan sama kuatnya dengan hasrat mencintai”, dikutip dari Erich Fromm (2000) dalam bukunya “Akar Kekerasan”. Contoh lain, mendidik melalui “Memanjakan (Spoil)” seringkali dimakna sebagai bentuk mencurahkan kasih sayang orang tua kepada anaknya yang sangat diperlukan dalam tumbuh kembang anak, jika salah melakukannya justru berdampak sebaliknya, sebagian besar berbuah merusah secara permanen kepribadian anaknya. Oleh karena itu, menghapus kekerasan di muka bumi ini tidak cukup hanya memahami dan mengatasi gejala yang muncul di permukaannya saja dan kemudian menghukum pelakunya, melainkan harus dipahami hingga ke akar-akarnya dari berbagai prespektif, seperti; sosio-ekonomi, psikologi, budaya,  hukum, dan watak atau kepribadian manusia. Mahatma Ghandi mengatakan kekerasan atau perilaku agresif lainnya hanya bisa dihapuskan apabila kita tahu akar penyebabnya, kemudian mau dan berani  menghadapi, memutuskan mata rantai yang mendorong kekerasan itu terjadi. Jika tidak, maka kekerasan lain akan terjadi, dan akhirnya dunia akan jatuh ke dalam spiral kekerasan (Carmara, 2000).

Banyak faktor penyebab yang menjadi akar tindak kekerasan, baik kekerasan anak, remaja maupun orang dewasa dan berbagai upaya memutus mata rantai kekerasan itu, diantaranya:
PERTAMA, Neil Postman (2009) dalam bukunya “The Dissapearance of Chilhood” menegaskan bahwa kekerasan anak terjadi akibat anak yang telah kehilangan atau mengalami krisis identitas. Konsep tentang siapa anak itu sudah semakin tidak jelas. Konsep anak dan orang dewasa susah dibedakan.  Demikian  pula, kesenangan, permainan, lagu, pakaian dan lainnya juga susah dibedakan dari orang dewasa. Anak tidak sekedar menyandang predikat korban kekerasan, melainkan tidak sedikit anak berstatus sebagai pelaku kekerasan. Pembeda anak dan orang dewasa secara tegas hanya terbaca pada perundang-undangan, dimana anak dikelompokkan ke dalam usia maksimal 18 tahun. Apakah karakteristik seorang anak hanya dipandang dari usia saja?.    

Kesalahan terbesar dalam praktek pengasuhan dan pendidikan anak selama ini adalah memperlakuan anak sebagai orang dewasa dalam bentuk kecil sehingga banyak anak kehilangan masa kanak-kanaknya. Selama kita tidak mengusahakan untuk memahami konsep anak dan memperlakukan mereka secara benar, maka akan sulit memutuskan mata rantai kekerasan. Penulis mengamati pemahaman dan perlakuan masyarakat terhadap anak saat ini pada umumnya keliru dan merusak. Oleh karena itu, diharapkan agar kita proaktif untuk memperbaiki kekeliruan dan kerusakan tersebut.

KEDUA, Martin Seligman mengatakan, “Ketidakberdayaan itu akibat dari proses yang dipelajarinya”. Barbara Coloroso (2007) dalam bukunya “Stop Bullying” mengatakan hal yang sama, bahwa penindasan adalah perilaku yang dipelajari dan tentu saja dapat diselidiki dan kemudian dapat diubah”. Les Parsons (2009) dalam bukunya “Bullied Teacher Bullied Student” menyatakan bahwa baik siswa, guru, kepala sekolah, sekolah, masyarakat berada diantara terintimidasi dan/atau mengintimidasi.  

Penjelasan di atas mengindikasikan bahwa dalam banyak kasus, pelaku kekerasan, baik pada anak, pada remaja maupun pada orang dewasa adalah mereka yang sebelumnya adalah korban kekerasan. Berdasarkan asumsi di atas,  Nelson Mandela memiliki suatu keyakinan bahwa korban kekerasan harus dibina dengan baik, jika tidak, maka dihari-hari berikutnya tidak mustahil mereka akan menjadi pelaku kekerasan. Oleh karena itu, agar kekerasan tidak diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, maka mereka yang dulu menjadi korban kekerasan, baik bersifat individu maupun kelompok/negara mau dan bersedia memberi pengampunan (rekonsiliasi). Memberi pengampunan atau memberi maaf mudah diucapkan, tetapi sulit dilakukan, kecuali mereka manusia pilihan Tuhan, Allah SWT.
Barbara Coloroso mengatakan mata rantai kekerasan dapat dihapuskan melalui  penciptaan rumah, sekolah, dan masyarakat sebagai lingkungan (komunitas) kepedulian yang ramah, baik terhadap korban, pelaku, maupun penonton tindak kekerasan.

KETIGA, Media sosial, seperti televisi dan yang lainnya memberikan dampak atau pengaruh sangat signifikan (300%) terhadap perilaku negatif anak. Upaya memutuskan mata rantai kekerasan, khususnya kekerasan anak, maka sebaiknya menonton televisi dan menggunakan produk IT lainnya sebagaimana menggunakan resep obat, yakni digunakan sesuai peruntukannya, akan berbahaya bagi keselamatan manusia jika digunakan secara berlebihan. Fred Rogers salah seorang entertainment dunia mengatakan; “televisi adalah satu-satunya peralatan elektronik yang lebih bermanfaat justru setelah dimatikan”, Dan kita tidak boleh menyalahkan pada teknologi dan penyedia televisi, semestinya yang harus disalahkan adalah dosa para penggunanya.

EMPAT, Khusus kekerasan anak terhadap orang tuanya diteliti secara mendalam oleh para pakar, seperti Corneau (2003) dalam bukunya “Absent Fathers, Lost Sons” mengungkapkan bahwa; “Ayah dan ibu yang tidak dirasakan kehadirannya, baik secara fisik, psikologis-emosional, maupun rohani, maka putra-putrinya akan kehilangan arah atau dihadapkan pada berbagai penderitaan atau kebingungan akan identitasnya sehingga berprilaku dan harga dirinya menjadi tidak stabil, kurang semangat dan ketidakmampuan mengorganisasi kehidupan mereka secara efektif, kesulitan menghargai nilai moral, kecendrungan homo seksual, sering mendapat gonjangan psikologis yang berwujud kenakalan remaja dan penyalahgunaan narkoba, dan kurang memiliki rasa tanggung jawab.

Satu mata rantai penyebab kekerasan anak untuk segera diperbaiki adalah kurang efektifnya interaksi anak dengan orang tua mereka. Secara de facto, banyak anak telah merasakan kehadiran orang tuanya sejak mereka berusia tiga atau empat tahun. Riset terbaru di Amerika Serikat dan Norwegia yang melibatkan anak laki-laki bermasalah merekomendasi agar anak lelaki mutlak membutuhkan ayah mereka dalam dua tahun pertama usia mereka. Biddulph (2002) dalam bukunya berjudul “Raising Boys” mengatakan bahwa; “membesarkan anak laki-laki membutuhkan pertolongan orang dewasa lain, akan tetapi menitipkan anak pada tempat penitipan sejak dini bukan tempat terbaik bagi perkembangan kepribadian anak laki-laki, mereka lebih mudah cemas, gelisah, agresif di tempat penitipan karena berpisah dengan orang tuanya. Anak laki-laki akan merasa tidak aman dan tidak bahaya jika berada sebuah situasi yang tidak menyediakan pemimpin, mereka mulai sikut menyikut untuk menentukan ukuran kekuasaan. Jadi maskulin seorang ayah dan feminis seorang ibu jangan sampai runtuk karena ia adalah modal utama dalam membesarkan anak menjadi orang dewasa  (Penulis, Dosen FKIP Untan dan Direktur The Aswandi Foundation)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Perkuliahan Bermakna

Melawan Rasa Takut

Kebahagiaan Tidak Membahagiakan

Memikirkan Kembali Perguruan Tinggi

Bacaan Pertama dan Utama