Melawan Rasa Takut

Opini Ilmiah


Senin, 23 Februari 2015 - 12:09:41 WIB | dibaca: 981 pembaca



Foto: di Great Wall of China - Tembok Besar China

Oleh: Aswandi
 
SELAMA ini diyakini bahwa rasa takut menyebabkan seseorang sulit dan ragu mengambil keputusan atau bertindak, dan tidak jarang akhirnya mereka gagal dalam hidupnya. Faktanya tidak hanya demikian, rasa takut setelah mendapat penguatan dengan spontan mendorong seseorang dan sekelompok orang bertindak anarkis di luar kemanusiaan. Para penakut dan pengecut menjadi pemberani, mereka yang tadinya penurut menjadi pembangkang, dan seterusnya.

Rasa takut menghambat kemajuan dan pertumbuhan. Mereka pemilik rasa takut pada umumnya bersikap kurang kreatif dan inovatif. Mereka masih berpandangan bahwa takut karena salah dan berani karena benar, akibatnya mereka takut salah atau takut gagal dan tidak berani melakukan sesuatu. Barangkali mereka lupa atau tidak tahu bahwa tidak ada orang sukses dalam hidupnya yang tidak pernah mengalami kesalahan dan kegagalan, bahkan tidak sedikit mereka yang sukses itu sebelumnya lebih banyak salah dan gagalnya. Misalnya Soichiro Honda, seorang pengusaha sukses di dunia mengatakan, “Yang dilihat orang dari kesuksesan saya hanya 1%, tetapi apa yang tidak mereka lihat sebanyak 99% adalah kesalahan dan kegagalan saya”.

Di negeri ini orang salah dihukum, akibatnya banyak orang tidak berani melakukan sesuatu karena takut salah dan dihukum itu. Sebaiknya menghukum orang salah itu setelah melalui proses yang sangat teliti sehingga mereka diihukum karena terbukti melakukan kejahatan dan bukan karena melakukan kesalahan. Dengan perkataan lain, kejahatan yang dihukum bukan kesalahan.

Selain menghambat kemajuan, melawan rasa takut wajib dilakukan, karena rasa takut yang tidak terkelola dengan baik membuat seseorang atau sekelompok orang menjadi pendendam, dan bahkan bertindak di luar batas kemanusiaan. Faktanya, Fahrizal Batubara dengan rasa bangga karena telah membunuh ayah, ibu, dan  empat orang saudara kandungnya di Medan (Jawa Pos, 03 Nopember 1998). Yusuf dan abangnya Marsi membunuh ayah kandungnya Bizar di Langkat Sumatera Utara (GAMMA, 05 September 1999), mahasiswa/i dan masyarakat beramai-ramai menurunkan Soeharto dari jabatan presiden RI ke-2 setelah 32 tahun berkuasa di negeri ini, masih banyak kasus serupa yang tidak mungkin penulis sebutkan satu per satu di sini.

Penulis, pembaca dan kita semua tidak mendapat jaminan atau garansi terbebaskan dari perilaku jahat atau negatif dari seseorang atau sekelompok orang yang barangkali tindakan mereka sebagai pelampiasan dari rasa takut yang terpendam selama itu.
Setelah dipelajari secara mendalam, Fahrizal seorang anak yang sehari-hari dikenal lugu dan pendiam, setelah remaja melakukan kekerasan kepada orang tua dan saudara-saudara kandungnya di luar kemanusiaan. Yusuf dan abangnya Marsi juga demikian, yang saat kecil dikenal santun, setelah dewasa berubah menjadi kasar dan biadab. Masyarakat, khususnya mahasiswa/i yang sangat hormat dan patuh terhadap Soeharto, di awal era reformasi beramai-ramai melawan, memaki, menghina presidennya.

Sikap kontroversial bersifat destruktif itu terjadi sebagai sebuah bentuk melawan rasa takut yang sudah terpendam lama tanpa pernah diupayakan dan dikelola dengan baik untuk keluar dari zona pikiran alam bawah sadar mereka.
Dan mereka berani (tidak takut) kepada seseorang dan/atau sekelompok orang yang dulunya sangat ditakutinya karena mereka merasa sudah memiliki kekuatan melawan, baik karena kekuatan yang dimilikinya sendiri dan/atau dipersepsi oleh mereka ada pihak tertentu yang tentu saja memiliki kekuatan mendukung sikap mereka, padahal belum tentu apa yang mereka persepsikan itu benar.

Asumsi tersebut sering kali membuat dua pihak berkonflik, pihak yang merasa didukung oleh penguasa semakin menjadi-jadi menekan pihak lain: kesalahan lama dan kesalahan kecil dari pihak lawan dimunculkan atau diungkit kembali, semut di seberang lautan kelihatan, sementara gajah di kelopak matanya tak kelihatan karena pola pikir (mindset) nya merasa diri benar, sementara orang lain salah. Dalam pandangan ilmu perilaku, konflik tak berkesudahan itu mudah sekali diselesaikan melalui intervensi pemilik kekuasaan. Oleh karena itu, benar jika masyarakat berkali-kali meminta pemimpinnya bertindak tegas dan berani membuat keputusan tentang hal itu.

Rasa takut cenderung mempengaruhi tindakan negatif seseorang. Oleh karena itu, rasa takut harus dilawan. Orang bijak mengatakan agar tidak mencela mereka yang mencoba gagal, celalah mereka yang takut atau gagal mencoba.     
Menurut Rosevelt, rasa takut itu diciptakan oleh diri seseorang. Oleh karena itu melawan rasa takut juga semestinya dilakukan oleh diri sendiri.   

Melawan rasa takut melalui pendekatan hukum dapat saja dilakukan agar menjadi “Efek Jera”. Namun dalam hal merubah perilaku kurang baik menjadi baik pada diri manusia akan menjadi lebih efektif dan efisien jika dilakukan melalui proses pendidikan yang baik dan benar berdasarkan tiga dimensi perubahan perilaku sebagaimana rekomentasi Fransisco University, yakni; (1) adanya  komitmen/niat; (2) modifikasi lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial; dan (3) monitoring dan evaluasi terhadap perubahan perilaku yang direncanakan.

Menurut pengamatan penulis, proses perubahan perilaku berdasarkan tiga dimensi tersebut di atas yang dikenal efisien yakni cukup 21 hari saja jarang dilakukan selama ini sehingga yang terjadi justru sebaliknya; pikiran, uang, dan tenaga telah banyak dihabiskan untuk memelihara dan membina para narapidana, ternyata setelah keluar dari terali besi tersebut justru kembali menjadi penjahat kambuhan atau residivist, penjara yang dikenal sebagai lembaga pemasyarakatan itu, ditemukan beralih fungsi sebagai tempat para penjahat meningkatkan kualitas kejahatannya.

Kohlberg dan Piaget selaku pakar moral mengatakan bahwa jika seseorang berperilaku baik karena adanya kewajiban hukum yang harus dipatuhinya, bahkan mereka mendapat reward akibat perilaku baiknya itu dan sebaliknya, maka mereka dapat digolongkan ke dalam kelompok orang yang memiliki tingkat atau kualitas moral yang rendah karena berperilaku baik baginya sebatas menggugurkan kewajiban hukum semata. Sementara seseorang dan sekelompok orang digolongkan ke dalam kelompok manusia yang memiliki kualitas moral tinggi, apabila perilaku baik dan tertib karena mereka berpandangan bahwa berperilaku baik, tertib dan terpuji itu adalah sebuah kebutuhan hidupnya dimana ia merasa tidak layak hidup apabila berperilaku kurang baik.

Sebelum mengakhiri opini ini, jika penjelasan di atas benar, maka penulis mengingkatkan kita semua agar tidak melakukan proses pendidikan, pengajaran, pengasuhan, dan menjalankan fungsi kepemimpinan dengan menggunakan kekuatan rasa takut atau coercive power karena pendidikan, pengajaran, pengasuhan dan kepemimpinan melalui kekuatan rasa takut itu hanya akan menimbulkan ketidaknyamanan di kemudian hari (Penulis, Dosen FKIP Untan dan Direktur The Aswandi Foundation)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Kebahagiaan Tidak Membahagiakan

Memikirkan Kembali Perguruan Tinggi

Bacaan Pertama dan Utama

Suksesi Kepemimpinan

Guru Inspiratif