Memilih Rektor Tepercaya

Opini Ilmiah


Senin, 15 Desember 2014 - 11:28:53 WIB | dibaca: 941 pembaca



Oleh: Aswandi
 
REKTOR adalah seorang pemimpin yang wajib memiliki kapasitas dan integritas agar ia dipercaya karena kepercayaan itu merupakan landasan dari kepemimpinannya.

Dengan perkataan lain, untuk membangun kepercayaan, seorang pemimpin harus memberikan teladan dalam kualitas ini: kemampuan, koneksi, dan karakter. Pendapat lain menyatakan, seorang pemimpin tepercaya karena ia; jujur, visioner, inspiratif, dan cakap.

Orang akan memberikan toleransi terhadap kekeliruan yang jujur, namun jika Anda melanggar kepercayaan mereka, akan sulit mendapatkan kepercayaan mereka kembali. Semakin banyak orang percaya kepada pemimpinnya, maka kepemimpinan tersebut akan semakin efektif.

Quraisy Shihab dalam bukunya berjudul “Lentera Hati” mengutip sabda Rasulullah Saw dalam memilih seorang pemimpin, didasarkan pada dua kriteria, yakni; kuat dan tepercaya.

Untuk mendapatkan seorang pemimpin universitas (rector) tepercaya, beberapa tahapan pemilihan dilakukan. Terkini, tahapan penyaringan telah dilakukan dan berhasil menetapkan tiga kandidat rektor Universitas Tanjungpura (Untan) dengan perolehan suara masing-masing sebagai berikut: Prof. Thamrin Usman, DEA memperoleh 32 suara, diikuti Prof. Dr. Garuda Wiko memperoleh 14 suara, dan Abubakar Alwi, PhD memperoleh 11 suara.
Tahapan berikutnya adalah pemilihan yang direncanakan akan dilaksanakan pada pertengahan Januari 2015.

Menurut Permendikbud RI No. 33/Tahun 2012, pada tahapan pemilihan rektor nanti, Menteri Pendidikan Tinggi dan Ristek memperoleh 35% (32 suara), selebihnya suara senat universitas sebanyak 59 orang. Secara keseluruhan berjumlah 91 suara.

Di era Indonesia yang sedang membangun demokrasi ini, universitas mempunyai peran strategis dan seorang menteri bertanggung jawab mewujudkannya. Oleh karena itu, dapat dipastikan tentu, seorang menteri tidak akan “Kemasukan Angin” atau “Politik Dagang Sapi” dan mendapat tekanan atau intervensi dari berbagai pihak yang suka memancing di air keruh, kita mesti percaya sepenuhnya kepada beliau bekerja atau memberikan suaranya atas dasar sembilan kriteria yang telah disepakati dan berlaku selama ini. Kriteria yang dimaksud adalah sebagai berikut; (1) Ke-Scholar-an atau kepakaran dalam bidang ilmunya yang bisa dibuktikan dari publikasi ilmiah dan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) yang diperolehnya, seperti Paten. Tentu menteri akan menanyakan siapa diantara tiga kandidat rektor tersebut yang telah membuktikan karya keilmuannya, (2) pengetahuan tentang pendidikan tinggi dan implementasi tri darma pendidikan tinggi. Pengetahuan tersebut tidak cukup dipahami dari buku teks atau bacaan, melainkan dapat dipahami oleh kandidat rektor karena mereka telah berpengalaman menjadi pemimpin, baik di level fakultas dan/atau universitas. Dalam hal ini, menteri memiliki referensi yang jelas, pasti dan terukur untuk menentukan pilihannya terhadap tiga kandidat rektor Untan tersebut; (3) pengalaman mengelola (management) pendidikan tinggi. Hampir sama dengan point ke 2 di atas dimana Menteri akan menentukan pilihannya terhadap calon rektor yang memiliki pengalaman dan terbukti berhasil memajukan universitas yang dipimpinnya; (4) pandangan pengembangan pendidikan tinggi di masa depan. Seorang calon rektor harus memiliki roadmap (peta) dalam pengembangan universitas yang dipimpinnya. Ia harus mempu menuliskan (action plan) apa yang akan dilakukannya, demikian pula ia akan melakukan apa-apa saja yang telah dituliskan atau direncanakannya. Hal ini terlihat jelas dan terukur dari kualitas rencana stratgis dan program kerja yang dibuatnya, bukan yang dibuatkan orang lain atau copy paste milik orang lain. (5) wawasan tentang pendidikan tinggi. Seorang calon rektor harus paham dan menyadari betul bahwa universitas adalah lembaga ilmiah, menjunjung tinggi kebenaran dan tempat berkumpulnya masyarakat ilmiah bergaya kolegial, bukan lembaga politik dimana hubungan dan budaya organisasi lebih didasarkan atas kesamaan kepentingan; (6) peduli terhadap kebijakan nasional terkait pendidikan tinggi. Sulit membuktikan kepedulian calon rektor yang belum berpengalaman memimpin universitas karena ukuran kepedulian itu tertanam dalam tindakan bukan ucapan. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa banyak calon pemimpin datang ke rumah-rumah konstituennya dengan alasan silaturrahmi, mengobral janji dan setelah terpilih dengan mudah mengingkari janji-janjinya; (7) peduli terhadap perundang-undangan nasional; (8) peduli terhadap masyarakat dan lingkungan. Alhamdulillah, Universitas Tanjungpura adalah sebuah perguruan tinggi yang sangat peduli terhadap mahasiswa dari kalangan kurang mampu secara ekonomi, buktinya  jumlah mahasiswa penerima beasiswa meningkat dari tahun ke tahun. Kondisi ini harus dipertahankan karena kita semua ingin generasi muda Kalbar tidak mengalami depresi mental yang serius, melainkan memiliki mimpi atau harapan masa depan yang lebih baik, dan (9) memiliki wawasan internasional. Tidak dapat dipungkiri, Empat tahun terakhir ini, Universitas Tanjungpura telah berhasil membangun kerjasama internasional sehingga Untan dari hari ke hari semakin dikenal oleh dunia internasional. Selain sembilan kriteria tersebut di atas, seorang menteri tentu saja tidak ceroboh, beliau akan memperhatikan dan mempertimbangkan perolehan suara masing-masing kandidat rektor di tahapan penyaringan karena beliau sangat paham, bahwa betapa sulitnya seorang rektor memimpin universitas jika tidak didukung oleh mayoritas anggota senat universitas. Berdasarkan sembilan kriteria dan perolehan suara pada tahap penyaringan tersebut di atas, Insyaallah Untan akan memperoleh seorang rector atau pemimpin tepercaya.

Tentu saja, hasil pemilihan nanti ada yang menang dan ada pula yang belum berhasil atau kemenangannya masih tertunda, maka sebagai orang beriman jangan kasak-kusuk mencari pembenar atas kekalahan itu, sebaiknya pulangkan kepada Allah SWT sebagaimana firmanNya, “Allah Swt memberi kekuasaan kepada orang yang dikehendakiNya dan mencabut kekuasaan dari orang yang dikehendakiNya, dan Allah Swt sangat mengetahui segala sesuatu”. Di ayat lain,  

Allah SWT berfirman, “Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu (karena kalah), padahal itu baik bagimu, Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu (karena menang), padahal itu tidak baik bagimu. Allah SWT mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui (Al-Baqarah:216).

Orang bijak menasehati kita, “Hadiah terbaik tidak selalu terbungkus indah dan rapi. Kadang Tuhan membungkusnya dengan masalah, kegagalan dan kekalahan, tetapi di dalamnya pasti ada berokhah, terutama bagi mereka yang ikhlas menerimanya” . Dan di akhir kehidupan, kita tidak pernah menyesal karena belum sempat menjadi pejabat. Kita menyesal diakhir kehidupan nanti karena belum memiliki bekal ibadah yang cukup karena musyrik dan lalai kepadaNya, meninggalkan keturunan yang lemah dan kehilangan teman atau saudarama (Penulis, Dosen FKIP Untan dan Direktur The Aswandi Foundation)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Diminta Kembali Menjadi Rektor

Memulai Perubahann

Guru Indonesia

Menolak Standarisasi Ujian

Menghormati Pahlawan