Kepemimpinan Para Pembisik

Opini Ilmiah


Rabu, 03 Februari 2016 - 10:38:56 WIB | dibaca: 596 pembaca


Oleh: Aswandi
 
Kepemimpinan efektif dapat diwujudkan karena adanya kepercayaan antara pemimpin dan pengikut, dengan perkataan lain antara keduanya saling mempercayai, demikian sebaliknya, jika sudah tidak ada kepercayaan diantara mereka berarti sudah hilang atau tiada lagi kepemimpinan.

Kita pilih seorang pemimpin karena kita menaruh kepercayaan kepadanya, seiring dengan itu, pemimpin terpilih harus menaruh kepercayaan pula kepada pemilih yang setia dan sedia menjadi pengikutnya.

Faktanya, tidak selalu demikian, sebelum terpilih sangat percaya kepada konstituen pemilihnya, setelah terpilih dengan sangat cepat melupakan pemilih dan pendukungnya, anehnya pemimpin terpilih tersebut lebih percaya kepada para pembisik yang mulai mendekatinya, yang dulunya barang kali sejenis musang sekarang dengan cepat berubah menjadi musang berbulu ayam.

Dalam sebuah organisasi, mulai dari skala kecil hingga skala besar sering ditemui seorang pemimpin tidak percaya kepada para pembantu dan pengikut setianya, pemimpin tersebut lebih percaya pada para pembisik, misalnya seorang presiden lebih percaya pada tukang pijatnya dari percaya pada menterinya, seorang menteri lebih percaya pada petugas partai yang mengusungnya dan/atau kroni dari pada staf ahli yang ditunjuknya sehingga setiap usulan kegiatan yang memerlukan dukungan dana pemerintah harus dibawa atau dikawal oleh oknum partai politik dan organisasi masyarakat tertentu, banyak pegawai yang lebih hormat kepada oknum partai politik yang menjadi tamu pimpinannya dari pada atasan langsungnya.

Sudah menjadi pengetahuan publik bahwa staf ahli di sebuah instansi pemerintah merupakan jabatan yang kurang prestisius, seorang pegawai berpengalaman dan berprestasi dikandangkan karena bukan kroninya dan keberadaannya dalam sebuah organisasi tidak dimanfaatkan secara maksimal oleh pimpinannya, pemimpinnya lebih percaya kepada para pembisik yang selalu datang dan berkomunkasi dengannya. Oleh karena itu jangan heran, jika banyak pegawai tidak menginginkan perjalanan kariernya berakhir menjadi seorang staf ahli, kecuali mereka yang menginginkannya karena tidak ada jabatan lain, “Pokoknya Gue Menjadi Pejabat”.

Contoh lain, dalam hitungan menit bahkan detik, seseorang batal dilantik menjadi seorang pejabat tinggi karena ulah para pembisik. Rekan jejak (trade record) yang telah dipelajari dengan teliti oleh tim ahli dikalahkan atau diragukan validitasnya, pemimpin lebih mempercayai informasi yang bersumber dari para pembisik.     

Tidak sedikit peraturan dan ketentuan formal yang dijadikan petunjuk dalam penyelenggaraan bernegara dan pelaksanaan urusan pemerintahan ini disiapkan dan disusun oleh mereka yang bukan ahlinya, mereka adalah para pembisik sekaligus pemain proyek yang sangat dekat dengan pusat kekuasaan. Akibatnya, peraturan, ketentuan dan petunjuk tersebut sulit diimplementasikan atau diterapkan di lapangan.

Penulis berasumsi, boleh jadi perundang-undangan dan ketentuan yang berlaku dan dijadikan landasan hukum penyelenggaraan berbangsa dan bernegara selama ini menjadi prediktor atau penyebab utama ketidakmajuan atau keterbelakangan bangsa ini. Khabar terakhir, presiden Joko Widodo segera mengevaluasi ribuan peraturan daerah di negeri ini.        

Siapa para pembisik tersebut?. Para pembisik, baik individu maupun  sekelompok orang yang secara tidak formal dan tersebunyi, namun memiliki akses pada kekuasaan, dan memiliki pengaruh sangat besar terhadap pengambilan keputusan.
Mereka sangat dekat dengan kekuasaan, baik karena faktor kerabat atau keluarga, seperti; ayah/ibu, mertua, isteri/suami, anak, keponakan dan anggota keluarga lainnya, dan faktor lainnya, seperti; teman lama, teman sekampung, seagama, sesuku, separpol, tukang pijat, teman perselingkuhan, dukun dan paranormal. Keberadaan mereka secara batiniah sangat dekat sekalipun secara jasmaniah bisa saja mereka berjauhan. Biasanya mereka membangun komunikasi di tempat yang tidak formal, seperti di lapangan golf, di tempat pemancingan, di tempat karoke, dan jarang sekali di kantor. Bahkan di era teknologi informasi seperti sekarang ini, komunikasi dapat dilakukan dimana dan kapan saja.

Seorang pemimpin yang kurang zuhud dan kurang tawadduk sangat menikmati model kepemimpinan para pembisik ini.
Pemimpin tersebut sangat takut kehilangan kekuasaannya, setiap hari dibayangi oleh monster yang akan merebut kekuasaannya, diantara kepribadiannya sangat tidak senang melihat bawahannya lebih pintar darinya.

Jika kondisi kepemimpinan pembisik ini tetap dibiarkan mempengaruhi organisasi tanpa ada usaha mencegahnya, maka dapat dipastikan pada saatnya nanti, organisasi sebesar dan sekuat apapun akan runtuh. Oleh karena itu, organisasi yang mampu bertahan hidup adalah organisasi yang menerapkan model kepemimpinan dan manajemen profesional dimana semua fungsi manajemen, meliputi perencanaan, pengorganisasi, leading dan kontroling (monitoring dan evaluasi) harus diterapkan secara efektif dengan tolok ukuran dan Standar Operasional Prosedur (SOP) semua aspek secara jelas, siapa melakukan apa sebagaimana sering diingatkan oleh bapak JokoWidodo selaku presiden RI dalam setiap kali sidang kabinet, beliau mengingatkan agar menteri bekerja sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing.

Dalam teori kebijakan, dikenal prinsip “The Self Determanation Theory”, maknanya adalah “setiap kebijakan yang diambil akan berjalan secara efektif apabila penyusunan kebijakan melibatkan pihak yang akan melaksanakan kebijakan tersebut”. Adapun mekanisme pelibatan pihak yang akan menjalankan kebijakan tersebut bermacam-macam jenis dan bentuknya. Fakta membuktikan, banyak kebijakan yang dibuat, namun tidak memberikan hasil dan bermanfaat akibat tidak melibatkan pihak pelaksanakan kebijakan tersebut dalam menyusun kebijakan itu. Berdasarkan prinsip tersebut di atas, pengambilan keputusan melalui jasa para pembisik tidak akan menghasilkan sebuah kebijakan efektif (Penulis, Dosen FKIP Untan)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Mewujudkan Kebahagiaan Tanpa Batas

Melawan Rasa Takutt

Selamanya adalah Sama

Agenda Pendidikan 2016

Maling Teriak Maling