Konvergensi Ilmu Pengetahuan

Opini Ilmiah


Senin, 23 Maret 2015 - 11:47:58 WIB | dibaca: 1188 pembaca


Oleh: Aswandi
 
 
HARUS diakui, konvergensi ilmu pengetahuan dalam peradaban dan masyarakat Islam telah mencatatkan kemajuan ilmu pengetahuan mendahului zamannya. Namun belakangan ilmu pengetahuan diyakini dan dipahami secara dikotomis, yang sangat berdampak terhadap krisis pendidikan Islam hingga sekarang ini. Islam tak pernah mengajar saint bersifat dikotomis, melainkan satu kesatuan  bersifat komprehenship dan integralistik. 
Fenomena dikotomis pendidikan Islam tersebut di atas, selain keyakinan dan pemahaman keliru, melainkan juga menghambat kemajuan atau inovasi dalam peradaban, khususnya bagi penyelenggaraan pendidikan Islam. 

Dyer, Gregersen, and Christensen (2013) dalam bukunya “The Innovator’s DNA” menegaskan bahwa kemajuan peradaban ditentukan oleh kualitas dari “Discovery Skill” of True Innovator yang dimilikinya, terutama kemampuan dan ketrampilan menghubungkan sesuatu dari berbagai prespektif (associate thinking), yakni; the ability to successfully connect seemingly unrelated question, problems, or ideas from different fields. Disamping; questioning, observing, experimenting, and networking, Oleh karena itu diperlukan reposisi mendesak terhadap paradigma ilmu pengetahua dari yang tadinya dikotomis menjadi konvergensi.   

Frans Johansson (2007) dalam bukunya “The Medici Effect” menemukan berbagai penemuan baru, penemuan yang mengubah dunia, akan datang dari pertemuan berbagai bidang ilmu dan bukan dari dalam satu bidang ilmu itu sendiri. Ketika banyak orang dari ilmu yang berbeda berkumpul, ide-ide baru dapat muncul dari gabungan dari sudut-sudut pandang mereka, sehingga semakin diyakini bahwa ilmu kebermanfatan ilmu pengetahuan bersifat multi dan inter disipliner. 

Fenomena konvergensi saint tersebut, semestinya menyadarkan kita, terutama mereka yang bekerja di bidang ilmu pengetahuan, seperti perguruan tinggi, lembaga ilmu pengetahuan dan riset bahwa dunia sekarang semakin saling berhubungan, di mana konsep-konsep yang tampaknya tidak berhubungan ternyata berhubungan erat sehingga sikap atau perilaku egocentrik keilmuan dibuang jauh-jauh.  

Frans Johansson (2007) mencontohkan, Profesor Leon Cooper seorang pelopor riset ilmu otak di Universitas Brown  menekankan pentingnya menyatukan berbagai disiplin untuk memahami pikiran manusia. Brain Science Program, tempat  berhimpunnya para peneliti dari berbagai disiplin ilmu, yakni ilmu pendidikan, syaraf, komputer, biologi, kedokteran, psikologi, psikiatri, fisika, dan matematika. Seorang psikolog dan peneliti kreativitas terkemuka Mihaly Csikszentmihalyi mengungkapkan, “tidak ada cara untuk mengetahui apakah sebuah pemikiran itu baru, kecuali dengan merujuk kepada beberapa standar, dan tidak ada cara untuk mengatakan apakah ia berharga sampai ia diuji oleh masyarakat”. 

Kembali Frans Johansson (2007) menegaskan bahwa, “Ilmu disiplin tunggal telah mati, sudah lenyap. Kebanyakan kemajuan besar melibatkan berbagai disiplin atau meminjam otak orang lain. Dalam pertemuan ilmiah berskala besar, kita semakin jarang melihat makalah dengan penulis tunggal, melainkan ditulis oleh nara sumber yang berasal dari disiplin ilmu pengetahuan yang berbeda. 

Di perguruan tinggi, semakin banyak jurusan, program studi yang menggunakan tanda sambung dibanding sebelumnya, misalnya matematika-fisika, biologi-kimia, geologi-kimia, sosial-budaya, ekonomi-psikologi, manajemen-informatika, bio-engeneering, neuro-linguistik, neuro-psikologi, teknik-lingkungan,  dan jangan heran lagi jika ditemui para ahli biologi bekerjasama dengan ahli ekonomi menganalisis pasar modal dan  ahli budaya bekerjasama dengan ahli otomotif untuk memunculkan gagasan baru tentang perilaku pasar. 

Fenomena konvergensi sains sesungguhnya telah berlangsung lama, misalnya; (1) George Soros salah seorang penggagas “Open Society” telah mempertemukan gagasan bidang keuangan dan filsafat untuk menciptakan sebuah strategi filantropi yang inovatif, dan strategi tersebut berhasil mengubah bangsa-bangsa ke dalam masyarakat yang didasarkan pada pengakuan bahwa tak seorangpun bisa memonopoli atau menjadi rahib kebenaran; (2) Maxwell Maltz (2004) seorang doktor bidang kedokteran, namun kemudian lebih dikenal sebagai pakar psikologi citra diri yakni “The New Psycho-Cybernetics”. Ia berhasil menggabungkan domain/disiplin fisik dan psikologi ke dalam sebuah paradigma saint. Ia menyatakan  bahwa, “Jika anda tidak berhasil mencapai segalanya yang anda inginkan dalam kehidupan ini, itu mungkin karena sasaran-sasaran anda tidak dikomunikasikan dengan efektif kepada, atau ditolah oleh citra diri anda, dan alat kontrol daya (servo mechanism) anda kurang dimanfaatkan dan tidak terinspirasikan”; (3) Anthony Robbins seorang profesional, penasehat presiden AS Bill Clinton, Lady Diana, dan Andre Agassi telah mengabdi untuk kemajuan kemanusiaan dalam bio-sains, percepatan pemahaman, neuro-linguistik, dan perkembangan anak menggabungkan berbagai keahlian, pikiran, dan disiplin ilmu pada Institut Penelitian Robbins yang didirikan dan dipimpinnya dan  berhasil merubah ketakutan menjadi kekuatan, kegagalan menjadi kesuksesan sejati, menyembuhkan orang sukses yang tak bahagia, dan orang gila dapat hidup normal kembali secara utuh; (4) Noam Chomsky seorang pakar anatomi yang kemudian lebih dikenal sebagai pakar linguistik, pemerhati sosial dan politik yang kritis. Ia selalu menggabungkan berbagai disiplin ilmu dalam kajian kritisnya, sebuah pernyatakan kritisnya, “pemerintah, para politisi, sistem ekonomi, dan media kita mengabaikan kepentingan mayoritas, namun melayani kepentingan orang kaya atau pihak-pihak tertentu”; (5) Larry Dossey (1997) salah seorang yang telah berhasil membuktikan secara ilmiah, dilandasi kriteria sains yang baik dan pengujian doa di laboratorium secara ketat, membuktikan bahwa doa memiliki kekuatan dalam penyembuhan sebagaimana dijelaskan bukunya “Healing Words”; (6) Steve Andreas & Charles Faulkner (1988) dalam bukunya “LNP The New Technology of Achievement”  menciptakan paradigma baru perubahan perilaku dan organisasi melalui pembelajaran yang memadukan ilmu linguistik, neuropsikologi secara terprogram; (7) Paul Ormerod (1998) dalam bukunya “The Death of Economict” menyatakan, “Seluruh dunia dilanda krisis ekonomi, jumlah pengangguran meningkat, defisit ganda menimpa, dan sebagainya. Para ekonom berkumpul berdiskusi, namun gagal menjawabnya, dan ilmu ekonomi telah gagal meramalkannya. Ilmu ekonomi ortodok, menggunakan matematika yang semakin rumit dan kurang melihat permasalahan ekonomi dari berbagai prespektif disinyalir menjadi penyebabnya”; dan (8) Julian Brannen (1997) dan banyak pakar penelitian lainnya telah menulis buku bertema “Mixing Methods: Qualitative and Quantitative Research” dan mengatakan bahwa menggabungkan pendekatan “Kuanlitatif” dan “Kualitatif” adalah penting dan menarik dalam penelitian. Mengakhiri opini ini, penulis tawarkan sebuah wacana membangun dan mengembangkan keilmuan dalam implementasi tri darma perguruan tinggi dari berbagai prespectif  bersifat konvergensi sebagaimana telah dijelas di atas (Penulis, Dosen FKIP Untan dan Direktur The Aswandi Foundation).


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Mahasiswa Pelanggan Utama

Memutus Mata Rantai Kekerasan

Perkuliahan Bermakna

Melawan Rasa Takut

Kebahagiaan Tidak Membahagiakan