Kuat dan Terpercaya

Opini Ilmiah


Jumat, 18 Juli 2014 - 13:50:27 WIB | dibaca: 497 pembaca



Foto: Menggunakan Kimono Jepang

Oleh: Aswandi

KETIKA membaca kisah-kisah sufi, sering kita temukan, orang shaleh takut menjadi pemimpin. Ia merayap dan bersembunyi meninggalkan negerinya karena takut diminta menjadi seorang pemimpin. Ia takut jika dipilih menjadi pemimpin, tidak mampu menjalankan amanah yang diberikan kepadanya dan tidak mampu mempertanggung jawabkan kepemimpinannya kepada rakyatnya dan kepada TuhaNya. Berbeda sekali dengan fenomena sekarang ini, semua orang ingin menjadi pemimpin, terutama pemimpin pemerintahan dan pemimpin partai politik.

Baru sekarang kita menyaksikan pemilihan kepala desa, pemilihan ketua RW/RT dilaksanakan seperti pemilihan seorang presiden. Ada penyampaian visi, misi, program strategik sekalipun kurang dipahami oleh konstituennya, hingga yang tidak puas karena kalah dalam pemilihan yang kemudian melakukan demonstrasi. Hal ini syah-syah saja dalam berdemokrasi sepanjang tidak mengganggu dan merugikan orang lain.

Karena dibuka lebar kesempatan menjadi pemimpin, maka jangan heran orang gilapun mau menjadi pemimpin. Barangkali mereka melihat ada orang sakit mendaftar menjadi pemimpin, ada orang yang mengurus atau memimpin rumah tangganya (istri dan anak) saja tidak becus mau dan tidak malu menjadi pemimpin, dan banyak orang yang sudah jelas-jelas tidak mendapat dukungan dari masyarakat, tetap saja memaksakan diri menjadi pemimpin, tim suksesnya dan orang di sekitarnya tidak mampu menasehatinya agar membatalkan pencalonannya, tetapi dia tetap ngotot mencalonkan diri menjadi pemimpin, tim sukses dan teman-temannya yang memiliki kepentingan pribadi terhadap pencalonannya tidak mempermasalahkan hal itu yang penting setorannya lancar, mereka bilang biarin saja, biar kita bikin kapok dia. Ada yang didorong-dorong agar maju mencalonkan diri menjadi pemimpin sebagai strategi memecah suara lawan dan calon tersebut tidak sadar karena tidak mendapat hidayah atau petunjuk dari Allah SWT.

Coba perhatikan dalam proses menjadi pemimpin saat ini, banyak yang tidak taat asas, mencuri start dalam berkampanye, memanfaatkan kelemahan dan ketidakberdayaan pengawas (Panwaslu) yang terkesan seperti macan ompong atau tidak berwibawa sama sekali, semestinya kepercayaan menjadi penyelenggara dan pengawas pada pemilihan pemimpin adalah kesempatan yang tidak mudah di dapat, yang semestinya mereka gunakan untuk mengaktualisasikan dirinya dengan sebaik-baiknya dan seoptimal-optimalnya agar kerja mereka hari ini akan menjadi pelajaran bermakna bagi generasi yang akan datang dalam berdemokrasi.
Tidaklah terlalu salah, jika ada yang mengatakan sekarang ini adalah “Zaman Edan” yang seakan-akan menjadi pemimpin adalah sebuah kebesaran. Orang bijak berkata, “Seringkali sebuah kebesaran seseorang sekaligus kehinaan baginya”,

Fenomena di atas, membuat para konstituen atau pemilih dihadapkan pada 3 (tiga) kelompok pilihan calon pemimpin, yakni; (1) calon pemimpin yang dilarang untuk dipilih; (2) calon pemimpin yang subhat (meragukan) untuk dipilih, dan (3) calon pemimpin yang boleh dipilih.

Tentu ada diantara para pemilih kebingungan dengan tiga alternative tersebut, sehingga ragu dan tidak memilih (golput) . Sesungguhnya tidak harus golput atau tidak mesti bingung. Calon pemimpin yang dilarang untuk dipilih sudah jelas indikasinya nyata, antara lain; berlaku tidak adil dan senang berbohong. Calon pemimpin yang subhat atau meragukan untuk dipilih, lebih baik tidak dipilih karena agama mengajarkan agar umatnya tidak melakukan sesuatu yang subhat, pilih saja pemimpin yang boleh dipilih.

Agama dan perundang-undangan yang berlaku di negeri ini telah mengatur secara jelas, siapa saja yang boleh mencalonkan diri dan dipilih menjadi pemimpin, Jika disederhanakan, penulis kutip apa yang pernah diucapkan oleh puteri Nabo Syu’aib yang dibenarkan dan diabadikan dalam kitab suci Al-Qur’an surah Al-Qashash ayat 26, yakni; “Sesungguhnya orang yang paling baik engkau tugaskan (memikul jabatan yang berkaitan dengan hak-hak masyarakat) adalah yang kuat lagi terpercaya.  

Diangkat dalam jabatan pemimpin karena kekuatan yang dilikinya, bukan karena kelemahannya, sekalipun kelemahan itu telah diperbaiki. Aktualisasi diri seseorang bukan didasarkan dari kelemahannya, melainkan dari potensi apa yang menjadi kekuatannya. Kuat memiliki makna dan arti yang sangat luas, namun seringkali makna kuat dimaknai sehat jasmani dan rohani, Kesalahan pemaknaan selama ini, kecacatan fisik adalah tidak sehat dan tidak kuat. Barangkali mereka belum tahu bahwa tidak sedikit dari mereka yang cacat secara fisik tetapi mencapai prestasi gemilang, jauh melebihi prestasi yang dicapai oleh mereka yang secara fisik normal. Franklin D.Rosevelt salah seorang presiden sekaligus deklarator kemerdekaan Amerika Serikat adalah seorang pemimpin besar, sangat dihormati dan sejati di dunia ini adalah cacat akibat penyakit polio yang dideritanya sejak kecil. Yang tidak boleh menjadi pemimpin adalah mereka yang sakit bukan yang cacat. Oleh karena itu, keterangan penyakit calon pemimpin harus jelas, disampaikan ke publik secara utuh agar masyarakat mengetahui dan menilai siapa diantara kandidat yang lebih sehat dari kandidat lainnya dan sebaliknya.

Menolak calon pemimpin yang tidak kuat dan tidak sehat harus ada dasarnya, sebagaimana termuat pada perundang-undangan yang berlaku dan pendapat para ahlinya. Imam Al-Mawardi (2000) dalam kitabnya “Al-Ahkaamus-sulthaaniyyah wal-wilaayatud-diiniyyah” mengemukakan satu dari tujuh syarat seseorang berhak dicalonkan  menjadi pemimpin adalah pancaindranya lengkap dan sehat.

Selain kuat, seorang pemimpin harus seseorang yang dapat dipercaya. John C. Maxwell (2001) dalam bukunya “Laws of Leadership” menyatakan bahwa kepercayaan adalah landasan yang mantap dari seorang pemimpin, artinya untuk membangun kepercayaan, seorang pemimpin harus memberi teladan dalam hal kemampuan, koneksi dan karakter, moral dan akhlaknya.

Kouzes dan Posner (1997) dalam bukunya “Credibility” mengemukakan 4 (empat) sumber utama menentukan tingkat kepercayaan seorang pemimpin, yakni; jujur, memandang jauh ke depan, memberi inspirasi, dan cakap. Pendapat lain yang senada dikemukakan Stephen MR. Covey (2010) dalam bukunya “The Speed of Trust”, 4 (empat) inti dari kepercayaan, yakni; integritas atau kejujuran, niat baik, kemampuan atau cakap, dan hasil-hasil yang diperoleh.

Para pembaca sependapat dengan penulis, tidak mau dipimpin oleh orang gila, tidak mau dipimpin oleh pemimpin yang suka berbohon dan sedang sakit karena pemimpin yang demikian itu sesungguhnya tidak memiiki hak menjadi pemimpin dan tidak mungkin mampu membuat kemajuan yang bermartabat.

Menutup opini, guna mengingatkan kita, penulis kutip sabda Rasulullah Saw; “Barang siapa memilih seseorang untuk satu jabatan yang berkaitan dengan urusan masyarakat sedang ia mengetahui bahwa ada yang lebih tepat, maka ia telah mengkhianati Allah, Rasul dan amanat kaum Muslimin (Penulis, Dosen FKIP Untan dan Direktur Aswandi Foundation)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Standarisasi Penilaian Pendidikan

Informasi Jadwal Tes bagi Calon Dosen Kontrak FKIP Untan Tahun 2014

Bahagia Bersama Keberagaman

Sedikit Mengajar Banyak Belajar

Semua Karena Dipelajari