Meminta dan Memberi Maaf

Opini Ilmiah


Senin, 04 Agustus 2014 - 11:17:39 WIB | dibaca: 1132 pembaca



Foto: Dr. Aswandi dan Istri

Oleh: Aswandi
 
DI bulan Syawal setiap tahunnya, semoga berlanjut di bulan-bulan dan di tahun-tahun berikutnya, umat Islam, khususnya umat Islam di Indonesia melakukan sebuah ritual dan tradisi saling mengunjungi satu sama lain untuk meminta dan memberi maaf.

Kata maaf (Al-Afw) terulang dalam Al-Qur’an sebanyak 34 kali cukup menjadi bukti pentingnya ritual dan tradisi ini yang esensinya bermakna “Berkelebihan dan Keterhapusan”, baik yang diusahakan maupun tanpa diusahakan.

Meminta maaf merupakan manifestasi perilaku tidak menyombongkan diri karena mereka mengetahui bahwa tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada seberat biji sawi rasa sombong dan Allah SWT akan melemparkannya ke neraka dalam keadaan tertelungkup.

Imam Al-Ghazali (2006) dalam kitabnya “Mukasyafah Al-Qulub” mengutip sebuah sabda rasulullah Saw untuk mengingatkan umatnya bahwa dosa pada orang lain tidak akan diampuni sebelum ia dimaafkan atas kesalahannya.

Para pakar dan praktisi kemanusiaan menyebut dunia sekarang ini sebagai “Zaman Meminta dan Memberi Maaf”. John Kador (2011) dalam bukunya “Effective Apology” mengatakan bahwa saat ini dikenal sebagai “Zaman Permintaan Maaf” yang bermakna perbuatan mengulurkan diri kita karena kita lebih mementingkan hubungan yang kita bina ketimbang kebutuhan untuk menjadi benar. Pandangan sederhana memaknai permintaan maaf sebagai sesuatu yang bersifat transksional (Memberi maaf setelah ada yang memintanya, demikian sebaliknya. Mengunjungi setelah dikunjungi, demikian pula sebaliknya) dan bersifat transformasional dimana permintaan maaf memiliki lebih banyak kekuatan dari pada yang kita sadari untuk memulihkan hubungan yang diliputi ketegangan, membebaskan kita dari dorongan untuk membalas dendam dan menciptakan peluang untuk tumbuh yang didasarkan pada lima dimensi permintaan maaf berikut ini: pengakuan (recognition), penerimaan tanggung jawab (responsibility), penyesalan (remorse), penggantian kerugian (restitution), dan pengulangan (repetition) yakni pemberian kepastian pada korban bahwa pelaku tidak akan mengulangi perbuatannya.

Sementara Bill Clinton (2010) dalam bukunya “Diving” mengatakan bahwa dunia sekarang ini dikenal sebagai “Zaman Pemberian Maaf”, dicontohkan, Setelah  dilantik sebagai presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela  memasukkan mantan pemimpin negara tersebut sebelumnya yang dulu mendukung apartheid dan mempenjarakannya selama 27 tahun menjadi menteri dalam kabinetnya. Selain itu, Ia segera mendirikan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi untuk memberikan jaminan keamanan bagi para pelaku kejahatan apartheid yang telah melakukan kejahatan sebelumnya.

Nelson Mandela berkeyakinan, Cara terbaik bangsanya untuk bisa menyongsong masa depan yang lebih baik, lebih maju dan dihormati oleh bangsa-bangsa lain di dunia ini adalah dengan menyingkirkan luka masa lalu dan rasa dendam diantara sesama. Meminjam istilah Paulo Fraire, Mandela rela mengorbankan dirinya demi memutuskan mata rantai permusuhan dan kekerasan yang sejak lama diwariskan dari satu generasi ke genarasi berikutnya dengan cara memberi maaf atau pengampunan kepada musuh-musuhnya.    

John McCain dan Mark Salter (2009) dalam bukunya “Character is Destiny” mengatakan Nelson Mandela seorang yang cukup lama berstatus sebagai tahanan, saat menjelang pembebasannya secara tegas menyatakan akan memberi maaf atau pengampunan terhadap penahannya dan membantu rakyatnya saling mengampuni atau saling memaafkan. Semoga fenomena Mandela menjadi pembelajaran bermakna bagi presiden RI ke-7 yang akan ditetapkan MK nanti.

Jauh sebelumnya, agama Islam mengajarkan bahwa memaafkan antar sesama adalah perintah Allah SWT dan merupakan satu ciri orang-orang bertaqwa sebagaimana firmanNya, Muttaqin adalah mereka yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang yang menahan amarahnya, dan memaafkan kesalahan orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan. Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh. Di lain ayat Allah SWT berfirman, “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat, maka pahalanya dari Allah. Sungguh Dia tidak menyukai orang yang zalim, tetapi barang siapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia”. Katakanlah (Muhammad) kepada orang yang beriman, hendaklah mereka memaafkan orang-orang yang tidak takut akan hari-hari Allah, karena dia akan membalas suatu kaum sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.

Memperhatikan firman Allah SWT di atas dan khususnya firmanNya di surat Al-Imran:152 dan 155, Al-Maidah:95 dan 101 dan QS Al-Nur:22 ternyata tidak ditemukan satu ayatpun yang menganjurkan agar meminta maaf, tetapi yang ada adalah perintah untuk memberi maaf (memaafkan). Kesan yang disampaikan oleh ayat-ayat tersebut di atas adalah anjuran untuk tidak menanti permohonan maaf dari orang yang bersalah, melainkan hendaknya memberi maaf sebelum diminta. Mereka yang enggan memberi maaf pada hakikatnya enggan memperoleh pengampunan dari Allah SWT. dikutip dari M. Quraish Shihab (1996) dalam kitabnya “Wawasan Al-Qur’an”

Implikasi atas pemahaman ayat tersebut di atas terlihat jelas pada perilaku masyarakat kita, terutamaa di saat merayakan hari keagamaan, kenegaraan dan upacara resmi lainnya dimana kelompok masyarakat yang selama ini termarjinalkan, terzholimi dan tertindas harus meminta maaf kepada para penguasa dan/atau kaum berduit, mengapa tidak sebaliknya, misalnya open house tidak di rumah pejabat dan pengusaha, melainkan di rumah kaum dhuafa, di rumah mereka yang selama ini terzhalimi dan termarjinalisasi oleh kekuasaan dan kapitalisme.

Nabi Muhammad Saw dikenal sebagai manusia pemaaf. Sikap suka memberi maaf beliau diiikuti oleh para khalifah, para sahabat, para tabi’in dan orang shaleh lainnya.

Mahmud Musthafa Sa’ad dan Nashir Abu Amir Al-Humaidi (2003) dalam kitabnya “Min Rawa’i Tarikhina” mengisahkan, “Al-Makmun berkata kepada Ibrahim bin Al-Mahdi, “Aku telah bermusyawarah dengan para pembesar negeri ini untuk menentukan nasibmu. Mereka mengusulkan agar aku membunuhmu. Hanya saja aku lihat kesalahanmu tidak sebanding dengan kemuliaanmu. Aku enggan membunuhmu karena kehormatan darimu”. Ibrahim berkata, “Wahai Amirul Mukminin, para pembesar itu mengusulkan sesuatu yang lazim (biasa) dalam percaturan politik.Hanya saja Tuan ingin mendapatkan kemenangan dengan cara memberi maaf. Jika Tuan memberi hukuman, maka banyak penguasa lain melakukan hal yang sama. Namun sebaliknya, Jika Tuan memberi maaf, maka tidak banyak penguasa lain melakukan hal ini”.

Di bagian lain mereka menceritakan ada seseorang melapor kepada Hakim Bashrah bahwa Si Fulan telah memfitnahmu. Sang Hakim berkata, “Wah, fitnah itu merupakan shadaqah bagiku dan akan kujadikan shadaqah itu sebagai penutup hatiku untuk dapat memaafkan kesalahannya”. Semoga kita menjadi umat yang tidak hanya pandai meminta maaf, melainkan bersikap dan berperilaku pemaaf (Penulis, Dosen FKIP Untan dan Direktur The Aswandi Foundation).


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Ramadhan Pembentuk Kakarter

Persyaratan untuk Mengambil Ijazah dan Akta Mengajar IV

Pengumuman Bagi Peserta Prakondisi SM-3T Angkatan IV Tahun 2014 LPTK Universitas Tanjungpura

Revolusi Mental

Kelulusan Calon Mahasiswa Baru Program Pascasarjana S2 Kependidikan FKIP UNTAN TA 2014/2015