Matinnya Pemimpin Karismatik

Opini Ilmiah


Selasa, 22 April 2014 - 11:23:20 WIB | dibaca: 1055 pembaca



TAHUN 2014 dikenal sebagai tahun politik. Tahun dimana pemimpin negara (presiden dan wakilnya) dan anggota legislatif dipilih. Dampaknya, dari hari ke hari semakin terasa negeri ini penuh sandiwara; pencitraan publik dan manipulasi informasi oleh mereka yang tidak bertanggung jawab terjadi dimana-mana, santapan kemunafikan menjadi sebuah peluang bisnis dan usaha yang sangat menguntungkan sekarang ini. Sementara informasi penting tentang kejatuhan sebuah bangsa akibat melemahnya institusi negera, baik legislatif seperti lembaga Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah , eksekutif, seperti lembaga kepresidenan maupun yudikatif kurang mendapat perhatian dan pemahaman masyarakatnya. Misalnya, tanda-tanda kematian pemimpin karismatik sudah semakin terang benderang, sementara para kandidat pemimpin dan konstituennya yang akan dipilih dan memilih pada pemilu 2014 nanti justru berduyun-duyun membangun karisma melalui pencitraan publik. Bagi penulis, barangkali juga bagi para pembaca sungguh-sungguh aneh dan paradox.

Gary Yukl (2005) dalam bukunya “Leadership in Organization” mengatakan sejarah lahirnya pemimpin karismatik sejalan peran emosional dan simbolis dari kepemimpinan.
Kata karismatik berasal dari kata “karisma” yang dalam bahasa Yunani berarti berkat yang terinspirasi secara agung, seperti kemampuan melakukan keajaiban, persepsi pengikut terhadap pemimpinnya karena kualitas luar biasa atau visi radikal yang dimilikinya menawarkan solusi bagi krisis sosial. Dengan mengorbankan diri, mengambil resiko pribadi, terkadang mendatangkan biaya tinggi untuk mencapai visinya. Hal ini sejalan dengan pendapat John C. Maxwell (2001) dalam bukunya “Laws of Leadership”, ia menyatakan bahwa orang dengan sendirinya mengikuti pemimpin-pemimpin yang lebih kuat dari dirinya. Jika orang menghormati seseorang sebagai individu, mereka mengaguminya. Jika mereka menghormatinya sebagai sahabat, mereka mengasihaninya, dan Jika mereka menghormatinya sebagai pemimpin, mereka mengikutinya. Berdasarkan empat teori karismatik, yakni atribusi, konsep diri, psikodinamis dan penularan social, terdapat kesamaan persepsi perilaku pemimpin karismatik, yakni pemimpin patut dicontoh dan muncul dalam kondisi kritis dan kekecewaan.

Indikator atau bukti kepemimpinan karismatik terlihat dari hubungan yang sangat buruk sesama dan antara pemimpin dan pengikutnya, keyakinan dan kepatuhan terhadap pemimpinnya bersifat semu, Karakteristik dan perilaku pemimpin merupakan penentu penting dari kepemimpinan karismatik, memiliki kebutuhan yang kuat akan kekuasaan, keyakinan diri yang tinggi, pendirian yang kuat dalam keyakinan dan idealism mereka sendiri, menciptakan kesombongan, kerja tanpa visi dan program yang jelas, memanipulasi informasi melalui keahlian komunikasi dan bahasa, misalnya sering membesar-besarkan deskripsi dan pencitraan pribadi, enggan berbagi dengan orang lain sehingga menciptakan kekosongan kepemimpinan. Kurang sabar dan implusif terhadap perubahan, tidak menyukai pengorganisasian formal,  Karakteristik negtif tersebut menghancurkan semua. .  

Peter F. Drucker menyatakan bahwa “karisma menjadi perusak pemimpin”. Tujuan organisasi dikalahkan oleh tujuan pribadi, demikian Jay. A. Conger (1997) dalam bukunya “The Charismatic Leader”.

Sisi gelap dari pemimpin karismatik, antara lain; keinginan akan penerimaan, pemujaan pengikut irasional, keyakinan optimism berlebihan membutakan pemimpin, gagal dalam organisasi pembelajar, ketergantungan pada pemimpin terlalu tinggi sehingga menghambat pengembangan kompetensi, dan krisis suksesi kepemimpinan, demikian Gary Yukl.
Proses pengaruh utama adalah identifikasi dan internalisasi pribadi, yakni keinginan pengikut menyenangkan dan meniru perilaku pemimpinnya.

Persetujuan pemimpin yang bersifat kontektual atau situasional adalah nilai dan sumber motivasi utama kepengikutan,   
Peter F. Drucker (1997) dalam bukunya “New Realities” menegaskan bahwa keefektifan seorang pemimpin, bukan karena karismanya, melainkan visi, keyakinan religious yang dalam, kesadaran akan tugas dan kerelaan untuk bekerja keras.

Ian Bremmer (2013) dalam bukunya “The J Curve” mengatakan bahwa jatuh dan berjaya sebuah bangsa ditentukan oleh sebuah titik yang mempertemukan antara stabilitas dan keterbukaan. Kemajuan sebuah bangsa karena stabilitas yang terbuka atau sebuah negara yang sangat stabil dan kokoh berkat kematangan lembaga-lembagaa negaranya dan sebaliknya kejatuhan sebuah bangsa akibat stabilitas yang tertutup. Banyak faktor yang mempengaruhi kestabilan tertutup itu, namun faktor yang paling dominan menciptakan kestabilan tertutup adalah para pemimpin karismatik yang diktator.  Menurut Winston Churchill, mereka adalah para diktator yang selalu naik harimau, tetapi tidak memiliki keberanian untuk turun dari tunggangan mereka. Seorang pemimpin karismatik menciptakan kestabilan tertutup, yakni kestabilan untuk dirinya sendiri, sementara sebuah negara berjaya karena kestabilan terbuka, demokratis, dan penuh tantangan, yakni kestabilan yang diciptakan oleh seorang pemimpin untuk membangun dan memberi penguatan pada semua lembaga negara, yakni reformasi yang memperkuat independensi lembaga politik negara, meningkatkan kebebasan media, mengurangi pengaruh angkatan bersenjata dalam politik dan melindungi hak-hak kelompok minoritas. David L. McManis (1997) seorang konsultas manajemen dalam bukunya “A New Paradigm of Leadership” dan banyak pakar kepemimpinan lainnya menyatakan hal yang sama bahwa pemimpin karismatik hanyalah mitos, dan seorang pemimpin tidak harus karismatik, melainkan pemimpin yang visioner, memiliki integritas, inspiratif dan cakap. Dalam kondisi seperti sekarang ini, terasa semakin sulit meyakinkan diri sendiri, apalagi harus meyakinkan orang lain tentang rekrutmen calon pemimpin yang diharapkan membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Semoga saja kekhawatiran penulis ini tidak terbukti, dan stabilitas dalam masyarakat akan semakin terbuka karena negeri ini dipimpin dan dikelola oleh pemimpin yang memiliki integritas, visioner, inspiratif dan cakap (Penulis: Aswandi - Dosen FKIP Untan dan Direktur The Aswandi Foundation)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Harapan pada Pendidikan Tinggi

Kebaya Identitas Perempuan Indonesia

Biarkan Mereka Berbeda

Apapun Masalahnya Kerja Jawabannya

Memaknai Kembali Genius