Melawan Rasa Takut (2)

Opini Ilmiah


Rabu, 27 April 2016 - 08:40:05 WIB | dibaca: 451 pembaca


Oleh: Aswandi - Sandy McGregor menyimpulkan penelitiannya bahwa “banyak siswa gagal mencapai prestasi ujian, bukan karena mereka tidak menguasai materi ujian, melainkan lebih disebabkan adanya rasa takut menghadapi ujian itu, sebaliknya ada pula mereka takut menghadapi ujian karena merasa belum siap mengikuti ujian tersebut”. Kaufman seorang pakar evaluasi dalam bukunya “Evaluation of Fear” menyatakan hal yang sama bahwa ketakutan menyebabkan kegagalan. Dan banyak kasus lain, karena alasan takut tersebut sehingga tidak berbuat apa-apa, akibatnya berbuah gagal dalam hidupnya. Orang bijak berkata, “Jangan takut hidupmu tidak berakhir dengan kesuksesan, takutlah hidupmu tidak bermula”.

Chairul Tanjung dalam suatu orasi ilmiah mengatakan bangsa ini membutuhkan karya inovatif yang berdaya saing tinggi sebagai sebuah proses kreatif yang dimiliki sebagian warganya. Tentu saja memerlukan manusia pemberani atau tidak takut mencoba dan bertindak. Thomas Alva Edison seorang ilmuan telah menginspirasi umat manusia agar tidak takut mencoba dimana beliau telah melakukan 1000 kali percobaan sebelum menghasilkan temuannya dan ia merasa tidak pernah gagal, karena semua kegagalan baginya adalah kesuksesan yang tertunda.  

M. Nuh selaku Mendikbud pada waktu itu menyatakan bahwa generasi bangsa ini memerlukan DNA Inovator, yakni generasi muda yang memiliki virus; tidak takut menjaling komunikasi dengan pihak lain (asosiating), tidak takut menyampaikan pertanyaan (questioning), tidak takut mengamati (observing), tidak takut mencoba (exprimenting) dan tidak takut mmbangung jejaringan (networking). Implementasi lima DNA inovator tersebut menjadi dasar penyusunan Kurikulum 2013 (K-13). 

Pertanyaannya, mengapa masyarakat kita pada umumnya memiliki perilaku takut menanyakan, takut menyampaikan, takut mengamati, takut mencoba sesuatu yang baru dan takut membangun jejaringan. Hal ini dibuktikan dari rendahnya indek kreatifitas, inovasi, daya saing dan semangat kewirausahaan bangsa ini, jauh lebih rendah dibanding beberapa negara ASEAN lainnya. Jawaban sederhana terhadap kondisi tersebut sebagaimana dikatakan oleh Martin Seligman, yakni dampak dari proses belajar yang menakutkan dan tidak menyenangkan yang dijalaninya dari sejak kecil. Perhatikan pola asuh orang tua dan pendidik terindikasi mengajarkan rasa takut itu. Sering ditemui sejak kecil setiap anak ingin melakukan sesuatu, namun orang tuanya selalu mengatakan “Jangan”. Kata “Jangan” tersebut mengisi folder atau file di dalam alam bawah sadarnya. Ketika anak itu disuruh melakukan sesuatu oleh orang tua, guru dan orang lain di sekitarnya, maka kata “jangan” tersebut tampil duluan sebelum atau mendahului kata “siap atau aku bisa”, akibat anak menjadi tidak kreatif dan takut mencoba atau memulai.  

Selain itu, masih ditemukan banyak orang di sekitar kita memiliki perilaku suka mencela mereka yang mencoba dan gagal, tidak mencela mereka yang gagal mencoba. Faktanya, mereka yang suka mencela dan menyalahkan sehingga membuat orang lain takut mencoba adalah mereka yang sesungguhnya tidak berbuat apa-apa, kata orang tua “Hanya Pandai Menyalahkan”.

Renald Kazali dalam salah satu bukunya mengatakan di negeri ini, banyak orang dihukum karena melakukan kesalahan, yang semestinya mereka dihukum karena telah melakukan kejahatan. Dampak dari penegakan hukum yang demikian itu, semakin banyak orang takut mencoba dan memulai sesuatu, padahal memulai sesuatu itu adalah sangat penting untuk sesuatu yang lain terjadi. Jonathan Black seorang sejarahawan mengatakan, “Tiadapun materi, ruang dan waktu pada awalnya, sesuatu harus terjadi untuk membuat yang lain itu bermula”. Tesis tersebut sejalan dengan kesimpulan riset neurosience yang menyatakan bahwa otak akan mencatat apa yang ingin dikerjakan. Disarankan agar jangan takut memulai suatu pekerjaan, kerjakan apa yang bisa dikerjalan mulai sekarang juga. Meminjam istilah Albert Einsten, “First idea and than action”.    

Rasa takut juga sering dialami oleh banyak pengikut atau bawahan terhadap  pimpinan atau atasannya membuat mereka takut mencoba sesuatu yang baru dalam pekerjaannya, ia bekerja hanya untuk menjalankan suatu perintah, kekuasaan memaksa atau cursive menjadi ciri khas gaya kepemimpinan atasanya, biasanya terjadi pada organisasi berbudaya Asal Bapak Senang (ABS); senang dipuji dan benci atau marah dikritik. Mereka lupa, sifat senang dipuji dan benci dikritik itu seringkali menjadi faktor jatuhnya seseorang pemimpin dari kekuasaannya. Ketakutan pengikut terhadap pimpinannya dapat diatasi melalui upaya menciptakan komunikasi efektif, bukan komunikasi dari atas ke bawah berupa ancaman dan rasa marah sebagaimana sering dilakukan oleh pemimpin belakang ini.

Terorisme, radikalisme, narkoba dan banyak kejahatan lainnya mengintai kita dan membuat kita takut terhadap kejahatan tersebut, disikapi oleh pemerintah, khususnya Kemenristekdikti melalui Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan agar mahasiswa diberi pamahaman yang mendalam terhadap permasalahan bangsanya berupa ancaman dan kejahatan-kejahatan tersebut di atas. Mendasarkan pada hukum “Vicmatologi” bahwa setidaknya 40-60% kejahatan terjadi disebabkan oleh korban kejahatan itu sendiri karena ketidaktahuan dan kelalaiannya.

Pepatah lama mengatakan “Berani karena benar dan takut karena salah”. Maksudnya, dalam melawan rasa takut, maka pikiran, sikap dan tindakan kita harus didasarkan kepada sebuah nilai kebenaran, yang diperlukan untuk kebaikan. Jika ada diantara kita telah memiliki tiga aspek tersebut di atas, namun masih saja takut bertindak berarti ada sesuatu yang salah atau penyakit di dalam diri kita. Silakan introspeksi!
 
Melawan takut dapat dilakukan melalui memberi pemahaman tentang sumber rasa takut itu, diasumsikan bahwa mereka yang memiliki rasa takut tersebut akibat kurang memahami sumber ketakutan (Penulis, Dosen FKIP Untan)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Pejabat Dilarang Merokok

Bicara Pemimpin

Catatan Ujian Nasional

Aktor Kekerasan

Rasionalisasi PNS