Memikirkan Kembali Perguruan Tinggi

Opini Ilmiah


Senin, 09 Februari 2015 - 10:05:00 WIB | dibaca: 1022 pembaca



Memikirkan Kembali Perguruan Tinggi

Oleh: Aswandi
 
DIREKTUR Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Ditjen Dikti menyampaikan beberapa isu aktual pendidikan tinggi, yakni; (1) memikirkan kembali peran perguruan tinggi; (2) kesiapan perguruan tinggi menghadapi satu hamparan ASEAN; (3) keharusan pendidikan profesi bagi pendidikan tinggi yang menuntut profesionalisme alumninya; (4) sistem penjaminan mutu internal dan eksternal; dan (5) kelanjutan Bidikmisi dan PPA.

Perguruan tinggi bukanlah tempat mahasiswa/i yang hanya datang untuk mengikuti perkuliahan. Ia adalah komunitas, tempat ilmu dan gagasan saling dipertukarkan dan dihargai, dan mengembangkan misi menyelamatkan kemanusian melalui kegiatan pembelajaran.
Sumbangan perguruan tinggi pada kehidupan intelektual dan kultural selama berabad-abad sangatlah besar. Faktanya, hampir semua pemikir besar dalam bidang ilmu pengetahuan dan filsafat mendapat inspirasi pertama serta melakukan eksplorasi pertama yang berani dalam bidangnya di universitas. Sebaliknya, acap kali pemikir yang paling cemerlang dan orisinil tidak belajar langsung dari para pendidik, tetapi mencari sendiri jawaban atas pertanyaan mereka.

Fenomena perguruan tinggi dewasa ini mengalami banyak perubahan, universitas-universitas besar di Amerika Serikat menawarkan subject bukan gelar kesarjanaan. Kampus non-degree (tanpa gelar) adalah kampus terbesar dan paling sehat di Amerika Serikat. Mahasiswa/i boleh memilih mata kuliah apa saja untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilannya, bukan mengikuti aturan perkreditan (sks) untuk memperoleh gelar kesarjanaan. Menurutnya gelar, diploma atau ijasah kesarjanaan tidak lebih berharga dari tiket masuk bioskop.

Peringatan dari banyak pihak tentang perubahan yang sedang terjadi di dunia perguruan tinggi dapat dimaklumi karena masih ditemukan sebagian besar sivitas akademika atau stakeholder pendidikan tinggi bergaya “Kodok Parlente” yang tidak memahami dan tidak merasakan ada bara api yang siap membakarnya, kelemahan dalam merumuskan visi dan misi yang berdampak pada model manajemen perguruan tinggi yang kental bergaya birokrasi, politik, dan keormasan, dan kurang professional-kolegial.

Jeremi Bentham, seorang filosof Inggris menemukan hal yang sama bahwa hanya 2% dari seluruh orang yang berprofesi sebagai pengajar di perguruan tinggi adalah pendidik, Mereka yang sedikit itu, tidak hanya memindahkan pikirannya, melainkan juga memperbaiki cara berpikir atau mindset mahasiswa/inya. Dari 100% pengajar, ternyata hanya 2% yang bergelar doktor itu yang aktif melakukan penelitian, publikasi ilmiah dan menjadi professor sejati bukan profesor mitos. Dan hanya 2% saja dari profesor yang menulis itu menjalankan apa yang ditelitinya”.

Berdasarkan penjelasan di atas, memikirkan kembali perguruan tinggi menjadi keharusan jika ia ingin tetap bertahan hidup. Diantara hal-hal penting yang memerlukan pemikiran ulang pendidikan tinggi adalah sebagai berikut.

PERTAMA, Visi dan misi perguruan tinggi. Dua unsur penting tersebut merupakan identitas sebuah institusi perguruan tinggi. Dari visi dan misi tersebut dapat dibedakan fungsi perguruan tinggi dari institusi lainnya. Sehari setelah terpilihnya Prof. Thamrin Usman, DEA sebagai rektor Untan Masa Bakti 2015-2019, bapak Leo Sutrisno. PhD salah seorang penyusun visi dan misi Untan mempertanyakan tentang visi Untan, apakah direvitalisasi atau ganti. Terkait visi dan misi, Penulis juga ingin melanjutkan pertanyaan bapak Leo, yakni apakah visi dan misi yang telah disusun tersebut digunakan sebagai pedoman dalam menyelenggarakan pendidikan tinggi?”. Prof. Dr. Pramutadi saat menjabat direktur Binsarak menyindir banyak perguruan tinggi dimana rencana strategis yang berisi visi dan misi disusun, dicetak dan disimpan dengan baik sebagai sebuah persyaratan administratif belaka, mengantisipasi jika sewaktu-waktu diminta dan ditanyakan oleh supervisor atau pengawas., belum menjadi roh yang menggerakkan organisasi dan manajemen pendidikan tinggi. John Maxwell menambahkan bahwa para pengikut tidak percaya kepada visi dan misi seorang pemimpin sebelum mereka percaya terhadap pemimpinnya.

KEDUA, Untuk mempertahankan hidupnya, perguruan  harus inovatif, kreatif dan adaptif. Charles Darwin sejak lama mengingatkan bahwa “eksistensi manusia tidak ditentukan oleh kekuatan yang dimilikinya, melainkan ditentukan oleh kemampuannya beradaptasi, berkreasi, dan berinovasi sebagai dampak dari kemampuannya untuk belajar secara terus menerus. Jadi semua sivitas akademika semestinya menjadi manusia pembelajar karena tidak jarang perguruan tinggi jauh tertinggal, terutama dalam mengimplementasikan misi tri darmanya. Implementasi tri darma perguruan tinggi yang berbentuk “Teaching University” belum menjalankan misi tri darmanya secara sinergis dan terintegrasi. Buktinya, pelaksanaan setiap unsur tri darma perguruan tinggi yang terdiri dari unsur; teaching, research, and service masih berjalan sendiri-sendiri. Jarang ditemui proses pembelajaran dan pengabdiannya berbasis riset.
Fakta lain, Rhenald Kasali (2014) dalam buku. “Let’s Change” kembali mengatakan bahwa tradisi menulis di kampus sangat rendah. Bahkan dosen yang sering menulis di koran sering dicibir koleganya sebagai ilmuan koran dan ilmuan kekanak-kanakan. Para pencibir menutup ketidakmampuannya dalam menulis karena berawal dari ketidaktahuannya tentang banyak hal termasuk bidang ilmu yang melekat pada gelar kesarjanaannya. Ada pandangan, lebih baik tidak menulis dari pada dipermalukan teman sendiri. Dampak dari lemahnya riset dan publikasi ilmiah yang ditandai maraknya riset dan proseding abal-abal, dimotivasi mencari fee dan  angka kredit, dan jumlah jurnal terakreditasi yang dimiliki oleh 10 PT terbaik di Indonesia jauh lebih sedikit dibanding yang dimiliki satu universitas di Malaysia, yakni UKM.

KETIGA, Proses pembelajaran di perguruan tinggi harus segera disempurnakan. Hampir susah membedakan kualitas proses pembelajaran di perguruan tinggi dengan praktek pembelajaran di sekolah/madrasah. Penulis tidak berani menyimpulkan praktek pembelajaran di perguruan tinggi lebih baik. Filsafat ilmu pengetahuan wajib diajarkan kepada mahasiswa agar mereka mengetahui terjadinya setiap perubahan paradigm dan konvergensi sains dan diharapkan alumni perguruan tinggi menjadi manusia pembelajar. Memberi pemahaman yang benar tentang makna belajar kepada mahasiswa dan makna mengajar kepada dosen.

KEEMPAT, model manajemen perguruan tinggi berbeda dari manajemen lembaga pelayanan publik lainnya yang selama ini sangat birokratis, bergaya keormasan dan bersifat politis.
Kampus harus dikelola secara professional untuk menjawab kebutuhan masa depan. Kampus memerlukan investasi baru yang dananya harus dicari dari berbagai sumber karena kampus tidak boleh lagi semata-mata mengandalkan dana pemerintah dan mahasiswa/inya.
Renald Kazali (2005) dalam bukunya “Change” mewacanakan rekrutman pimpinan perguruan tinggi dilakukan melalui seleksi dengan kriteria yang jelas dan terukur, bukan melalui mekanisme election sebagaimana berjalan selama ini yang syarat nepotisme.

KELIMA, Kesadaran yang tinggi dari semua stakeholder perguruan tinggi bahwa mahasiswa sebagai pelanggan utama (main customer) karena apa yang selalu dikhawatirkan oleh Marthin Seligman bahwa ketidakberdayaan itu adalah proses yang dipelajari tidak terjadi. Hingga hari ini proses pembodohan dan ketidakberdayaan sedang terjadi di sekolah dan di perguruan tinggi.

Kekhawatiran penulis, boleh jadi sivitas akademika sudah kehilangan hak moral untuk mengajak mahasiswa/i menegakkan kebenaran (amar-makruf) dan mencegah kemungkaran (nahi mungkar) karena diantrara mereka sudah tidak dapat diteladani, baik pikiran, perkataan dan perbuatannya. Faktanya, banyak mahasiswa/i kecewa terhadap dosennya karena seringnya absen mengajar dan membimbing. Tanpa disadari perilaku dosen berpengaruh terhadap perilaku mahasiswa/inya. Oleh karena itu jangan heran jika tercatat setidaknya 50% koruptor di negeri ini adalah produk pendidikan tinggi dimana mereka bergelar magister dan doktor (Penulis, Dosen FKIP Untan dan Direktur The Aswandi Foundation)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Bacaan Pertama dan Utama

Suksesi Kepemimpinan

Guru Inspiratif

Menguji Komitmen Kita

Memaknai Awal Perubahan