Mempolisikan Polisi

Opini Ilmiah


Senin, 15 September 2014 - 10:10:04 WIB | dibaca: 1146 pembaca



Foto: Pelatihan Polmas di Mabes Polri Jakarta

Oleh: Aswandi
 
SEORANG polisi di negeri ini mengemban tugas; (1) memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat; (2) menegakkan hukum, dan (3) memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat (UU RI No.2/2002).

Osborne dan Gaebler (1995) dalam bukunya berjudul; “Reinventing Government” memandang perlu mendefinisikan kembali tugas polisi, yakni mengubah tugas polisi dari seorang penyelidik dan pelaksana menjadi seorang katalis (pemberi pelayanan secara SMART) dalam proses penyadaran masyarakat untuk menolong dirinya sendiri (community self-help), polisi akan menjadi sangat efektif jika mereka membantu masyarakat menolong diri mereka sendiri”.

Akhir-akhir ini masyarakat disuguhi pemberitaan tentang perilaku petinggi polisi yang belum menjadi polisi. Semua kita mengusap dada merasa malu dan sedih seraya berucap; Astarfirullah, ”Auzubillahi Min Zaliq. Seorang pemirsa TVRI mengulang sebuah sindiran yang pernah disampaikan oleh KH. Abdurrahman Wahid membuat senyum simpul bapak Firman Gani selaku Kapolda DKI pada waktu itu bahwa terdapat tiga jenis polisi yang tidak bisa disuap atau polisi bebas KKN di negeri ini, yakni; patung polisi, polisi tidur, dan bapak Hoegeng mantan Kapolri yang dikenal sederhana, berdisiplin, profesional, tak kenal kompromi, dan tak mudah diiming-iming, tak mungkin setuju jual beli jabatan atau kepangkatan, dan tak memiliki rekening, yang ada sedikit uang pensiun untuk membiayai hidup bersama seorang isteri tercinta, demikian testimoni Abraham Samad selaku Ketua KPK dalam buku karya Suhartono (2013) berjudul ”HOEGENG: Polisi dan Menteri Teladan”.

Penulis meyakini bahwa masih banyak polisi profesional, bebas KKN, dan berakhlak mulia di negeri ini, mereka adalah polisi yang mengetahui dan menyadari bahwa memelihara keamanan dan ketertiban, menegakkan hukum, memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat harus dimulai dari diri polisi itu sendiri.

Memperkuat jati diri (identitas) institusi kepolisian harus dilakukan melalui mempolisikan polisi atau menjadikan polisi menjadi dirinya sendiri. Seperti halnya melahirkan manusia beradab dan bermartabat dengan cara memanusiakan manusia. Masih banyak manusia yang belum menjadi manusia, bahkan tidak sedikit manusia yang lebih jahat dari binatang buas, masih banyak polisi yang belum menjadi polisi, masih banyak pendidik yang belum mendidik, dan seterusnya.

Pernyataan Hoegeng dan beberapa petinggi polisi senada dengan apa yang dinyatakan Hersey Blanchard (2005) dalam bukunya berjudul ”The Present” bahwa ”seseorang atau institusi tidak mendapatkan penghargaan (present) apapun sebelum ia menjadi dirinya sendiri.” Jika Unnur Birna Vilhjalmsdottir seorang polisi bandara Irlandia dinobatkan sebagai Miss World 2005, penulis kira tidak terlepas dari keberhasilannya menjadi seorang polisi, yakni seorang polisi yang cerdas otaknya, mulia akhlak dan kepribadiannya serta sempurna fisiknya (Pontianak Post, 11 Desember 2005).

Polisi adalah potret sebuah masyarakat, pakar kepolisian Amerika Serikat Walter Haltinger mengatakan; “bila kita mau melihat citra polisi lihatlah keadaan yang sama di masyarakatnya, karena pada dasarnya polisi hanya bagaikan sebuah cermin yang membias wajah masyarakatnya”. Rs. Soekanto mantan Kapolri menyatakan wajah polisi pada dasarnya merupakan pantulan wajah masyarakat”. Jika masyarakat itu baik, tidak menyuap dan tidak menghina polisi, maka polisi akan menjadi baik pula, demikian sebaliknya jika polisi itu baik, insyaallah masyarakatnya juga baik.

Hoegeng dikenal seorang clean policeman menyatakan bahwa; “polisi adalah pelayan masyarakat dan masyarakat berhak menuntut ketertiban dan ketentraman darinya. Sebagai seorang polisi saya mengetahui bahwa penghargaan masyarakat terhadap polisi bukan karena pangkat dan jabatannya, melainkan karena  polisi yang telah menjadi polisi. Oleh karena itu sebagai seorang Kapolri yang dikenal selalu datang terawal dan pulang terakhir setiap hari kerjanya, tidak pernah merasa malu turun tangan mengambil alih tugas teknis seorang agen polisi yang kebetulan sedang tidak ada atau tidak di tempat, bahkan beliau pernah menjadi juru parkir berseragam seorang jenderal. Keinginan utama saya, katanya; ”menegakkan citra ideal seorang polisi mulai dari diri saya sendiri”, sebagai seorang Kapolri barang kali saya termasuk salah seorang VIP  di negeri ini, saya hanya hendak mengatakan rumah saya berhak untuk mendapat pengamanan khusus, sebuah gardu jaga dan fasilitas lainnya. Tetapi saya menolaknya, demikian Abrar Yusra dan Ramadhan KH (1994) dalam sebuah autobiografi Hoegeng.

Abraham Lincoln mengatakan, jika citra anda telah rusak meskipun anda melakukan dua hal berikut ini, orang sudah tidak mau mempercayainya. Dua hal yang dimaksud adalah: (1) mengatakan kepada orang bahwa anda telah bertaubat; (2) menyampaikan dengan menggunakan retorika yang baik dan indah. Oleh karena itu seseorang rela mati untuk mempertahankan dan membela sebuah reputasi atau citra diri baiknya. Marten Luther King menegaskan bahwa, “Jika Anda tidak siap mati untuk sebuah kebenaran. Sesungguhya Anda tidak layak hidup”.

Penulis mengapresiasi kepada bapak Kapolda Kalbar yang ingin membangun, memperkuat institusi kepolisian, khususnya Kepolisian Kalbar melalui berbagai program, diantaranya; Proactive Policing, membenahi kelemahan internal kepolisian seperti koordinasi yang menurut beliau perlu diefektifkan, demikian juga personality kepolisian. Kita semua berharap semoga keinginan baik dan mulia ini berjalan baik dan sukses.

Maaf, sebagaimana penulis alami sendiri, di awal kepemimpinan sangat banyak keinginan yang akan dilakukannya, namun sayangnya banyak pula keinginan baik dan mulia tersebut kandas atau tidak membuahkan hasil. Setelah dipelajari, kegagalan demi kegagalan tersebut disebabkan oleh banyak faktor, terutama faktor yang berasal dari dalam diri (internal) institusi itu sendiri. Seorang pemimpin yang baru bertugas di tempat barunya harus siap mencuci piring kotor dan menarik gerbong karatan. Oleh karena itu, dalam upaya mewujudkan kampus yang tertib dan bersih, KPK memberi arahan agar kami menginternalisasikan sebuah nilai (value) yakni; “Tertib Diriku, Tertib Kampusku”.    

Viktor E. Frankl (2004) dalam bukunya “Man’s Search for Meaning” mengatakan bahwa sukses tidak terjadi di akhir, sukses harus terjadi dan hanya bisa diraih sebagai dampak dari awal dan kehidupan bermakna yang dijalaninya. Berniatlah menjadi polisi yang beradab (profesional) dan bermartabat (berakhlak mulia), kemudian jalani profesi sebagai polisi secara tulus, ikhlas dan bermakna atau bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya. Insyaalah bapak polisi akan merasakan nikmatnya hidup ini.

Mempolisikan polisi atau mewujudkan jati dirinya sebagai polisi memerlukan sikap proaktif semua pihak, tidak hanya polisi, seluruh masyarakat harus proaktif, jangan sebaliknya melakukan penghinaan terhadap profesi polisi (Penulis, Dosen FKIP Untan dan Direktur The Aswandi Foundation)   


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Kampus Penyelamat

Transisi Kepemimpinan

Kemerdekaan dalam Pembelajaran

Pemilu Menguji Integritas

Komunitas Pembelajar