Larangan Menyisakan Makanan

Opini Ilmiah


Jumat, 25 April 2014 - 08:08:34 WIB | dibaca: 3442 pembaca



Senin, 8 April 2013, penulis bersama rektor Untan, ibu Dr. Farah Diba, dan Dr. Lily Thamrin menghadiri jamuan makan malam di sebuah restoran muslim di Kota Nanning China. Terdapat sesuatu yang tidak biasa pada jamuan makan malam tersebut, peristiwa aneh tersebut tidak terjadi satu tahun yang lalu ketika kami diundang menghadiri jamuan makan di kota dan di tempat yang sama. Qin Zhi Xuan dan warga Tiongkok lain yang menemani kami makan malam bersama tersebut tidak henti-hentinya menyantap makanan yang ada di meja makan, mereka baru berhenti makan setelah semua makanan yang tersedia di atas meja sudah habis dimakan, terlihat wajah mereka merah, sesekali berhenti sambil menghirup napas dan ngos-ngos, sementara kami sudah berhenti makan karena merasa sudah cukup, yakni berhenti sebelum kenyang. Fenomena menghabiskan makanan di meja makan yang tidak biasa itu mengundang pertanyaan penulis kepada mereka. “Mengapa semua makanan yang disuguhkan di atas meja, Anda habiskan?. Mereka menjawab, “Xin Jinping selaku presdien baru China mengeluarkan sebuah intruksi yang ditujukan kepada semua rakyatnya mengenai larangan menyisakan atau membuang makanan (mubazir), makanan yang disiapkan sesuai dengan kadar lapar, sehingga makanan yang disajikan itu harus habis dimakan. Sanksi bagi rakyat yang menyisakan makanan sangat berat, diantara sulit memperoleh pekerjaan. Belum lama kebijakan anti mubazir di meja makan tersebut diimplementasikan, kemudian dievaluasi, terbukti memberi dampak terhadap efesiensi atau penghematan negara yang sangat besar. Jika dikaji secara lebih mendalam, anti mubazir makan tidak terbatas hanya dari prespektif ekonomi, yakni efisiensi, melainkan berdimensi dan dalam prespektif yang lebih luas, yakni prespektif kesehatan, sosial, budaya dan psikologi dimana perilaku seseorang dapat dengan mudah diketahui dari pola dan perilaku makannya, misalnya kualitas karakter kesabaran seseorang dapat dengan mudah dipahami saat mereka makan, artinya dari persoalam makan dan makanan tersebut banyak pesan pembelajaran bermakna dapat dipelajari..  

Prihal yang sama pernah ditelili di negeri ini. Ditemukan bahwa makanan yang tersisa atau tidak dimakan, bahkan dibuang pada restoran-restoran, jauh lebih besar jumlah dan niat ekonominya dari pada makanan yang dimakan oleh tamu restoran tersebut. Mereka datang ke restoran  tidak hanya untuk mencari dan memenuhi kebutuhan fisik, yakni sekedar makan dan minum semata, melainkan jauh dari itu, yakni pemenuhan kebutuhan psikis, rileksasi, rekreasi atau rasa nyaman.

Sebuah pemandangan yang tidak biasa penulis temui, ketika itu bapak Quraish Shihab menjadi nara sumber, beliau duduk bersama nara sumber lain. Ketika nara sumber di sebelahnya menyerahkan air mineral ke gelasnya dan sisa air yang ada di botol mimuman tersebut diminta oleh beliau, pada hal di depannya terdapat sebotol air yang masih belum terbuka tutupnya, dan sebotol air segar yang ada di depannya diserahkan kepada pembicara yang air minumannya tadi diminta oleh beliau seraya mengatakan, “jika nanti menambah minumannya, maka gunakan air ini (air yang baru saja diserahkannya itu). Alasan yang disampaikan oleh profesor tafsir tersebut sangat sederhana, sama halnya dengan pesan yang disampaikan oleh presiden baru China, yakni  “Jangan Mubazir, karena Allah Swt tidak suka kepada mereka yang mubazir”.

Pentingnya persoalan makan dan makana ini, terulang dalam Al-Qur’an sebanyak 48 kali, ditambah sejumlah ayat-ayat lain yang menggunakan kosakata selainnya. Hal ini menunjukkan demikian besar perhatian agama terhadap makanan tersebut, demikian M. Quraish Shihab (1996) dalam bukunya “Wawasan Al-Qur’an”
Makanlah secara proporsional artinya makan sesuai kebutuhan pemakan, tidak berlebihan dan tidak berkurang. Demikian perintah Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah  Al- A’raf (7):31; “makan dan minumlah dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak senang terhadap orang yang berlebih-lebihan”.

Rasulullah Saw bersabda, “tidak ada yang dipenuhkan manusia lebih buruk dari pada perut, cukuplah bagi putra Adam beberapa suap yang dapat menegakkan tubuhnya. Kalaupun harus memenuhkan perut, maka hendaklah sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk pernapasan (HR Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan At-Tarmizi)

Jadi, agama Islam telah mengatur secara jelas tentang makan dan makanan yang halal dan tayyibah. Misalnya, diajarkan kepada kaum muslimin dan muslimah agar makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang, jangan menyisakan makanan sekalipun makanan tersebut berada di sela-sela jari jemarimu karena bagi orang Islam ukuran terpenting dari makan itu bukan pada kenyangnya, melainkan pada barokahnya, barangkali makanan yang ada disela-sela jemarimu itu yang lebih barokah, dan jangan memaksakan memakan makanan panas.

Pelajaran lain dari jamuan makan di Kota Nanning China tersebut di atas adalah loyalitas dan ketaatan rakyat Tiongkok yang sangat tinggi terhadap partai politik dan pemimpinnya, seperti taatnya mereka terhadap kebijakan larangan menyisakan makanan yang ditetapkan langsung oleh presidennya.

Di negeri tirai bambu ini, pemimpin dipilih langsung oleh partai politik yang sedang berkuasa atau melalui pimpinan yang diberi kewenangan untuk itu, hampir tidak ditemui jabatan pemimpin diberikan melalui proses pemilihan, Setelah mereka diangkat, semua rakyat loyal dan mengikutinya. Mekanisme pengangkatan pemimpin seperti ini sangat bertentangan dengan teori kepemimpinan yang demokratis dimana rekrutmen pemimpin bersifat button up atau dari bawah melalui proses pemilihan, seperti pilkada dan pemilu di Indonesia.

Sangat berbeda dengan kita disini, penulis tidak ingin menjelaskan lebih jauh mengapa hal ini berbeda, Namun yang seringkali membuat penulis iri hati adalah; (1) mengapa umat beragama di negeri ini kurang mengamalkan ajaran agamanya. Perilaku mubazir yang secara jelas dilarang agama Islam, justru terimplementasikan atau diamalkan oleh mereka yang tidak beragama di China. Di negeri ini memang terasa aneh, setiap kebijakan yang berkenaan dengan keingianan mengamalkan ajaran agama dari suatu kelompok agama selalu ditolak dan dicurigai, apalagi keinginan itu diusulkan oleh partai politik dan ormas berbasis agama, yang anehnya politisi dan rakyat yang seagama ikut menolaknya dengan alasan negeri ini bukan negeri agama, sepertinya di negeri ada kesalahan sejarah yang wajib diluruskan; (2) partai politik sebagai pranata demokrasi di negeri ini bermasalah, dimana rakyat sangat tidak percaya atau terpaksa mengikuti keputusan partai politik. Dalam kondisi seperti ini semestinya para politisi atau penggiat demokrasi segera bertobat sebelum terlambat; (3) memilih pemimpin secara langsung oleh rakyat tidak selalu menghasilkan seorang pemimpin yang kredibel, ditaati dan dipatuhi rakyatnya, bahkan tidak jarang yang dicaci maki, berarti ada yang salah, barangkali masih ada dusta dan kemunafikan diantara kita, bukan berarti penulis setuju terhadap pemimpin harus dari kalangan terbatas dan berdarah biru, menjadi pemimpin adalah hak semua mereka yang memiliki integritas, kapabilitas dan kredibilitas  (Penulis: Aswandi, Dosen FKIP Untan dan Direktur The Aswandi Foundation).   
 


Berita Terkait Opini Ilmiah /

Buku Perubah Peradaban

Penyakit Narsistik

Matinnya Pemimpin Karismatik

Harapan pada Pendidikan Tinggi

Kebaya Identitas Perempuan Indonesia