Memulai Perubahan

Opini Ilmiah


Selasa, 29 April 2014 - 10:29:14 WIB | dibaca: 991 pembaca



SUKA atau tidak perubahan dari waktu ke waktu berlangsung semakin cepat, terbuka, merembes, kompleks, dan tidak menentu atau tidak pasti.
Kemampuan individu dan institusi menerima, merespons dan beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi menjadi kunci terpenting bagi keberhasilannya untuk tetap bertahan hidup.

Dari berbagai penelitian dan kajian mendalam serta komprehenship, Arnold Toynbee menyimpulkan bahwa; “Kebangkitan umat manusia bergantung pada kemampuannya merespons atau menanggapi secara cepat, tepat atau akurat dan pantas terhadap tantangan atau masalah yang dihadapinya”.
Iqbal, seorang ilmuan sekaligus pujangga besar dalam sebait puisinya menegaskan bahwa; ”Berhenti, tiada tempat di jalan ini. Sikap lamban berarti mati. Mereka yang bergerak, merekalah yang maju ke depan. Mereka yang menunggu, sejenak sekalipun pasti tergilas”.

Tidak semua individu dan institusi mampu menghadapi perubahan itu, masih banyak yang tidak peduli dan tidak mempersiapkan dengan sungguh-sungguh menerima dan menanggapi perubahan yang terjadi, bahkan ada yang takut, dan menentang atau menjadi monster perubahan.
Setiap kali berbicara tentang perubahan, sesungguhnya hanya bicara tentang dua hal penting yang perlu mendapat perhatian, yakni; proses perubahan dan faktor perubahan.
Pemahaman akan proses perubahan adalah hal yang sangat esensial. Dengan kata lain, membicarakan perubahan tidak bermakna tanpa membicarakan proses perubahan.
Dari berbagai pendapat tentang proses perubahan, penulis kutip dua pendapat, yakni; pendapat Williem Bridge yang menyatakan bahwa semua perubahan mengikuti fase berikut ini; (a) fase pertama, yakni fase pengakhiran atau pertaubatan; (b) fase kedua, yakni fase transisi; dan (c) fase ketiga atau fase awal perubahan yang sebenarnya. Pendapat lain, Hall membagi proses perubahan mengikuti tahapan berikut ini; (1) awareness, (2) information, (3) personal, (4) management, (5) consequence, (6) collaboration, and (7) refocusing.

Selanjutnya, dikemukakan bahwa banyak faktor  mempengaruhi perubahan itu, baik yang berasal dari dalam, maupun faktor dari luar.
Pakar perubahan sepakat bahwa faktor internal atau faktor pada diri seseorang lebih dominan mempengaruhi perubahan itu, meliputi pola pikir (mindset) dan karakter atau kepribadiannya.

Tertulis satu ungkapan di nisan makam seorang pahlawan di Inggris; ”Aku ingin merubah dunia, namun Aku kecewa karena penghuni dunia ini tidak peduli terhadap dunianya. Kuperkecil niatku, Aku ingin mengubah negeriku, namun kembali Aku kecewa, karena penduduk negeriku tidak peduli terhadap negerinya. Aku tidak putus asa, Aku ingin merubah keluargaku, kembali aku kecewa, karena anggota keluarga tidak peduli terhadap keluarganya. Di saat usiaku sudah mulai uzur, kulitku sudah kendur, mataku sudah kabur dan gigiku sudah gugur, Aku ingin melakukan perubahan pada diriku. Betapa terkejutnya Aku, setelah melakukan perubahan pada diriku, diikuti perubahan yang sangat besar dan bermakna pada keluargaku, dan Aku yakin akan terjadi perubahan yang sangat besar terhadap bangsa dan duniaku”.    

Sebuah filosofi pohon bambu sering kali penulis gunakan untuk mengilustrasikan tentang pentingnya memulai perubahan dari diri sendiri. Coba perhatikan, ketika angin bertiap kencang, banyak bangunan runtuh/roboh dan pohon bertumbangan, namun tidak atau jarang diikuti tumbangnya pohon bambu. Mengapa pohon bambu memiliki kemampuan bertahan dan beradaptasi. Jawabannya adalah kemampuan bertahan dan beradaptasi pohon bambu yang sangat luar biasa itu karena didukung oleh akar bambu yang menghunjam ke dalam bumi dan diperkuat oleh akar-akar lain yang mengelilinginya.

Bukankah pohon bambu, ketika ditanam tidak memperlihatkan tunas dan daunnya, terkadang membuat kita bertanya-tanya apakah tumbuh atau tidak setelah di tanam. Namun tunas dan daunnya subur setelah akarnya tumbuh sempurna. Pelajaran penting dan bermakna dari fenomena pohon bambu ini adalah kemampuan bertahan dan beradaptasi terhadap perubahan sangat ditentukan oleh kemampuannya untuk terlebih dahulu menyempurnakan apa yang ada pada dirinya. Pohon bambu yang menjadi mitos confusius ini mengajarkan kepada umat manusia untuk memulai perubahan dari dalam diri demi keberhasilan melakukan perubahan di luar dirinya.    

Selanjutnya, dalam setiap memulai perubahan, yang pertama dan utama harus dipastikan adalah kejernihan atau kejujuran berpikir, tidak mencampur-adukkan antara kebenaran dan kedustaan. Pikiran negatif yang kotor atau berpenyakit membuat kita tidak mampu melihat dan mengungkapkan realitas kebenaran, dan bahkan informasi yang disampaikan dan diterima oleh otak dan pikiran kita adalah informasi negatif, sampah dan penuh dusta pula.
Jika selama ini, banyak pihak telah melakukan perubahan, namun tidak membuahkan hasil, karena mereka belum bertaubat atau belum mensucikan diri, belum jujur dan sering membohongi dirinya sendiri.

Mahatma Ghandi mengingatkan, ”Perhatikan pikiranmu, karena ia akan menjadi kata-katamu. Perhatikan kata-katamu karena ia akan menjadi perilakumu. Perhatikan perilakumu karena ia akan menjadi kebiasaanmu. Perhatikan kebiasaanmu karena ia akan menjadi karaktermu, dan perhatikan karaktermu karena ia akan menjadi taqdirmu”.
Pendapat lain, Harun Yahya (2002) dalam bukunya “Ever Thought about The Truth” menjelasan bahwa “Dunia yang kita ketahui sebenarnya adalah dunia di dalam pikiran kita dimana ia didesain, diberi suara dan warna atau dunia yang diciptakan oleh pikiran kita. Stephen Hawking (2010) dalam bukunya ”The Grand Design” mengatakan bahwa ”Tiada konsep realitas (kenyataan/wujud) yang independen dari gambaran atau teori yang ada dalam pikiran atau persepsi kita”.

John Kehoe (2012) dalam bukunya ”Mind Power: menyatakan bahwa pikiran menciptakan realitas. Segala peristiwa dipengaruhi dari apa yang kita bayangkan, kita visualisasikan, kita hasratkan, kita inginkan atau kita takutkan, serta mengapa dan bagaimana gambar yang ditetapkan dalam pikiran bisa dibuat menjadi kenyataan. Namun sayangnya proses pendidikan selama ini belum mampu menyekolahkan pikiran sehingga pikiran kita masih (90%) tertidur nyeyak. Semoga kurikulum 2013 berbasis pikiran ini, dan menuntut perubahan pola pikir para pendidik sedikit memberi pencerahan pikiran untuk perubahan yang lebih besar (Penulis: Aswandi, Dosen FKIP Untan dan Direktur The Aswandi Foundation).


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Kekerasan Seksual pada Anak

Larangan Menyisakan Makanan

Buku Perubah Peradaban

Penyakit Narsistik

Matinnya Pemimpin Karismatik