Maling Teriak Maling

Opini Ilmiah


Senin, 28 Desember 2015 - 15:59:48 WIB | dibaca: 459 pembaca


Oleh: Aswandi
 
JUDUL opini “Maling Teriak Maling” merupakah pribahasa lama yang masih berlaku atau hidup hingga saat ini.
Pribahasa singkat yang hanya terdiri dari tiga kata tersebut bermakna fenomena seorang atau individu dan  kelompok berteriak, menghasut, memfitnah dan melaporkan pihak lain telah melakukan suatu kejahatan atau kecurangan, boleh jadi mereka yang sedang mengalami sakit jiwa atau depresi mental tersebut sebelumnya telah melakukan hal yang sama sebagaimana kejahatan dan kecurangan yang dituduhkannya, dan belum tentu juga tuduhannya itu adalah benar adanya. Ia telah melakukan kejahatan sebelum orang lain melakukannya. Mereka yang berperilaku jahat seperti itu, semestinya mendapat sanksi atau hukuman, setidaknya sanksi secara moral.

Abdullah Nashih Ulwah (1999) dalam kitabnya, “Tarbiyatul Aulad fil Islam” mengisahkan, “Pernah seorang laki-laki datang kepada Umar bin Khattab mengadukan kedurhakaan anaknya. Kemudian Umar ra mendatangkan anak itu untuk menceritakan kedurhakaannya terhadap bapaknya dan kelalaiannya terhadap hak-hak orang tuanya. Anak itu menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, bukankah anak juga mempunyai hak-hak yang harus diberikan oleh bapaknya?”. Umar ra berkata, “Tentu”. Kemudian anak tersebut bertanya, “Apakah itu wahai Amirul Mukminin?”. Umar ra menjawab, “Memilihkan ibunya, memberinya nama yang baik kepadanya dan mengajarkan Al-Kitab (Al-Qur’an) kepadanya”. Anak berkata, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya ayahku belum pernah melakukan semuanya itu. Adapun ibuku seorang Ethiopia dari keturunan orang yang beragama Majusi, ayahku telah memberiku nama Ju’al (kumbang kelapa) kepadaku, dan belum pernah mengajarkan satupu ayat Al-Qur’an”. Kemudian Umar ra menoleh kepada laki-laki yang berteriak melaporkan kejahatan dan kelalaian anaknya itu dan berkata, “Engkau telah datang kepadaku untuk mengadukan bahwa anakmu telah berbuat durhaka kepadamu, padahal engkau telah mendurhakainya sebelum ia mendurhakaimu dan engkau telah berbuat buruk kepadanya sebelum ia berbuat buruk kepadamu”.

Ketahuilah bahwa, anak kita hari ini belajar kejahatan dari apa yang dilihat dan didengar dari lingkungan sekitarnya. Anak melihat orang tuanya berdusta, ia tak mungkin belajar kejujuran. Melihat orang tuanya berkhianat, ia tak mungkin belajar amanah. Melihat orang tuanya selalu memperturutkan hawa nafsu, ia tak mungkin belajar keutamaan dan kemuliaan. Mendengar orang tuanya berkata kufur, caci-maki, dan celaan, ia tak mungkin belajar bertutur santun dan manis. Melihat kedua orang tuanya marah dan bertegang urat syaraf, ia tak mungkin belajar sabar, dan melihat kedua orang tuanya bersikap keras dan bengis, ia tak mungkin belajar kasih sayang”.

Seorang kolega berteriak ada maling di institusi tempat ia bekerja dimana masih kentalnya praktek korupsi, kolusi dan nepotisme. Ternyata penyebar fitnah dan ghibah tersebut telah melakukan hal yang sama. Berarti di sana ada maling teriak maling. Diantara maling adalah kolega itu sendiri.  

Setiap kali melakukan pemilihan umum dan pemilihan kepala daerah, sering kali diwarnai politik hitam atau tidak memiliki kesantunan berpolitik, apapun dilakukan untuk mencapai kemenangan atau mengalahkan kompetitornya.

Alhamdulillah, pilkada serentak, 9 Desember 2015 telah sukses dilaksanakan, hampir semua tahapan penyelenggaran pilkada selesai dilakukan dengan baik sebagaimana ketentuan yang berlaku. Namun masih ada pihak yang belum puas terhadap pelaksanaan pilkada serentak tersebut meneruskan persoalan yang masih mengganjal ke Mahkamah Konsitusi. Hal ini adalah wajar karena telah diatur dalam perundang-undangan tentang pilkada. Semoga upaya hukum berjalan lancar demi tegaknya keadilan di negeri ini. Seorang filosof mengingatkan, selama uang berkuasa, penegakan hukum menjadi tidak berdaya.  

Harapan penulis, semoga saja di detik-detik terakhir penyelenggaraan pilkada serentak ini, khususnya di Kalimantan Barat, sebuah provinsi yang memiliki indeks demoktasi tinggi, fenomena “Maling Teriak Maling” tidak terjadi dan pesta demoktasi yang telah berjalan lancar dan sukses menjadi pembelajaran bermakna bagi generasi mendatang.

Fenomena adanya maling teriak maling tersebut membuktikan bahwa sebagian masyarakat kita telah kehilangan hak moral untuk mengajak kepada jalan kebaikan (ma’ruf) dan mencegak ke jalan kemungkaran, karena mereka mengatakan sesuatu yang tidak mereka perbuat.  Mengajak masyarakat mencegah korupsi, kolusi dan nepotisme, pada hal mereka adalah bagian dari kejahatan itu. Misalnya, ia katakan ada maling mencuri miliknya, sementara mereka telah menjadi maling jauh sebelumnya.

Al-Maghribi (2004) mengutip ungkapan penyair Arab, “Kamu jelaskan obat kepada yang sakit agar ia sehat sementara anda sendiri sakit...”. Allah SWT mengingatkan dalam firmannya QS 2:44; “Mengapa kamu suruh orang lain mengerjakan kebaikan, sedangkan kamu melupakan diri atas kewajibanmu, padahal kamu membaca al-Kitab, maka tidakkah kamu berfikir?”.

Agar memiliki hak moral untuk menegakkan kebenaran, dan mengajak umat beramal ma’ruf dan bernahi munkar di muka bumi ini, maka setiap saat sebaiknya selalu muhashabah, mengoreksi atau introspeksi diri. Perhatikan posisi jari-jari kita di saat menunjuk, satu jari telunjuk tertuju ke suatu objek, namun setidaknya tiga jari lainnya menunjuk ke arah kita atau ke arah sipenunjuk. Hal ini mengingatkan kita agar jangan sampai semut di seberang lautan kelihatan, sementara gajah di kelopak mata kita tidak kelihatan. Leo Trostoy seorang sastrawan Rusia mengatakan, “Sebelum Anda ingin mengubah dunia, maka sebaiknya terlebih dahulu Anda mengubah diri anda sendiri” (Penulis, Dosen FKIP Untan)
 


Berita Terkait Opini Ilmiah /

Revolusi Mental Bidang Pendidikan

Menerima dan Bangkit dari Kekalahan

Memilih Pemimpin

Revitalisasi Pendidikan Guru

Agama Tidak Diajarkan