Membumikan Pendidikan

Opini Ilmiah


Senin, 22 Juni 2015 - 12:53:26 WIB | dibaca: 937 pembaca


Oleh: Aswandi
 
SEJAK dulu hingga sekarang seringkali dikatakan, “Bersekolahlah untuk mendapat pekerjaan. Kalau kau tidak bersekolah, kau tidak akan mendapatkan pekerjaan yang bagus, setelah itu kau mendapatkan uang, tahta atau kedudukan dan wanita sesuka hatimu”. Sedikit sekali orang tua, guru dan dosen berkata, “Bersekolahlah untuk belajar cara menciptakan pekerjaan bagus yang bergaji tinggi. Bahkan ada orang tua dan pendidik memarahi dan tidak senang terhadap anak atau peserta didiknya yang mau belajar menciptakan pekerjaan di saat mereka sedang sekolah atau kuliah, dikhawatirkan pekerjaan sampingan itu menyebabkan kegagalan pendidikan atau studinya. Misalnya, disela-sela waktu sekolah dan kuliah, anak dan peserta didik mereka memperoleh peluang untuk belajar berwirausaha, dan kesempatan baik tersebut dimanfaatkan oleh mereka untuk melakukan bisnis kecil-kecilan secara mandiri.      

Robert Kiyosaki (2015) dalam bukunya “Why A Student Work for C Student and B Student Work for The Government” menjelaskan tentang kesalahan atau kekeliruan orang tua, guru dan dosen memperlakukan peserta didiknya yang ingin belajar dari kehidupannya. Kiyosaki mengatakan sedikitnya 50% siswa dan mahasiswa berprestasi akademik tinggi lulusan Amerika tidak memperoleh pekerjaan yang bermakna, kecuali mendapatkan pekerjaan yang kurang dari kemampuannya dengan gaji atau penghasilan yang sangat rendah. Sementara tidak sedikit diantara mereka lulusan dengan perolehan prestasi akademik rendah, tetapi mereka memperoleh pekerjaan dengan penghasilan tinggi.
Pertanyaan dan kekhawatiran muncul dikalangan mereka, “Pendidikan seperti apakah yang penting saat ini?”.

Kemudian diketahui mereka berprestasi akademik A (terpuji), memperoleh pekerjaan dengan penghasilan rendah karena mereka menjadi pekerja (employee) bermental kuli dan senangnya menjadi kuli. Sementara lulusan berprestasi akademik C, tetapi memperoleh kedudukan dan penghasilan tinggi karena mereka sejak dini belajar memahami masalah dan menjawab setiap adanya peluang atau kesempatan yang ada berwujud menciptakan pekerja sendiri, setelah menyelesaikan studinya, akhirnya mereka menjadi big business dan investor.

Di bagian lain, Robert Kiyosaki menunjukkan setidaknya terdapat 50 orang yang tidak menamatkan sekolah atau pendidikan formalnya, tetapi selalu belajar menjawab permasalahan dan peluang yang ada atau belajar dari kehidupan nyata dari sejak kecilnya, akhirnya dari kesadaran dan kemauan belajar terus menerus tersebut mereka mencapai prestasi puncak dalam berbagai jabatan/pekerjaannya dengan penghasilan memadai, seperti menjadi; presiden, perdana menteri, astronot, senator, duta besar, penyair, perawat, penemu dan pendiri, penulis, sutradara, wartawan, penerima nobel, dan terkaya.

Contoh yang sama di negeri ini, yakni Bapak Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Prof. Chairul Tanjung (Anak Singkong) dan  Dr. Fadel Muhammad. Ketika Gus Dur menjawab pertanyaan bapak Juwono Sudarsono (Mendikbud 1998-1999), “Tahu enggak Mas, Saya ini sudah lama menjadi rektor UCLA (University Ciganjur Lenteng Agung) tak kalah terkenal dengan sekolah UC Berkeley Los Angeles. Saya drop-out dari Universitas Badgad dan cuma mahasiswa pendengar di Universitas Al-Azhar Kairo, tetapi saya mahasiswa sekolah/universitas kehidupan, saya melihat-lihat dan mengamati kehidupan nyata di lapangan. Gelar apapun tidak ada artinya kalau dia tidak menghargai dirinya sendiri dengan tetap berkaca pada pahit getirnya tantangan hidup sehari-hari”, dikutip dari Kompas, 10 Juni 2015. Penulis tambahkan, kehidupan nyata penuh masalah, kesulitan dan peluang ini yang tidak kita ajarkan di sekolah dan perguruan tinggi selama ini, akibat dari kesalahan tersebut, “Semua orang yang terlahir genius, tapi proses pendidikan dan pembelajaran yang dialaminya menghilangkan kegeniusan mereka”. demikian R. Buckminster Fuller

Sering kali anak dan peserta didik diperlakukan dengan manja (spoil) oleh orang tua dan/atau pendidiknya, misalnya, ketika mereka ingin makan ikan, orang tua dan pendidiknya memberinya ikan yang dimintanya sehingga mereka hanya mampu hidup satu hari. Semestinya, ketika mereka meminta ikan, orang tua dan pendidiknya memberinya pancing agar mereka hidup untuk selamanya.   

Sementara Anak Singkong dan bapak Fadel Muhammad adalah sedikit orang sukses studinya dengan prestasi akademik terpuji dan menjadi orang kaya baru sejak berstatus seorang mahasiswa S1 di almamaternya karena mereka mendapat kesempatan dari orang tua dan para pendidiknya mempelajari dan memanfaatkan peluang bisnis yang ada saat itu, dan terbukti mereka bisa. Sementara banyak mahasiswa/i lain, bukan sekedar tidak mau, tetapi tidak mau tahu fenomena kehidupan nyata di sekitarnya adalah penting bagi pembelajaran yang bermakna, akhirnya mereka bangga dengan kesarjanaannya saat diwisuda saja, setelah itu mereka bingung dan tidak jarang stress karena telah menambah jumlah pengangguran sarjana di negerinya.

Pentingnya belajar dari kehidupan nyata (membumi) sebagaimana dipertegas oleh Vernon A. Magnesen dan Edgar Dale guru besar pendidikan di Ohio State University, sejak lama (tahun 1969) mengatakan bahwa “Setelah dua minggu kita cendrung mengingat atau belajar: 90% dari apa yang kita katakan dan kerjakan sebagai dampak dari metode pembelajaran tentang kehidupan dan pengalaman nyata, 70% dari apa yang kita katakan, 30% dari apa yang kita lihat, 20% dari apa yang kita dengar, dan 10% dari apa yang kita baca”.

Lebih dari 2400 tahun silam, Konfusius mengatakan hal yang senada, “Yang saya dengar, saya lupa. Yang saya lihat, saya ingat. Yang saya kerjakan, saya paham”, dikutip dari Melvin L. Silberman (2006) dalam bukunya “Active Learning”.

Fenomena lain saat ini, dimana banyak pekerjaan yang hilang dengan laju semakin cepat. Misalnya, di Inggris sekitar 757.000 jenis pekerjaan bidang manufaktur hilang dalam kurun waktu sepuluh tahun (1987-1997). Sekolah dan perguruan tinggi yang telah mempersiapkan mereka memasuki dunia kerja menjadi percuma karena ketrampilan yang diperlukan sudah berbeda dengan pendidikan yang diperolehnya.

Apapun krisis yang terjadi, apakah krisis ekonomi dan keuangan, krisis moral dan sebagainya, Sesungguhnya semua krisis tersebut terpulang atau bersumber dari krisis pendidikan dan pembelajaran, terutama krisis pendidikan dalam keluarga dan krisis ketika anak masuk sekolah, menghabiskan waktu tahun demi tahun tidak mempelajari kehidupan nyata atau kehidupan yang membumi.   

Opini ini tidak bermaksud agar anak sebaiknya tidak sekolah atau sekolah itu tidak penting. Pendidikan yang bermutu dan bermakna itu sangat penting. Dan semua krisis ini dapat diperbaiki, yakni dengan cara merubah pola pikir (mainset) dan mental atau kebiasaan dalam menyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran yang benar dan baik, seperti: mengajari anak kita bekerja keras dari sejak kecil, mengenal dan merasakan bahwa kehidupan sukses itu harus dipelajari dan diusahakan dengan sungguh-sungguh. Dan jangan dihantui atau dibodohi rasa takut mengajari anak bekerja keras dan cerdas karena ada larangan atas nama mematuhi perundang-undangan perlindungan anak dan tenaga pekerja anak yang belum tentu memberi bermanfaat bagi pemberdayaan anak (Penulis, Dosen FKIP Untan dan Ketua BAP S/M Kalbar)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Mutu atau Mati

Plagiat di Perguruan Tinggi

Meningkatkan Hasil UN

Lelang Jabatan

Tanjungpura Nama Kampusku