Melawan Rasa Takutt

Opini Ilmiah


Selasa, 19 Januari 2016 - 10:27:12 WIB | dibaca: 469 pembaca


Oleh: Aswandi

Mendengar berita terjadi penyerangan dan peledakan di Sarinah Jakarta oleh para teroris dan menelan korban. Bapak Joko Widodo selaku presiden RI ketika itu berada di Kota Bogor membatalkan semua kegiatannya dan kembali ke Jakarta. Setibanya di Jakarta, beliau menyampaikan pesan pendek agar negara, bangsa dan rakyat tidak takut dan merasa kalah oleh aksi teror seperti ini. Alhamdulillah pesan singkat tersebut mampu menciptakan rasa tenang dan rasa aman masyarakat, dan polisi bekerja sangat baik dan serius sehingga dalam waktu singkat kondisi ibu kota dapat dikendalikan dan pulih kembali sebagaimana biasa meskipun masih dirasakan suasana lengang, sedikit ada rasa takut yang mengharuskan agar kita tetap waspada.

Di hari berikutnya, berbagai komponen masyarakat sipil berkumpul menjawab pesan presiden RI yang sampaikan sebelumnya, baik secara langsung maupun melalui jejaringan sosial dinilai sangat efektif, melalui tiga kata, yakni “Kami Tidak Takut” atau “We Are Not Afraid”.

Pesan dua kata saling berjawab “Jangan Takut” dan “Tidak Takut” tersebut tidak terbatas hanya dalam urusan menghadapi para teroris dan penjahat semata, melainkan digunakan untuk semua urusan, apalagi di era persaingan bebas yang sangat ketat dan membutuhkan inovasi ini.

Melawan ketakutan adalah sangat penting karena setiap usaha dan kesuksesan itu selalu berteman akrab dengan keberanian atau rasa tidak takut. Di dunia ini, tidak ada kesuksesan, di bidang apapun kesuksesan itu diperoleh dari tangan para pengecut.

Orang bijak berkata, “Jangan takut hidupmu tidak berakhir dengan segala keberhasilan, tetapi takutlah akan hidupmu yang tak bermula”. Nasehat senada, “Jangan mencela mereka yang mencoba dan gagal, tetapi celalah mereka yang gagal (takut) mencoba”. 

Soihiro Honda, satu diantara orang kaya di dunia ini mengatakan “yang dilihat dari kesuksesan saya hanyalah 1%, tetapi yang tidak mereka lihat dari kegagalan saya adalah 99%”, ini membuktikan orang kaya dunia tersebut tidak takut gagal.

Pentingnya melawan rasa takut ini, diakui oleh dua orang tokoh nasional di negeri ini, yakni bapak Amien Rais dan Sri Bintang Pamungkas.. Ketika penulis tanyakan kepadanya tentang rasa takut ini, beliau menjawab, “Di dunia ini meraka hanya takut kepada Allah SWT dan kepada ibunya”. Menurut keyakinan penulis, pernyataan tersebut sangat beralasan, karena ridho Allah SWT dan ridho kedua orang tua, terutama ibu menjadi sumber keselamatan hidup, baik di dunia maupun di akhirat.

Jika dulu sebelum kemerdekaan, ada slogan “Merdeka atau Mati”, slogal tersebut tidak terlepas atau sama maknanya dengan sebuah pesan moral agar bangsa ini jangan takut, terbukti melalui seruan tersebut Indonesia mencapai kemerdekaannya, semestinya setelah kemerdekaan seperti sekarang ini virus rasa tidak takut ini ditanam dan diamalkan secara lebih bermakna dalam kehidupan, baik kehidupan pribadi maupun kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun anehnya dengan bangsa (perusahaan) asing, di rumah sendiri, kita takut. Dan tanpa disadari ternyata dalam praktek menyelenggarakan pemerintahan rasa takut itu diajarkan kepada masyarakat.  Misalnya, Rhenald Kazali (2014) dalam bukunya “Let’s Change“ mengatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa dimana para elit dan pemimpinnya bisa membedakan antara kesalahan dan kejahatan. Penjara semakin penuh dihuni oleh mereka yang ditangkap karena melakukan kesalahan, jangan-jangan kita telah lebih banyak menangkap orang yang “bersalah” ketimbang mereka yang “jahat”, akibatnya mereka takut salah, takut gagal sehingga takut memulai, kreatifitas dan inovasi yang sangat diperlukan di era persaingan ini menjadi tidak tumbuh dan tidak berkembang dengan baik pada diri setiap orang. Mengutip pendapat Lord Erlington yang mengatakan bahwa “pemimpin yang tidak melakukan kesalahan adalah pemimpin yang tidak melakukan apa-apa”. Regulasi atau perundang-undangan dan peraturan yang dijadikan dasar dalam mengatur penyelenggaraan berbangsa dan bernegara selama ini, tidak mustahil justru berpotensi menghambat kemajuan bangsa selama ini.

Contoh lain, dalam proses pendidikan dan pembelajaran sering kali dilakukan dengan metode menakuti, digunakan kata “Jangan!” sehingga  satu kata tersebut berdampak terhadap pembodohan atau ketidakberdayaan peserta didik, baik di rumah, di sekolah/perguruan tinggi maupun di masyarakat. Proses pendidikan dan pembelajaran seperti ini harus segera dihentikan, dan digantikan dengan proses pendidikan dan pembelajaran yang membebaskan (freedom of learning) dan pembelajaran yang menyenangkan (fun learning).

Penulis percaya, jika sejak dulu melawan rasa takut telah diajarkan dalam proses pendidikan dan pembelajaran secara efektif, maka bangsa ini akan jauh lebih maju dari sekarang ini, artinya proses pendidikan dan pembelajaran yang salah selama ini memiliki kontribusi membuat bangsa ini mengalami keterlambatan dalam perkembangan dan kemajuannya.

Ketika ingin melawan rasa takut, maka pertama yang diperlukan adalah pemahaman kita terhadap sumber rasa takut itu berasal. Menurut penulis, setidaknya rasa takut tersebut berasal dari diri sendiri dan ketidakbenaran atau kesalahan.

Rosevelt, seorang presiden Amerika Serikat mengatakan, “keterbelakangan bangsa ini akibat ketakutan yang diciptakan oleh dirinya sendiri”.

Pepatah lama dan masih berlaku hingga saat ini adalah berani karena benar dan takut karena salah. Jadi, melawan rasa takut harus dimulai dari sebuah keyakinan tentang kebenaran dan kebaikan. Jika harus menyampaikan sesuatu, maka sampaikanlah sesuatu itu adalah kebenaran, terutama kebenaran illahi (Allah SWT) baik yang tertulis di dalam kitab suci maupun yang terbentang di alam semesta sebagai hukum sunatullah yang diperlukan untuk kebaikan dengan penuh rasa tanggung jawab. Penulis percaya, nasehat Aristoteles seorang filosof tersebut menjadi pembelajaran yang baik dalam melawan rasa takut.

Berdasarkan beberapa sumber rasa takut tersebut di atas, maka internalisasi nilai-nilai kebenaran, terutama yang sangat diperlukan, tentu saja untuk kebaikan dengan rasa penuh tanggung jawab itu harus ditanam sejak dini pada setiap orang melalui proses pendidikan dan pembelajaran yang baik dan benar

(Penulis, Dosen FKIP Untan)


Berita Terkait Opini Ilmiah /

Selamanya adalah Sama

Agenda Pendidikan 2016

Maling Teriak Maling

Revolusi Mental Bidang Pendidikan

Menerima dan Bangkit dari Kekalahan