Memaknai Awal Perubahan

Opini Ilmiah


Senin, 05 Januari 2015 - 09:35:33 WIB | dibaca: 913 pembaca



Gambar Latar Masjid Sultan Omar Ali Saifuddin - Brunei Darussalam.

Oleh: Aswandi
 
SETIAP kali pergantian tahun, kita selalu diingatkan agar tahun ini lebih baik dari tahun kemarin agar digolongkan ke dalam kelompok mereka yang beruntung.

Pakar sepakat bahwa perubahan yang lebih baik sangat tergantung pada awal perubahan itu dilakukan.
Fullan (1993) dalam bukunya; “The New Meaning of Educational Change” mengatakan setiap kali membicarakan perubahan, maka yang perlu mendapat pemahaman dan perhatian adalah pemahaman tentang proses perubahan, terutama fase awal perubahan.

Hall, pencetus “Concern Based Adoption Model” memberikan pemaknaan awal perubahan adalah made by individuals first, then by institutional. Sementara, faktor utama yang sangat mempengaruhi setiap awal perubahan itu adalah pola pikir (mindset) dan semangat.

William Bridge (2005) dalam bukunya; “Managing Transitions” menjelaskan bahwa sesungguhnya masalah atau kegagalan kita hingga saat ini bukanlah kurang dan rumitnya perubahan itu, melainkan disebabkan pengelolaan awal perubahan yang belum berjalan efektif.

Awal perubahan sangat tergantung pada pengakhirannya, Hall menyebutnya fase awareness. Dengan kata lain permulaan itu sangat ditentukan oleh “Kualitas Pertaubatan”. Dan penulis berkeyakinan, bahwa sulit dan gagal kita melakukan perubahan karena pertaubatan kita berpenyakit. Diingatkan, setiap pintu keluar adalah pintu masuk ke suatu tempat lain, namun sayangnya banyak orang tidak suka mengakhirinya, karena telah terperangkap dalam “zona kenyamanan”. Justru yang harus terjadi di awal perubahan itu adalah melakukan pengekangan aktif penuh pengorbanan dan kemampuan melawan diri sendiri guna mengakhiri nilai lama yang sangat sulit ditinggalkan itu. Dan hampir semua orang mengalami pengakhiran atau pertaubatan yang sulit, kehilangan psikologis yang sangat besar, merasa terombang ambing, kecemasan meningkat dan motivasi merosot, mudah terpolarisasi karena cara lama harus sudah ditinggalkan, tetapi cara baru belum terbentuk atau belum dirasakan nyaman.

Anatole France seorang penulis Prancis mengatakan; “Semua perubahan, bahkan yang sangat dinantikan memiliki suasana sedih tersendiri, karena apa yang kita tinggalkan adalah bagian dari kita sendiri, kita harus mati untuk satu kehidupan sebelum kita dapat memasuki kehidupan lainnya”.

Selain pertaubatan berkualitas, awal perubahan yang baik ditentukan oleh respons yang tepat terhadap masalah yang dihadapi. Arnold Toynbee melakukan penelitian sejarah secara mendalam di 26 bangsa mengenai maju dan mundurnya sebuah bangsa, akhirnya menyimpulkan bahwa; “Kebangkitan umat manusia bergantung pada kemampuannya menghasilkan respons yang tepat terhadap tantangan dan masalah yang dihadapinya” yang diimplementasikan ke dalam rencana tindak (action plan). Penulis amati selama ini, seringkali rencana tindak disusun tidak berdasarkan data, fakta dan permasalahan yang sedang dihadapi, bahkan tidak jarang copy paste atau menciplak.

Pada tahun 2015 ini, penulis mengamati banyak persoalan di bidang pendidikan yang  harus segera diselesaikan, seperti; (1) kualifikasi akademik dan sertifikasi pendidik harus sudah tuntas paling lambat 31 Desember 2015. Jika tidak tertuntaskan, maka guru yang bersangkutan akan menerima sanksi administrasi dan kepegawaian; (2) dampak dari perubahan kurikulum, pihak sekolah dan pemerintah daerah segera mendapat kejelasan mengenai penyelenggarakan Ujian Nasional (UN) atau Evaluasi Nasional (EN) 2015. Siapa melakukan apa. Penelitian yang pernah kami lakukan membuktikan bahwa rendahnya mutu UN sangat dipengaruhi oleh perubahan kurikulum. dan (3) masih banyak sekolah dan madrasah yang belum diakreditasi ulang dan dalam status tidak terakreditasi. Hal ini akan berdampak pada legalitas ijasah mereka dikemudian hari.

Selain respons yang tepat dengan dukungan data akurat terhadap masalah yang sedang dihadapi, satu hukum yang selalui menyertai awal perubahan adalah melakukan perubahan dari hal-hal kecil, karena yang demikian itu menjadi dasar  atau modal dalam melakukan perubahan yang lebih besar.

Pada saat ini Undang-Undang Desa” telah ditetapkan dan dana membangun desa sudah disiapkan, persoalan selanjutnya adalah bagaimana mengawali perubahan itu dari desa atau kampung untuk Indonesia.   

James L. Peacock (1986) menyatakan bahwa “keberhasilan para pembaharu memulai aktivitasnya atas kesadaran teosentrisme dan selalu dimulai dari kampung asalnya, bergerak dari dalam, bukan dari luar”. Ia mengambil contoh dari seorang Haji Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah 1912 di kampungnya Kauman Yogyakarta. Keberhasilan Haji Ahmad Dahlan karena dorongannya untuk tidak hanya menjadi “man of thought and man of teach” tetapi juga menjadi “man of action” atau  tidak hanya ingin pandai ngomong dan menggurui orang lain tapi lebih mengutamakan mengajari masyarakatnya melalui beramal sholeh. Demikian pula Haji Hasyim Asyari, seorang ulama besar dan dikenal sebagai pendiri Nahdatul Ulama (NU) di negeri ini, berasal dari desa Tabuireng Jombang.

Satu sisi kehidupan mereka adalah sekembalinya dari menuntut ilmu di Timur Tengah dan berbagai negara, beliau pulang ke kampung asalnya bermodalkan sedikit harta yang dimilikinya, seperti; lemari, meja dan kursi tua untuk mendirikan sebuah sekolah atau pesantren. Mereka tahu pintu masuk membangun peradaban dan kemajuan adalah melalui pendidikan.

Dan tak terbayangkan peristiwa yang bermula dari kampung yang oleh masyarakat sekarang terasa sangat aneh dan memilukan itu jusru membuahkan karya besar dalam pembangunan peradaban Indonesia. Tampaknya para pembaharu lain yang berhasil membangun masyarakatnya selalu memulai sesuatu dari dirinya sendiri, dari yang kecil dan dari sekarang juga dengan perbuatan nyata bukan hanya berpidato atau ngomong.  Rene de Clerque, penyair Belanda di akhir abad ke-19 mengatakan bahwa; “Hanya ada satu negara yang menjadi negaraku, ia tumbuh dengan perbuatan, dan perbuatan itu adalah perbuatanku”,

Kisah tersebut di atas membuktikan “Hukum Pareto atau 20/80 dimana sedikit orang (20%) dapat melakukan perubahan besar (80%) selama yang sedikit itu berfungsi sebagai “Agent of Change”, bukan “Monsters of Change”.

Insyaallah bisa, banyak kepala daerah telah melakukannya, seperti; Bapak Muda Mahendra telah membuktikannya, sejak beliau menjabat bupati Kabupaten Kubu Raya hingga sekarang memiliki optimisme membawa Indonesia lebih maju dari desa dengan slogan “Dari Kubu Raya (maksudnya dari desa-desa di KKR) untuk Indonesia”. Bapak Hildi Hamid selaku bupati Kabupaten Kayong Utara melakukan hal yang sama yakni membangun desa. Beliau memprogramkan 10 sarjana setiap desa/tahun yang saat ini sedang melanjutkan studi di berbagai perguruan tinggi di Indonesia, Penulis juga mendengr, hal yang sama dilakukan oleh bapak Nasir bupati Kabupaten Kapuas Hulu dan bapak bupati Suyatman Gidot di Kabupaten Bengkayang. Kita doakan semoga semua pemimpin daerah yang sangat peduli terhadap desanya selalu dalam keadaan sehat walafiat, dan dalam bimbinganNya. Amiiin (Penulis, Dosen FKIP Untan dan Direktur The Aswandi Foundation)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Pendidikan Indonesia Gawat Darurat

Kasih Sayang Ibu

Memilih Rektor Tepercaya

Diminta Kembali Menjadi Rektor

Memulai Perubahann