Memulai Perubahann

Oleh: Aswandi
 
SEMUA orang ingin berubah, tetapi sedikit orang yang melakukannya karena alasan yang sama, yakni sulit memulainya. Kemampuan individu dan institusi menerima, merespons dan beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi menjadi kunci terpenting bagi mereka yang memulai dan berhasil melakukan perubahan. Dari berbagai penelitian dan kajian mendalam serta komprehenship, Arnold Toynbee menyimpulkan bahwa; “Kebangkitan (berubah, maju dan sejenisnya) umat manusia ini bergantung pada kemampuannya merespons atau menanggapi secara cepat, tepat atau akurat dan pantas terhadap tantangan atau masalah yang dihadapinya”.

Sukses memulai perubahan, dimulai dari; diri sendiri, hal-hal kecil, dan sekarang.

PERTAMA, Mulai Dari Diri Sendiri. John Maxwell mengatakan, “Di kala kita bodoh, kita memang ingin menguasai orang lain, tetapi kala kita bijak, kita ingin menguasai diri sendiri”. Pendapat lain mengatakan, “Semua orang ingin mengubah dunia, tetapi mereka lupa mengubah atau menguasai diri mereka sendiri”, demikian Leo Trostoy. Walt Emerson menyatakan hal senada bahwa, “Yang ada di belakang dan yang di depan tidak ada artinya dibanding dengan yang terdapat di dalam dirinya”, dan “cepat atau lambat, pemenang adalah mereka yang menganggap diri mereka bisa”.

Beberapa faktor yang mempengaruhi diri seseorang untuk memulai perubahan adalah pikiran dan sikap atau perasaan.

Mahatma Ghandi selalu mengingatkan, ”Perhatikan pikiranmu, karena ia akan menjadi kata-katamu. Perhatikan kata-katamu karena ia akan menjadi perilakumu. Perhatikan perilakumu karena ia akan menjadi kebiasaanmu. Perhatikan kebiasaanmu karena ia akan menjadi karaktermu, dan perhatikan karaktermu karena ia akan menjadi taqdirmu”.

Pendapat yang sama disampaikan Harun Yahya (2002) dalam bukunya “Ever Thought about The Truth”, ia menjelaskan bahwa “Dunia yang kita ketahui sebenarnya adalah dunia di dalam pikiran kita dimana ia didesain, diberi suara dan warna atau dunia yang diciptakan oleh pikiran kita”.

Selanjutnya, Stephen Hawking (2010) bapak teori relativitas dalam bukunya ”The Grand Design” mengatakan bahwa ”Tiada konsep realitas (kenyataan) yang independen dari gambaran atau teori yang ada dalam pikiran atau persepsi kita”.
Demikian pula, John Kehoe (2012) dalam bukunya ”Mind Power” menyatakan bahwa pikiran menciptakan realitas. Segala peristiwa dipengaruhi dari apa yang kita bayangkan, kita visualisasikan, kita hasratkan, kita inginkan atau kita takutkan, serta mengapa dan bagaimana gambar yang ditetapkan dalam pikiran bisa dibuat menjadi kenyataan.

Namun dalam kenyataan hidup ini, seseorang tidak tepat waktu dalam menggunakan pikirannya untuk memulai perubahan sebagaimana disinyalir oleh Peter F. Drucker bahwa kesalahan berpikir sering kali terjadi ketika kita berpikir tentang masa depan kita dengan cara berpikir kemarin. Bukti lain, pikiran kita hingga sat ini belum tersekolahkan”, demkian Gardner (2012) dalam bukunya ”Unschool Mind”.

Sebagaimana dikatakan sebelumnya bahwa selain pikiran, faktor diri yang sangat mempengaruhi saat memulai perubahan adalah sikap dan perasaan
John P. Kotter dan Dan S. Cohen (2014) dalam bukunya “The Heart of Change” menambahkan bahwa jantung perubahan bukan berada dalam pikiran, melainkan pada “Sikap atau Perasaan”.

Dikatakan, “Orang mengubah apa yang mereka lakukan bukan karena mereka diberi analisis yang mengubah pikiran mereka, namun lebih karena mereka ditunjukkan sebuah kebenaran yang mempengaruhi perasaan mereka”. Tantangan tunggal terbesar dalam setiap perubahan adalah mengubah sikap. Kunci dan pergeseran sikap tersebut tampak jelas dalam transformasi yang sukses, tidak terlalu banyak kaitannya dengan analisis dan pertimbangan, namun lebih cendrung terkait dengan melihat dan merasakan.

KEDUA, Mulai dari Hal-Hal Kecil, Rhenald Kasali (2007) dalam bukunya  “Re-Code Your Change DNA” mengatakan bahwa dunia berubah bukan dimulai dengan banyak orang, tetapi selalu dimulai dari sedikit orang. Nabi Muhammad Saw bersama empat orang khalifah (Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali) dalam waktu 20 tahun mampu merubah peradaban arab dari biadab menjadi beradab. Demikian pula Nabi Isa as bersama tujuh orang rasulnya mampu membuat perubahan besar pada zamannya. Menjadi tidak aneh, jika Bung Karno diawal kemerdekaan mengatakan, “Serahkan kepadaku sepuluh orang pemuda, akan kuubah Indonesia ini”. Uraian di atas mendapat penguatan dari Hukum Pareto atau hukum 20/80 yang diperkenalkan oleh Vilvredo Pareto, yakni yang sedikit (20%) akan memberi hasil yang terbesar (80%). Berdasarkan hukum ini menunjukkan segala hal-kecil, berbiaya kecil, dan dengan jumlah terbatas mampu memberi dampak yang luar biasa. Gladwell (2010) dalam bukunya “Triping Point” menegaskan bahwa ,”How Little Thing Can Make a Big Difference”.

Friel & Friel mengatakan hal yang sama bahwa “satu perubahan kecil yang dilakukan secara konsistem dan dengan integritas, benar-benar bisa mengubah keseluruhan sistem“. Dalam banyak pendapat dikatakan bahwa ”tidak jarang kelompok kecil mampu atau dapat mengalahkan kelompok besar karena kelompok kecil itu terorganisir dengan baik.

Tidak hanya itu, jika kita memulai perubahan dari hal-hal yang kecil, kemudian ternyata gagal melakukan perubahan itu, maka perubahan yang gagal tersebut tidak memberi dampak yang merusak keseluruhan sistem yang ada, dan bahkan kegagalan itu menjadi pembelajaran yang bermakna bagi perubahan yang lebih besar. Orang bijak mengatakan, ”Jika kita tidak segera menangani atau menyelesaikan perkara-perkara kecil, maka kitapun tak akan mampu menangani atau menyelesaikan perkara-perkara besar” dan ”Banyak orang yang tidak menyadari bahwa setiap kerusakan nilai-nilai selalu dimulai dari hal-hal kecil”. Sebaliknya, sering terjadi kegagalan dalam memulai perubahan karena suka meributkan ha-hal kecil,

KETIGA, Mulai Dari Sekarang, Orang sukses adalah orang yang segera melaksanakan idenya, tidak menunggu atau menunda pekerjaannya karena suka menunda pekerjaan terbukti 64% menjadi faktor kegagalan”, demikian Frans Bruno.

Albert Einstein kembali menasehati melalui kalimat pendek, ”Ideas and than action”, artinya jika ada ide, maka segera ambil tindakan. Maxwell menambahkan, ”kesalahan terbesar yang diperbuat seseorang adalah tidak berbuat apa-apa”. Sudah tepat jika Jokowi-Jusuf Kalla pemimpin bangsa ini mengatakan ”Kerja, Kerja, Kerja” karena bangsa ini memelukan manusia gesit dan cepat bertindak. Dikatakan, ”Tidak peduli seberapa jauh jalan salah yang Anda jalani, putar arah sekarang juga”, demikian Rhenald Kasali dalam bukunga berjudul ”Change” (Penulis, Dosen FKIP Untan dan Direktur The Aswandi Foundation)