Korban Salah Didik

Opini Ilmiah


Selasa, 07 Juli 2015 - 11:43:38 WIB | dibaca: 578 pembaca



Oleh: Aswandi
 
DARI waktu ke waktu semakin banyak ditemui generasi penerus bangsa ini menjadi korban salah didik yang terlihat dari berbagai prespektif. Ada diantara mereka yang cerdas tetapi gagal dalam pendidikannya, sementara mereka yang sukses menyelesaikan studi pada jenjang yang lebih tinggi, namun tetap saja tidak berdaya dan bahkan tidak sedikit diantara mereka menjadi aktor kejahatan dan penindasan, misalnya KPK mencatat lebih dari 50% koruptor di negeri ini berpendidikan S2/S3 dan berusia muda.

Segala sesuatunya akibat dari proses pendidikan dan pembelajaran yang dijalaninya. Meminjam metapora Thomas Amstrong, seorang pakar “Multiple Intelegence”  menyatakan bahwa banyak anak menjalani proses pendidikannya di “Sekolah para Binatang”, peserta didik mengalami penderitaan karena salah ajar (dysteacher community), Bernard Shaw mengatakan hal senada bahwa banyak sekolah tempat anak-anak kita dididik adalah tempat yang lebih kejam dari sebuah penjara. Albert Einstein mengatakan bahwa satu-satunya yang menghambat pembelajaran saya adalah pendidikan saya dan masih banyak bukti lainnya.

Paul Stoltz (2000) dalam bukunya “Adversity Quotient” mengutip pendapat Martin Seligman yang menyatakan bahwa ketidakberdayaan sebagai proses yang dipelajari (learned Helplessness), dan menjadi penghambat secara definitif bagi pemberdayaan. Ketidakberdayaan yang dipelajari itu menginternalisasi keyakinan bahwa apa yang dikerjakan tidak ada manfaatnya, menghilangkan kemampuan mengendalikan peristiwa yang sulit. Dan mereka yang tahan banting karena terbiasa menghadapi kesulitan hidup cenderung tidak terlalu menderita, sekalipun menderita tidak akan lama. Sangat berbeda dibanding anak yang sejak kecilnya dimanja, setelah dewasa mereka mengalami kesulitan menghadapi persoalan hidupnya dan akhirnya berbuat kegagalan dalam hidupnya.  

R. Buckminster Fuller mengingatkan, “Semua orang yang terlahir genius, tapi proses pendidikan dan pembelajaran yang dialaminya menghilangkan kegeniusan mereka”.

Kesalahan mendidik sejak awal dilakukan orang tua dalam keluarganya, seperti kisah berikut “anak nakal tidaklah dilahirkan, melainkan diciptakan oleh orang tua dan lingkungannya. Orang tua mereka melakukan kesalahan umum dengan menyerah pada tuntutan anak hanya untuk mendapatkan sedikit kedamaian dan ketenangan, misalnya anak meminta dibelikan mainan, mula-mula orang tua mengatakan tidak, ketika anak mendesak, memprotes keras akhirnya orang tua menyerah untuk membuat mereka tenang, dikutip dari Pauline Wallin (2001) dalam bukunya “Taming Your Inner Brats”.  

Sering kali banyak orang tua lebih mempercayakan pendidikan anaknya kepada orang lain, seperti pada penitipan anak, bukankan pendidikan anak usia dini yang terbaik dilakukan oleh orang tuanya sendiri dalam keluarganya.
Demikian pula lingkungan sangat berpengaruh terhadap pembentukan perilaku anak. Hillary Rodham Clinton (1996) dalam bukunya “It Takes A Village” mengatakan bahwa mendidik atau menyiapkan masa depan yang lebih cerah bagi anak adalah urusan orang se kampung. Pendapat lain mengatakan, dalam waktu cukup 5 (lima) tahun, anda akan melihat perubahan bermakna pada perilaku anak Anda setelah ia membaca buku dan dengan siapa mereka berteman.
Dalam banyak kesempatan, Muhammad Nuh, Mendikbud 2009-2014 mengingatkan pentingnya kehadiran guru professional dalam sebuah sistem pendidikan yang bermutu dan bermakna untuk mengantarkan masa depan peserta didiknya yang dibekali ilmu, jiwa dan raga.

Sebuah studi menyimpulkan prestasi belajar pada dua kelompok peserta didik yang memiliki kesamaan karakteristik, diajar oleh guru dengan kualitas keprofesionalannya yang berbeda. Diketahui setelah 3 (tiga) tahun, peserta didik yang diajar oleh guru profesional menunjukkan perbedaan prestasi belajar lebih baik (56%). Diperparah lagi, jika diteruskan praktek pendidikan dan pembelajaran tersebut, dampak merusaknya bagi siswa yang diajar oleh guru tidak professional bertambah besar, yakni kehilangan jiwanya, demikian sebaliknya.

Kekeliruan memahami dan mengimplementasikan tri pusat pendidikan, yang semestinya berbeda, namun  kenyataannya semua dimaksudkan untuk penguatan pendidikan formal. Mereka lupa bahwa 1/3 belajar dalam keluarga, 1/3 belajar di sekolah dan/atau perguruan tinggi dan 1/3 belajar di masyarakat.

Selain itu salah didik lainnya, proses pendidikan dan pembelajaran selama ini tidak berbasis potensi peserta didik. Peter F. Drucker (1997) dalam bukunya “The New Realities” mengingatkan bahwa seseorang tidak mencapai prestasi puncak karena proses pendidikan itu di atas kelemahannya, sekalipun kelemahan itu telah diperbaiki,  diobati dan disembuhkan. Seorang hanya dapat mencapai prestasi puncak atas dasar potensi sebagai kekuatannya, baik berupa bakat, talenta, kecerdasan unik dan minat, bahkan masih ditemukan belajar dengan keterpaksaan.

Guna memutus mata rantai korban salah didik, John C. Maxwell (2013) dalam bukunya “Sometimes You Win Sometimes You Lose = LEARN” mengusulkan agar pendidikan melalui proses pembelajaran berdasarkan beberapa prinsip berikut ini; (1) the spirit of learning is humility atau pembelajaran dengan hati; (2) this foundation of learning is reality; (3) the first step of learning is responsibility; (4) the focus of learning is improvement; (5) the motivation of learning is hope; (6) the pathway of learning is teachability; (7) the catalyst of learning is adversity; (8) opportunities for learning is problems; and (9) the prespective of learning is bad experiences. Aristoteless, seorang filosof menegaskan hal yang sama; “The Roots of Education is bitter, but The Fruit is Sweet”; (10) the price of learning is Change; and (11) the value of learning is maturity.

Penulis tambahkan, bahwa pembelajaran yang efektif harus memperhatikan dan memahami beberapa hal berikut ini; (1) filsafat dan pergeseran paradigm saint dimana pengetahuan telah diyakini sesuatu non-objektif, bersifat temporer, selalu berubah dan tidak menentu; (2) belajar adalah penyusunan atau membentuk pengetahuan dari pengalaman konkrit, aktifivitas kolaboratif, refleksi dan interpretasi; (3) mengajar adalah menata lingkungan agar peserta didik termotivasi menggali makna serta menghargai ketidakmenentuan, dan pemahaman yang berbeda terhadap pengetahuan tergantung pada pengalamannya, dan prespektif yang dipakai dalam menginterpretasikannya; (4) sukses mengajar ditentukan oleh kesiapan belajar (readness of learning); (5) tujuan pembelajaran adalah menciptakan pemahaman baru yang menuntut aktivitas kreatif-produktif, kontektual yang mendorong peserta didik berfikir, memikir ulang dan mendemonstrasikan; (6) kebebasan belajar (freedom of learning). menjadi unsur yang esensial dan penentu keberhasilan belajar disertasi kontrol belajar pada diri peserta didik; (7) evaluasi adalah bagian utuh dari proses pembelajaran yang lebih menekankan pada proses.

Mengakhiri opini ini, penulis ingin menyampaikan bahwa opini ini tidak bermaksud memprovokasi pembaca untuk tidak menyekolahkan putra-putrinya, melainkan mengajak kepada kita semua untuk memilih sekolah yang terbaik dan menjanjikan bagi masa depan anak-anak kita dan masa depan anak bangsa ini (Penulis,Dosen FKIP Untan dan Ketua BAP S/M Kalbar)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Calon Guru Bersertifikat Pendidik

Membumikan Pendidikan

Mutu atau Mati

Plagiat di Perguruan Tinggi

Meningkatkan Hasil UN