Membangun Budaya Gemar Membaca

Opini Ilmiah


Senin, 26 Mei 2014 - 13:46:33 WIB | dibaca: 1579 pembaca



Oleh: Aswandi
 
Peradaban manusia berubah dan tumbuh sebagai dampak dari kemampuannya beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi akibat dari kemampuan belajar yang antara lain diperoleh melalui membaca. Ketika nabi Muhammad Saw memohon kepada TuhanNya di Qua Hira agar masyarakat Arab pada saat ini menjadi masyarakat yang beradab dan bermartabat, Allah SWT justru memerintahkan kepadanya agar menjalankan misi keumatan yakni membangun kesadaran membaca umat manusia; “Iqra’ ya Muhammad”.

Membaca juga berdampak bagi kesehatan, baik kesehatan fisik maupun kesehatan mental. Fakta lain, sebanyak 60% dari penghuni penjara adalah orang yang hanya sedikit membaca, dan siswa gagal di sekolah karena tidak bisa membaca.

Membangun budaya gemar membaca dilakukan melalui penyediaan buku atau karya tulis dan perpustakaan, taman bacaan atau rumah baca.
Robert B. Downs (2001) dalam bukunya”Books That Change The World” dan Andrew Taylor (2008) dalam bukunya “Buku-Buku yang Mengubah Dunia” mengatakan bahwa sepanjang sejarah, dapat kita temui bukti bertumpuk-tumpuk menunjukkan bahwa buku bukanlah benda yang remeh, jinak dan tidak berdaya, melainkan sebaliknya, buku seringkali adalah biang yang bersemangat dan hidup, berkuasa mengubah arah perkembangan peristiwa, kadang-kadang demi kebaikan dan kadang-kadang demi keburukan.

Pada zaman apapun dan dimanapun, jika adi kuasa atau suatu pemerintah otoriter bermaksud untuk menindas golongan oposisi, mereka lakukan dengan cara menghancurkan pikiran yang tertulis pada buku dan karya pikiran atau karya tulis, bahkan membunuh pengarangnya. Untuk maksud yang lebih besar dengan usaha lebih efektif dan efisien, menghancurkan sebuah negara misalnya, buku seringkali digunakan sebagai instrumen neocolonialisme.

Greg Mortenson menulis dua buah buku, berjudul Three Cups of Tea, dan Stones into Schools yang isinya memberi informasi mengenai keberhasilan merubah perilaku masyarakat di pedalaman Afganistan dan Pakistan yang diusahakan melalui buku, bukan melalui senjata. Karena bernasnya dua buku tersebut yang mengajarkan tentang penaklukan melalui buku, maka semua tentara Amerika Serikat diwajibkan untuk membaca dua buku tersebut.

Tidak jarang perlawanan dilakukan dengan cara menghancurkan buku. Fernando Bacz (2013) dalam bukunya “Penghancuran Buku Dari Masa Ke Masa” menegaskan bahwa pehancuran sebuah peradaban atau bangsa dapat dilakukan melalui “Penghancuran Buku”. Oleh karena itu, buku dan karya tulis lainnya harus disimpan dan terjaga dengan baik di tempatnya, seperti penulis lihat sendiri di banyak perpustakaan di Cina.

Quraish Shihab mengutip hasil penelitian profesornya di Al-Azhar University tentang pengaruh buku yang dibaca menyimpulkan bahwa kemajuan dan kemunduran sebuah bangsa dapat ditelusuri ke belakang, yakni 20 tahun sebelumnya mengenai buku yang dibaca masyarakatnya. Penelitian terbaru tentang pengaruh buku yang dibaca terhadap perubahan perilaku pembacanya jauh lebih cepat lagi, yakni cukup 5 tahun.

Malcolm Gladwell (2013) dalam bukunya “The Tripping Point” menyampaikan hasil riset yang menyimpulkan bahwa “Di era Information Technology (IT), membaca melalui buku tetap lebih efektif dibanding membaca melalui IT”.
Fenomena akhir-akhir ini, buku terlaris (best seller) di dunia ini adalah buku yang ditulis oleh praktisi sukses, dan buku memuat biografi orang sukses yang inspiratif.

Sebuah tesis yang masih diyakini hingga saat ini, bahwa pendidikan, pembelajaran, dan membaca berlangsung sepanjang hayat. Mereka yang terus belajar dan membaca adalah mereka yang tetap eksis dalam hidupnya. Riset membuktikan, keberhasilan hidup 1/3 ditentukan oleh prestasi pendidikan formal terbaik. Selebihnya, 2/3 ditentukan oleh pendidikannya di luar lembaga pendidikan formal melalui kesadaran diri sendiri untuk belajar dan membaca secara terus menerus.

Torsten Husen (1986) dalam bukunya “Masyarakat Belajar” dan pakar pendidikan lainnya menegaskan bahwa kontrol dan tanggung jawab belajar atau membaca ada pada sibelajar atau sipembaca itu sendiri. Sementara guru dan pemerintah hanya berperan sebagai animator (penggerak) dan fasilitator (memudahkan). Jadi, muara dari semua usaha pemberdayaan manusia apapun bentuk dan jenisnya adalah belajar dan membaca.

Dalam usaha membangun budaya gemar membaca masyarakat, maka; (1) diperlukan pemahaman yang benar dalam pembelajaran membaca tersebut sebagaimana yang terjadi di Finlandia, sebuah negara yang dikenal termaju mutu pendidikannya dan tertinggi indeks membaca masyarakatnya di dunia ini. Padahal di negara Finlandia tersebut terdapat undang-undang yang melarang anak usia dini diajari membaca. Fenomena tersebut terasa paradox, Namun yang sebenarnya adalah momentum yang tepat dalam mengajar membaca adalah setelah seorang anak memiliki penguasaan kosakata yang diperolehnya melalui berdongeng atau bercerita, dikutip dari Jim Trelease (2008) dalam bukunya “Read-A;oud Hanbook”; dan (2)  pentingnya menghadirkan perpustakaan di banyak tempat sebagaimana dilakukan John Wood (2009) dalam bukunya “Room to Read”, ia menceritakan pengalamannya meninggalkan karier di Microsof demi membangun 7.000 perpustakaan desa di pelosok dunia, dan sukses membangun budaya gemar membaca masyarakat. Di warung kopipun sesungguhnya, budaya gemar membaca dapat dilakukan sebagaimana survei Unit Pelayanan Perpustakaan Provinsi Kalbar, menyimpulkan bahwa sebanyak 160 responden (59%) mengaku pernah membaca di warung kopi. Sebanyak 48% membawa bahan bacaan sendiri, 44% membaca bahan yang sudah disediakan, dan 8% membaca bahan bacaan dibeli secara spontan, dikutip dari Pontianak Post, 24 Mei 2014.

UU RI No.43/2007 tentang “Perpustakaan” telah mengatur pembudayaan gemar membaca melalui pengembangan dan pembangunan perpustakaan sebagai sumber belajar masyarakat berdasarkan asas; pembelajaran sepanjang hayat, demokrasi, keadilan, keprofesionalan, keterbukaan, keterukuran,  dan kemitraan. Masyarakat berperan serta dalam pembentukan atau pendirian, penyelenggaraan, pengelolaan, pengembangan dan pengawasan perpustakaan, taman bacaan dan rumah baca. Misalnya, bagi keluarga difasilitasi oleh pemerintah, pemerintah daerah melalui buku murah dan bermutu, bagi satuan pendidikan dilakukan dengan mengembangkan dan memanfaatkan perpustakaan sebagai proses pembelajaran dan bagi masyarakat dilakukan melalui penyediaan sarana perpustakaan di tempat-tempat umum yang mudah dijangkau/diakses, murah, dan bermutu. Tentu saja tidak hanya diserahkan kepada masyarakat, pemerintah, pemerintah daerah dan stakeholder bekerjasama membngun budaya gemar membaca dan jangan lupa memberi penghargaan kepada masyarakat yang telah berhasil melakukan gerakan pembudayaan gemar membaca tersebut. Dalam rangka mewujudkan masyarakat Kalbar gemar membaca, FKIP Untan Tahun Akademik 2014/2015 ini menerima mahasiswa jalur mandiri pada Program Studi D3 Perpustakaan (Nara Sumber, Dosen FKIP Untan dan Direktur The Aswandi Foundation)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Orang Asing di Rumah Kita

Dimensi Pembelajaran Bermakna

Seleksi Calon Mahasiswa Baru Universitas Tanjungpura 2014

Bangkit Itu Mudah

Kepemimpinan Berbasis Kekuatan