Komunitas Pembelajar

Opini Ilmiah


Jumat, 08 Agustus 2014 - 09:24:59 WIB | dibaca: 564 pembaca



Oleh: Aswandi

PETER M Senge (1996) dalam bukunya “Fifth Discipline” menyatakan komunitas pembelajar adalah komunitas dimana orang secara terus menerus memperluas kapasitasnya, menciptakan hasil yang sungguh-sungguh sebagaimana yang mereka inginkan, dimana pola berpikir baru dan ekspansif ditumbuhkan, dimana aspirasi kolektif dibiarkan bebas, dan dimana orang di semua tingkat organisasi terus menerus berupaya belajar bersama. Inti dari komunitas pembelajar adalah pergeseran berpikir; dari terpisah ke terkait dan dari luar ke dalam. Suatu tempat dimana orang secara berkesinambungan menemukan cara bagaimana mereka menciptakan realitas mereka dan bagaimana mereka bisa merubahnya. Hal ini menjadi sangat mungkin karena kita semua sesungguhnya adalah manusia pembelajar. Jika pun ada diantara kita, baik selaku pribadi maupun selaku anggota dari sebuah komunitas belum menjadi manusia pembelajar, hal ini sebagai dampak dari sebuah proses ketidakmampuan belajar yang kita pelajari dari lingkungan kita, demikian Martin Seligman (2008) dalam bukunya “Menginstal Optimisme”. Misalnya, sering kali penulis temui dalam sebuah keluarga, orang tua mengucapkan kata “Jangan” kepada anaknya dan memanjakan putra-puri mereka yang sedang tumbuh kembang atau dalam proses pembentukan diri sebagai seorang pembelajar.

Peter M. Senge (1996) kembali mengemukakan bahwa ketidakmampuan belajar menjadi sangat tragis bagi peserta didik, terutama bila mereka berjalan atau berproses tidak terdeteksi. Kondisi ini juga sangat tragis dalam organisasi dimana proses perjalanan roda organisasi tidak terdeteksi.

Berikut ini penulis kemukakan beberapa kisah manusia dalam komunitas pembelajar. Donald J. Trump, pengusaha sukses dan tercatat sebagai orang kaya di dunia, pendiri Trump Organization dan Miss Universe dalam sebuah buku berjudul “How to Get Rich” tertulis sebuah kebiasaan beliau adalah membaca buku sedikitnya 2 (dua) jam setiap harinya sebelum pergi ke kantor. Pengusaha kaliber atau kelas dunia yang dikenal supersibuk ini, ternyata masih meluangkan waktu untuk tetap belajar setiap hatinya. Bagaimana kita?. Penulis tidak memiliki informasi yang banyak mengenai perilaku pembelajar para pemimpin kita, Barang kali di era teknologi informasi seperti sekarang ini, banyak orang telah terbiasa mendapat informasi dari membaca berita yang masuk ke face book dan note booknya sebelum mereka pergi ke tempat kerjanya atau membuka media informasi modern tersebut hanya untuk mengecek barangkali ada informasi nakal dan menggoda yang bisa membuat pasangannya marah. Di  tahun 1994 penulis melihat langsung seorang pejabat yang telah menjadi manusia pembelajar, seperti bapak Malik Fadjar mantan Menteri Agama dan Menteri Pendidikan Nasional yang sebelumnya menjabat sebagai seorang Dirjen di Kementerian Agama dan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang  (UMM). Di saat beliau menjabat rektor UMM, penulis sering menemuinya di ruang kerjanya, disamping mengerjakan tugas utama sebagai seorang rektor, penulis sering melihat beliau sedang asik membaca buku dan menulis. Hal yang sama, penulis lihat langsung di Universitas Negeri Malang (UM), tempat penulis menimba ilmu. Di kampus UM tersebut terdapat ruang yang secara khusus di sediakan bagi para dosen, khususnya para guru besar untuk belajar atau membaca dan contoh lain, Ibu Supit salah seorang manager Sahid Jaya Hotel dan pengusaha Setiawan Djodi membelanjakan jutaan rupiah setiap bulannya untuk membeli buku terbaru.

Sering diceritakan, perbedaan antara orang kaya dan mantan pejabat di dua negara; Indonesia dan Amerika Serikat. Orang kaya dan mantan pejabat di negeri ini memiliki ruang karoke di rumahnya, ada yang berkelakar jika mau menjadi pejabat harus bisa bernyanyi. sementara orang kaya dan mantan pejabat di Amerika Serikat  memiliki perpustakaan pribadi di rumahnya. Kisah konyol tersebut, penulis ceritakan kepada salah seorang wartawan yang baru saja pulang dari negeri Paman Sam dan beliau membenar apa yang penulis ceritakan itu. Dia bersama wartawan lainnya. diundang mengunjungi perpustakaan milik Jimmy Carter mantan presiden Amerika Serikat dan beberapa perpustakaan pribadi milik mantan pejabat lainnya. Betapa kagum mereka menyaksikan perpustakaan pribadi mantan pejabat, menempati lokasi sangat luas dengan bangunan sangat megah dan koleksi buku sangat lengkap. Sedikit mantan pejabat di negeri ini memiliki perpustakaan pribadi di rumahnya, seperti Bung Hatta, wakil Presiden Pertama RI sebagai gambaran mereka ketika hidupnya beliau adalah manusia pembelajar,

Setiap CEO atau pimpinan perusahaan di Jepang wajib membaca setidaknya 3 (tiga) buku, yakni buku karya Sun Tzu berjudul “The Art of War”, buku karya Miyamoto Mushashi berjudul “Book of Five Ring”, dan buku berjudul “Annals of the Three King”.

Hal yang sama, dilakukan oleh Prof. Dr. Bungaran Saragih ketika beliau menjabat menteri pertanian RI menganjurkan kepada para pejabat di kementeriannya untuk membaca sebuah buku karya Stephen R. Covey berjudul “Tujuh Kebiasaan Manusia Efektif”.

Ketika studi lanjut, program magister dan doktor di Malang, penulis menjadi anggota sebuah komunitas belajar para CEO dan manajer pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) dari berbagai perusahaan dan instansi pemerintah. Komunitas tersebut diberi nama Asosiasi Manajemen Indonesia (AMA). Adapun kegiatan AMA berbentuk workshop, seminar dan bedah buku manajemen terbaru yang dilakukan sebulan sekali di tempat yang berbeda, menghadirkan nara sumber, seperti Tandi Abeng, Kwik Kian Gie, dan Christian Wibisono. Jujur penulis akui, materi yang dibahas dan buku terbaru yang dibedah jauh lebih up to date dari pada materi perkuliahan yang penulis ikuti di program pascasarjana, misalnya ketika konsep “Perencanaan Strategis” sedang banyak dipelajari, komunitas AMA sudah lama membahasnya dalam seminar, melangkah lebih maju mendiskusikan konsep “Brainware Management”. Karena materinya lebih up to date sehingga tidak heran setiap kali AMA melakukan kegiatan, penulis bersama dosen mendiskusikan kembali materi tersebut di kelas dan di rumah mereka.

Semestinya, potret komunitas pembelajar kental ada di institusi pendidikan, mulai dari jenjang terendah hingga pendidikan tinggi. Namun kenyataannya tidak demikian; atmosfir atau suasana belajar belum kondusif dan perpustakaan belum menjadi jantungnya institusi pendidikan dan belum menjadi sarana belajar yang memadai karena keterbatasan yang dimilikinya, peran pimpinan satuan pendidikan, baik kepala sekolah maupun pimpinan perguruan tinggi belum mampu menciptakan dan membangun komunitas pembelajar bagi peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan lainnya. Misalnya guru sebagai pendidik professional dan dosen sebagai pendidik professional dan ilmuan masih bersikap reaktif dalam usaha meningkatkan keprofesionalannya,  sebagian besar pemberdayaan atau profesionalisasi dalam jabatannya sebagai pendidik dan tenaga kependidikan mengharapkan inisiatif institusi, belum proaktif dan mandiri. Fenomena tersebut sebagai indikasi sebuah institusi pendidikan yang belum belajar. Institusinya saja belum menjadi komunitas pembelajaran, bagaimana lagi komunitas pembelajar peserta didiknya. Dari hasil penelitian terungkat bahwa mereka belajar karena ingin menjadi sarjana, kemudian setelah menjadi seorang sarjana, mereka sudah tidak belajar lagi, sebagian besar dari para sarjana tersebut tidak mampu membaca satu buku dalam setahun. (Penulis, Dosen FKIP Untan dan Direktur The Aswandi Foundation)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi