Memaknai Kembali Genius

LEBIH dari satu abad, test IQ dipercaya dalam mempetakan kecerdasan manusis, seperti genius, normal, dan ediot. Test IQ diyakini menghasilkan nilai sebagai alat peramal paling valid dan murah untuk mengukur prestasi akademik dan kinerja dalam semua profesi yang diteliti. Hasil test IQ menempatkan seseorang berbeda di tengah masyarakat, misalnya sang genius sering diidentikkan dengan kecerdasan matematika atau eksakta, berada pada posisi puncak atau di atas, sementara klasifikasi normal yang umumnya dalam bidang ilmu sosial dan humaniora ditempatkan atau berada pada posisi di bawah, apalagi ediot dipandang hanya sebelah mata atau tidak diperhitungkan sama sekali karena dianggap hanya menjadi beban pihak lain. Tidak hanya sebatas itu, klasifikasi kecerdasan hasil test IQ membedakan seseorang dalam memperoleh akses atau layanan pendidikan, misalnya sang genius memiliki akses yang lebih dari yang normal dan seterusnya. Hasil test IQ bias gender karena berpihak kepada laki-laki kulit putih, perbedaan antara kelompok mayoritas dan minoritas, dan masih banyak bukti lain tentang ketidakakurasian test IQ ini.

Taufik Pasiak (2008) dalam bukunya “Revolusi IQ/EQ/SQ” bercerita tentang Theodore John Kaczynki, sang genius ahli matematika, pada usia 20 tahun memperoleh gelar sarjana dan setahun kemudian di usia 21 tahun memperoleh gelar doktor dari universitas bergensi atau prestisius di dunia, yakni Harvard University dan Michigan University  dengan bom yang diciptakannya sendiri membunuh 3 orang, melukai 23 orang, dan merancang teror bom selama 27 tahun. Gelar tambahan melekat pada dirinya “Orang Genius yang Jahat”.

Kemudian, sebagian ahli ilmu jiwa berpendapat bahwa hasil dan pernyataan test IQ adalah bias dan mengandung hanya sedikit kebenaran”, dikutip dari Lilienfeld, Lynn, Ruscio dan Beyerstein (2012) dalam bukunya “50 Great Myths of Popular Psychology”.

Anehnya, hingga saat ini test IQ yang sudah sangat diragukan kesahihan, akurasi dan keabsahannya itu, tetap atau masih saja digunakan dalam banyak kepentingan, seperti sistem atau mekanisme seleksi, rekrutmen dan penempatan. Boleh jadi sikap jumud sebahagian kita terhadap ketidakbenaran (fallacy) ini menandai bahwa kita telah kehilangan petunjuk atau hidayahNya.

Dikaji secara lebih mendalam mereka yang selama ini dikategorikan sebagai manusia genius, seperti Thomas Alfa Edison, Albert Einstein, Michel Angelo, Lo Tzu, Leonardo da Vinsi, dan BJ. Habibie. Faktanya, informasi yang diperoleh tentang mereka yang selama ini dikenal manusia genius tidak satupun dapat disimpulkan bahwa genius itu terkait dengan hasil test IQ.

Thomas Alfa Edison, dikenal selaku penemu lampu pijar mengatakan bahwa genius adalah 1% (satu persen) inspirasi, 99% (sembilan puluh sembilan persen) keringat.
Albert Eintein, dikenal seorang fisikawan dengan teori relativitasnya mengatakan bahwa genius itu adalah sesuatu yang sangat tinggi, jauh lebih tinggi dari ilmu pengetahuan, ia adalah imajinasi. Jadi menurut beliau, imajinasi lebih dari pengetahuan.

Michel Angelo, dikenal selaku pemahat raja Daud mengatakan bahwa genius adalah kesabaran terus menerus.
Lo Tzu, selaku filosof China mengatakan bahwa genius adalah kemampuan melihat sesuatu di dalam benih.

Leonardo da Vinsi, dikenal selaku pelukis lukisan Monalisa mengatakan bahwa genius adalah mereka yang paling bersemangat ketika mengerjakan pekerjaan sepele,
BJ. Habibie, dikenal selaku teknokrat yang menghasilkan paten dari komponen pesawat dan mantan Presiden RI. Ketika seorang sutradara menyampaikan keinginan untuk mengangkat tentang kegeniusan di layar lebar (film), justru beliau lebih tertarik mengangkat tema kasih sayang atau cinta kasih seorang suami terhadap istrinya dan seorang ayah dari anak-anaknya dalam memaknai genius itu. Jika boleh penulis simpulkan makna genius seorang Habibie adalah mencintai dan menyayangi.     

Ratna Megawangi sependapat terhadap keyakinan dan sikap bapak BJ. Habibie tentang mencintai dan menyangi itu sebagai manifestasi dari apa yang selama ini dikenal dengan istilah genius karena secara akademik telah terbukti bahwa kesempurnaan manusia dipengaruhi oleh pola asuh orang tua, guru dan pendidik lainnya. Seorang anak yang bertumbuh kembang dalam suasana cinta kasih, maka setelah dewasa nanti, ia akan menjadi orang dewasa yang menyayangi orang lain, dan berlanjut bagi generasi berikutnya.

Ketika malaikat ditanya, siapa diantara manusia yang layak disebut genius atau pintar?. Jawabannya adalah manusia yang selalu ingat akan kematiannya dan senantiasa meningkatkan amal ibadahnya untuk menghadapi kematian itu.

Ken Blanchard selaku pakar kepemimpinan mengatakan bahwa ditemukan banyak orang cerdas atau genius dan berbakat, tetapi tidak sukses dalam hidupnya karena mereka tidak memiliki kepemimpinan diri (self leadership) yang baik. Predikat genius yang disandangnya tidak menjadikan ia memahami siapa dirinya.    
Dalam kehidupan nyata, telah terbukti bahwa apa yang selama ini dikenal sebagai genius adalah kecerdasan yang bersifat sosial dan spiritual, bukan kecerdasan intelektual. Pemahaman tentang kecerdasan intelektual lebih bersifat teoretis.  

Stoltz mengatakan seseorang dikatakan genius adalah mereka yang memiliki kecerdasan tinggi dalam menghadapi setiap kesulitan yang dicirikan; (1) memiliki kontrol diri atau sabar; (2) ownership atau cerdas melihat ke dalam dirinya; (3) tidak merembeskan kesulitan ke bagian lain dalam kehidupannya; dan (4) menyakini masalah tidak abadi kecuali takdirNya. Terlihat jelas dari kemampuannya dalam mendengar, mengeksplorasi, menganalisis dan bertindak.

Memperhatikan fenomena tersebut, maka tidaklah salah jika apa pendapat mengatakan bahwa “yang penting dalam pendidikan itu bukanlah IQ, melainkan I WILL”
Paulo Freire, seorang bapak pendidikan Brazil menghabiskan waktu dalam hidupnya untuk suatu keyakinan bahwa pendidikan adalah pembebasan dan hakikat dari pendidikan itu adalah kesadaran manuia terhadap kemanusiaannya..

Thomas Amstrong memiliki keyakinan yang sangat tinggi bahwa semua manusia adalah genius atau cerdas dan apabila mereka memperoleh pendidikan yang baik dan benar sesuai dengan kegeniusan yang dimilikinya, maka semua manusia dapat mewujudkan dirinya sebagai sang juara. Oleh karena itu, tantangan ke depan adalah membangun kesadaran tentang keragaman kecerdasan manusia dan mengkombinasikannya agar kita lebih punya peluang menangani berbagai masalah yang kita hadapi di dunia ini dengan baik  (Penulis: Aswandi - Dosen FKIP Untan, Direktur The Aswandi Foundation)