Keterlibatan orang tua di sekolah anak-anaknya

Opini Ilmiah


Rabu, 29 April 2015 - 14:58:31 WIB | dibaca: 1404 pembaca


Leo Sutrisno
Dengan kurikulum 2013, pemerintah berusaha  meningkatkan mutu pendidikan Indonesia di panggung internasional. Selain mengubah kurikulum, pemerintah juga melakukan pelatihan guru. Dalam beberapa tulisan yang terdahulu  telah disajikan beberapa hal yang dapat dilakukan guru untuk meningkatkan kepribadiannya, memilih strategi pengajaran yang baik, serta kegiatan yang dapat melatih siswa menyadari masa kininya. Dalam tulisan ini disajikan apa yang dapat dilakukan  oleh para orang tua.

Dalam ‘karya besarnya’, rangkuman  lebih dari 50 000 penelitian yang berhubungan dengan hal-hal yang berpengaruh pada hasil belajar siswa,  John Hattie (2009) menempatkan faktor  rumah merupakan kelompok ke-5, setelah faktor  guru, kurikulum, pengajaran, dan siswa. Effects Size (ES) faktor rumah sebesar 0.35 dari 1 998 penelitian yang melibatkan 10 juta siswa. Ada tujuh variabel yang termasuk faktor rumah, yaitu: lingkungan rumah  (35 penelitian, ES=0.57); tingkat sosial-ekonomi (499 penelitian, ES= 0.57); keterlibatan orang tua di sekolah, (694 penelitian, ES=0.55); kujungan guru ke rumah, 71 penelitian, ES=0.29); strutur keluarga, (660 penelitian; ES=0.18); keterbukaan keluarga, (660 penelitian, ES=0.01); dan liburan bersama, (39 penelitian, ES=-0.9).

Walaupun lingkungan rumah  dan tingkat sosial ekonomi keluarga mempunyai pengaruh yang paling tinggi (ES masing-masing 0.57), perbaikan di kedua variabel ini tidak mudah dilaksanakan. Satu usaha yang paling mudah dilakukan oleh para orang tua siswa untuk membantu pendidikan anaknya adalah meningkatkan keterlibatannya di sekolah.  Di antara 138 faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa, keterlibatan orang tua di sekolah anak-anaknya mendududki ranking ke-29, dengan ES=0.55. Artinya, dibandingkan dengan para orang tua yang tidak terlibat sama sekali di sekolah, anak-anak para orang tua yang terlibat di sekolah 21% lebih baik.

Keterlibatan siswa di sekolah didefinisikan
William H. Jeynes  (2005), mempelajari paparan 77 penelitiannya (36 penelitian jenjang SM, 25 penelitian jenjang SD, dan 16 penelitian yang lain baik dari SM dan SD). Ia menemukan bahwa keterlibatan orang tua berpengaruh besar pada hasil belajar anak-anaknya. Para siswa yang orang tuanya terlibat aktif disekolah cenderung hasil belajarnya juga lebih tinggi dari temannya yang orang tuanya tidak terlibat di sekolah.

Ia juga menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua itu bukan hanya hadir pada pertemuan sekolah-orang tua siswa, bertemu dengan guru, acara sekolah (olah raga atau kesenian), atau  menjadi relewan bekerja sebagai anggota komite sekolah (Child Trend, 2013) tetapi harapan orang tua terhadap kaberhasilan anak-anaknya. Misalnya, kebanyakan para orang tua di Korea Selatan menaruh harapan yang tinggi dari keberhasil pendidikan anak-anaknya. Dan, ternyata, hasil belajar anak-anaknya juga tinggi-tinggi baik di tingkat nasional maupun tingkat internasional.  Menurut Jeynes (2005) temuan ini juga berlaku pada kelompok minoritas (Negro-Afrika, Hispanik atau Asia).

Child Trend, lembaga nirlaba dan nonpartisan di AS, menyatakan (2013) bahwa para siswa yang orang tuanya terlibat aktif di sekolah cenderung tidak mempunyai masalah tingkah laku dan juga cenderung hasil belajarnya bagus sehingga dapat menyelesaikan pendidikannya dengan lancar.   Pengaruh positip ini berlaku baik di jenjang SD maupun jenjang SM. Bagi siswa sekolah menengah, pengaruh ini jauh lebih besar daripada pengaruh dari kegiatan membantu anak-anaknya mengerjakan PR.

David R. Topor,  Susan P. Keane, Terri L. Shelton, and Susan D. Calkins (2011) menemukan keterlibatan orang tua ini tidak hanya berpengaruh pada kompetensi kognitif anak-anaknya tetapi juga pada hubungan antara orang tua dan para guru anak-anaknya. Para guru ini menjadi lebih bergairah dan lebih puas dengan pekerjaannya.

Joyce Epstein dari Center on School, Family and Community Partnerships Universitas Johns Hopkins, AS membagi keterlibatan orang tua itu menjadi enam jenis, yaitu: ‘parenting’, komunikasi, relawan, belajar di rumah, pengambilan keputusan, serta kolaborasi. Khusus di AS, ia menemukan bahwa pada umumnya, keterlibatan keluarga orang kulit putih lebih tinggi daripada keluarga kulit hitam atau kulit berwarna.

Kiranya, temuan-temuan ini juga dapat mendorong agar para orang tua semakin terlibat di sekolah anak-anaknya. Paling tidak membantu anak-anaknya menentukan pilihan masa depan anak-anaknya. Semoga!

 


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Leo Sutrisno

Memilih Bupati Mencari Solusi

Persyaratan Membuat Ijazah dan Akta 4

Bantuan Pelaksanaan Konferensi Ilmiah Internasional 2015

Seminar Nasional Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PIPT) 2015 Universitas Tanjungpura

Perilaku anti-sosial