Mahasiswa Pelanggan Utama

Opini Ilmiah


Senin, 16 Maret 2015 - 12:53:43 WIB | dibaca: 1161 pembaca



Foto: Mahasiswa FKIP Untan Akt. 2012

Oleh: Aswandi

HARUS diingat bahwa persepsi perguruan tinggi terhadap mahasiswa/i-nya sangat mempengaruhi roda penyelenggaraan dan eksistensi atau keberlanjutan  perguruan tinggi tersebut.
Osborne & Plastrik (1995) “Banishing Bureaucracy” mensinyalir; “Banyak lembaga pemerintah tidak melayani masyarakatnya dengan baik. Asumsi mereka, pemerintahlah yang menentukan keberlangsungan hidupnya bukan masyarakatnya. Sementara pihak swasta berasumsi mereka melayani dan memposisikan masyarakat sebagai pelanggan utama karena mereka sadar bahwa keberlansungan hidupnya ditentukan oleh masyarakatnya atau pelanggannya.
Itulah sebabnya pelayanan publik yang dilakukan oleh pihak swasta jauh lebih baik dari yang dilakukan oleh pihak pemerintah/negeri.

Merujuk pendapat para ahli “Total Quality Management (TQM)”, perbaikan terus menerus (continuous improvement) ditopang tiga pilar utama, yakni;  berfokus pada pelanggan (customer focus). perbaikan proses dan keterlibatan secara penuh. Pelanggan utama (main customer) pada jenjang pendidikan tinggi adalah mahasiswa/i. Jadi mahasiswa adalah pelanggan utama yang harus memperoleh pelayanan di perguruan tinggi, artinya semua kegiatan atau penyelenggaraan tri darma perguruan tinggi berupa; pembelajaran (teaching), riset (research) dan pengabdian (service) terutama tertuju untuk kepentingan mahasiswa/i-nya memperoleh kompetensi kelulusannya, sementara kepentingan dosen memperoleh komulatif angka kredit yang akan digunakannya untuk naik pangkat/jabatan dan/atau untuk mendapatkan fee atau tambahan penghasilan hanyalah sebagai dampak penggiring saja.  

Namun kenyataannya, masih banyak perguruan tinggi di negeri ini memperlakukan mahasiswa/i-nya bukan sebagai pelanggan utama yang harus disayangi, dilayani, dihormati dan dibanggakan. Faktanya, masih sering terjadi hubungan dosen dan mahasiswa kurang harmonis, tidak jarang mahasiswa/i diperlakukan kering sentuhan kasih sayang atau cinta kasih tanpa disadari bahwa interaksi kurang menyenangkan tersebut membentuk perilaku mahasiswanya. Dalam banyak riset perilaku pendidik sangat mempengaruhi perilaku peserta didiknya (siswa dan mahasiswa). Banyak mahasiswa/i melakukan tindakan destruktif (kasar dan merusak) yang sebelumnya mereka adalah korban dari tindakan destruktif yang dilakukan oleh guru, dosen dan institusinya.

Seorang pejabat tinggi yang dipercaya mengurus pendidikan di negeri ini, ketika diminta pendapatnya tentang demonstrasi yang marak dilakukan oleh mahasiswa pada waktu itu. Beliau mengatakan bahwa mahasiswa/i ibarat seorang pasien yang sedang sakit dan segera mendapat pertolongan. Mereka yang sedang sakit itu tidak layak mengatur institusinya, apalagi menuntut pimpinan perguruan tinggi turun dari jabatannya. Penulis terdiam mendengar pendapatnya seraya berkata dalam hati, barangkali ini satu contoh kecil, seorang pimpinan perguruan tinggi yang tidak memahami posisi mahasiswa sebagai pelanggan utama.

Kasus lain, mahasiswa menyampaikan keinginannya untuk pindah atau mutasi kuliah dari satu fakultas ke fakultas lain dan/atau dari satu perguruan tinggi ke perguruan tinggi lainnya karena alasan seringnya dosen tidak masuk memberikan perkuliahan, sulit menemui dosen saat bimbingan tugas akhir, ditelpon tak dijawab, disms tak dibalas sehingga mahasiswa/i kehilangan motivasi menyelesaikan studinya dan terancam drop out (DO), sementara orang tua mereka yang ada di desa dari waktu ke waktu yang telah habis-habisan menjual harta demi anaknya sedang menunggu diundang menghadiri  wisuda anaknya.

Bentuk keberpihakan perguruan tinggi kepada mahasiswanya yang paling serius sekarang ini adalah mengusahakan agar program studi dan institusi perguruan tinggi memperoleh peringkat akreditasi minimal B (baik) karena ada ketentuan penghargaan, perlakuan dan pengakuan terhadap ijasah sarjana, magister dan doktor untuk memperoleh pekerjaan dan/atau untuk promosi karier bagi mereka yang sudah bekerja terkait erat dengan peringkat akreditasi program studi tersebut.

Persoalan ketentuan ini menjadi sangat serius dan menakutkan karena berpotensi menjadi sumber konflik antara alumni dan almamaternya di kemudian hari. Sebuah fakta, peringkat akreditasi di perguruan tinggi, baik akreditasi institusi dan program studi adalah sebagai berikut; akreditasi institusi peringat A (0,4%), B (1,6%), C (1,7%), dan belum diakreditasi 96,2%. Akreditasi program studi telah mencapai 87,67%, namun peringkat akreditasi belum membahagiakan; peringkat akreditasi A (8%), B (35,4%), C (44,1%), dan tidak terakreditasi (12,3%).

Terkait akreditasi perguruan tinggi, bapak Satryo Soemantri Brodjonegoro, selaku Dirjen Pendidikan Tinggi 1999-2007 berpendapat kontroversial, beliau mengatakan peringkat akreditasi pendidikan tinggi di Indonesia selama ini hanya memberi manfaat bagi lembaga perguruan tinggi itu sendiri (kebanjiran peminat, kesempatan lebih besar memperoleh insentif pendanaan) ketimbang memberi manfaat bagi masyarakat sebagai pemangku kepentingan utama pendidikan”, dikutip dari Kompas, 9 Maret 2015.

Universitas Bina Nurantara (Binus) sebuah perguruan tinggi sangat peduli terhadap peringkat akreditasi demi keberpihakan mereka terhadap masa depan mahasiswanya. Komitmen tersebut ia lakukan dengan tidak hanya memanfaatkan jasa lembaga akreditasi pendidikan tinggi di negeri ini (BAN-PT), melainkan menggunakan jasa lembaga akreditasi pendidikan tinggi berskala internasional yang kredibel atau dipercaya. Tidak heran jika alumni dari program studi yang telah terakreditasi oleh lembaga akreditasi internasional tersebut lebih mudah memperoleh akses pekerjaan bagi alumninya di banyak negara, bahkan sebelum menyelesaikan perkuliahnya, tidak sedikit calon sarjananya telah direkrut oleh berbagai perusahaan dan dunia usaha, baik di dalam maupun di luar negeri.

Ketika penulis melakukan penelitian disertasi di Universitas Muhammadiyah Malang yang pada waktu itu rektornya bapak Malik Fadjar. Selaku rektor beliau sudah terbiasa datang paling awal dan pulang paling akhir tanpa memperlakukan absen kehadiran. Aktivitas rutin pagi beliau adalah melakukan inspeksi mendadak. Suatu saat ada dosen terlambat datang, beliau masuk menggantikan dosen tersebut sementara dosen yang terlambat itu disuruh menunggu di ruang rektor. Setelah beliau selesai menggantikan dosen mengajar, beliau langsung menemui dosen tadi untuk memberi nasehat dan disaksikan oleh penulis. Satu nasehat yang disampaikan beliau dan selalu penulis ingat; ”Mahasiswa/i datang ke kampus ini kita undang dan kita jemput, pada saatnya nanti setelah mereka menjadi sarjana, saya akan serahkan kembali mereka kepada orang tua dan keluarganya untuk siap menatap masa depannya yang lebih baik. Ini hanya bisa terwujud jika setiap hari seluruh dosen dan sivitas akademika lainnya berpikir dan bertindak atas sebuah asumsi bahwa mahasiswa itu adalah pelanggan utama”.    

Perguruan tinggi ternama dan prestitisus di banyak benua, memberikan pelayanan dan berbagai insentif kepada mahasiswa/i tidak sebatas ketika mereka berstatus sebagai mahasiswa/i aktif saja. Mereka tetap mendapat pelayanan dan insentif dari almamaternya di saat mereka sudah menjadi seorang sarjana, magister dan doktor.

Dari uraian di atas, ternyata perguruan tinggi yang baik dan berkualitas di belahan dunia ini adalah perguruan tinggi yang memposisikan dan memperlakukan mahasiswa/i dan alumninya sebagai pelanggan utama (Penulis, Dosen FKIP Untan)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Memutus Mata Rantai Kekerasan

Perkuliahan Bermakna

Melawan Rasa Takut

Kebahagiaan Tidak Membahagiakan

Memikirkan Kembali Perguruan Tinggi