Mal Praktek Pembelajaran

Opini Ilmiah


Jumat, 11 April 2014 - 09:13:50 WIB | dibaca: 435 pembaca



AKHIR-akhir ini, media massa memberitakan telah terjadi mal praktek mengakibatkan meninggalnya seorang ibu dalam persalinannya. Reaksi keras dari kolega dan organisasi profesi dokter membangukan kesadaran kita bahwa pelayanan publik harus dilakukan secara baik dan benar sesuai prosedur operasional yang telah ditentukan tanpa menapik suatu keyakinan bahwa kehidupan semua makhluk yang bernyawa ditentukan oleh Allah SWT.

Sementara mal praktek pembelajaran yang telah merenggut banyak jiwa dan mata hati para peserta didik secara berkelanjutan jarang dipermasalahkan atau jarang diributkan padahal dampak yang ditimbulkannya secara nyata jauh lebih besar setimbang mal praktek bidang kesehatan atau medis itu.

John C. Maxwell (2013) dalam buku terbarunya berjudul “Sometimes You Win, Sametimes You Lose” menjelaskan sebelas dimensi agar terhindar dari mal praktek pembelajaran, diantaranya adalah “The Pathway of Learning is Teachability”.
Ia mendefinisikan kemampuan mengajar sebagai kepemilikan sikap dan perilaku untuk pembelajaran dan pertumbuhan dari keseluruhan kehidupan”.
Beberapa sifat penting seorang manusia yang memiliki kemampuan mengajar, yakni; (1) memiliki sikap kondusif dalam pembelajaran. Hal ini penting karena 85% sukses dalam kehidupan ini ditentukan oleh sikap, sementara 15% ditentukan oleh kemampuan; (2) memiliki pikiran terbuka; (3) memiliki visi yang jelas; (4) menerima orang lain dan berbicara ke dalam kehidupannya; dan (5) mempelajari sesuatu yang baru lebih awal.

Carl Jung mengatakan, “Ikuti keinginanmu dan ikuti jalannya, dimana pengalaman akan membuatmu menjadi dirimu sendiri”. Artinya sukses dalam hidup ini tidak cukup bermodal keinginan semata, melainkan harus tahu jalan mencapainya. Jalur mencapai pembelajaran bermakna itu adalah kemampuan mengajar. Seringkali mengajar itu bersifat status quo, seorang guru mengajar sebagaimana mereka dulu diajar. Rabindranath Tagore, bapak pendidikan India mengatakan, “Jangan batasi anak untuk sekedar mempelajari apa yang telah engkau pelajari karena ia terlahir di zaman yang berbeda”. Akibat dari mal praktek pembelajaran, tidak sedikit anak cerdas, namun gagal di sekolah.

Terhadap fenomena ini, Thomas Armstrong (2002) dalam bukunya "In Their Own Way" menyampaikaan sebuah metapora "Sekolah para Binatang" dimana ikan dipaksa mempelajari cara memanjat, terbang, dan menggali, sementara anjing, kucing, dan kerbau diajar berenang.

Seorang pakar pendidikan Dr. Casper Shih pernah bercerita ketika seorang siswa mendapat nilai 80 untuk bahasa Inggris dan 50 untuk matematika. Kemudian orang tua mereka mencarikan seorang guru les/privat guna memperbaiki nilai matematika. Ujung-ujungnya ia menjadi siswa yang biasa-biasa saja, mendapat nilai kurang lebih sama untuk semua mata pelajaran, bahkan nilai bahasa Inggris yang tadinya sangat sempurna justru menurun secara drastis. Orang tua mereka lupa atau memang tidak tahu bahwa anaknya memiliki kecerdasan linguistik yang harus dikembangkan, bukan kecerdasan matematika, demikian Wen (2003) dalam bukunya “Future Education”.

Peter F. Drucker (1997) dalam bukunya "The New Realities" menyatakan bahwa seseorang tidak dapat membangun prestasi puncak (exellence) di atas kelemahannya, sekalipun kelemahan itu sudah diperbaiki, seorang hanya dapat membangun prestasi puncak berdasarkan kekuatan (bakat, potensi, dan kecerdasan unik) yang dimilikinya.
Mal praktek pembelajaran dapat dihindari apabila pembelajaran bermakna memberi harapan (hope), dan prespektif lain dari pembelajaran bermaknaa terbangun dari kecerdasan menghadapi masalah dan kesulitan hidup.

Michael V. Pantalon (2013) dalam bukunya “Instant Inpluence” menegaskan bahwa depresi terberat pada manusia karena telah kehilangan harapan. Sehubungan hal tersebut memberi harapan, menunjukkan jalan atau akses kepada setiap orang dalam mencapai cita-citanya sangatlah penting.

Erick Fromm (1996) dalam bukunya “The Revolution of Hope” menyatakan hal yang sama akan pentingnya sebuah harapan itu, terlebih lagi di saat kita hidup di persimpangan jalan seperti sekarang ini. Kesalahan pemaknaan tentang sebuah harapan justru membuat kita tidak mengalami kebangkitan. Harapan harus dimaknai sebagai kata kerja aktif yang mengharuskan kita bekerja lebih keras penuh kesungguhan. Marten Luther King menyampaikan sebuah kalimat inspiratif yang menurut pakar retorika sebuah kalimat pendek pengubah dunia, yakni “Saya Punya Mimpi” atau “Saya Punya Harapan”.

Siapa mengira Matsushita Konosuke, saat kecilnya bekerja pada seorang saudagar desa sebagai penambal ban sepeda, setelah dewasa ia dikenal sebagai raja elektrik dunia, pendiri dan pemilik Matsushita Elektrik. Ia bersaksi bahwa modal awal kebangkitannya dimana ia dari sejak kecil diajari makna sebuah harapan.
Sebagaimana telah penulis tegaskan terdahulu bahwa mak praktek pembelajaran terbangun dari kecerdasan menghadapi masalah dan kesulitan hidup.
Bukankah setiap orang dalam hidupnya, apakah ia sukses atau gagal, semua menghadapi masalah. Perbedaannya, mereka yang sukses adalah mereka yang cerdas menghadapi masalah, sementara mereka yang gagal adalah mereka yang kurang cerdas menghadapi masalah.

Maxwell (2001) dalam bukunya ”Failing Forward” mengatakan bahwa perbedaan antara orang yang prestasinya biasa-biasa saja dengan orang yang prestasinya luar biasa adalah persepsi mereka tentang kegagalan dan kesulitan hidup serta bagaimana respons mereka terhadap kegagalan dan kesulitan hidup itu”.

Benjamin Franklin mengatakan bahwa hal-hal yang menyakitkan mengandung pelajaran, karena alasan ini, orang yang bijak bukan saja belajar berani, melainkan juga menyambut setiap masalah dan kepedihan yang ditimbulkannya. John C Maxwell mengatakan bahwa kehidupan bukanlah jalan yang lurus dan mudah dilalui dimana kita bisa bepergian bebas tanpa halangan, namun berupa jalan-jalan sempit yang menyesatkan, dimana kita harus melewati jalan tersesat dan membingungkan dan sekali lagi kita sampai pada jalan yang tak berujung. Namun jika kita punya keyakinan, pintu pasti akan dibukakan untuk kita, mungkin bukanlah pintu yang selalu kita inginkan, namun pintu yang akhirnya akan terbukti untuk kita”, demikian AJ. Cronin. Dan dalam kehidupan ini banyak pintu menuju sukses, kalau satu pintu tertutup, lainnya terbuka, tetapi kita sering memandang terlalu lama dan terlalu penuh penyesalan kepada pintu yang tertutup itu, sehingga kita tidak melihat pintu yang terbuka bagi kita, demikian pesan optimisme Alexander Graham Bell. Walter Staples menambahkan bahwa sukses selalu ditemukan pada akhir jalan panjang yang bertaburan dengan sampah, duri dan banyak kegagalan kita (Penulis: Aswandi - Dosen FKIP Untan, Direktur Aswandi Foundation)  


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Melahirkan Generasi Pluralistik

Pendidikan Konsensus Politik

Pemimpin Pemecah Masalah

Kembali pada Keluarga

Petunjuk Penulisan Artikel Penelitian / Jurnal Elektronik di Lingkungan UP4I - FKIP Untan