Kepemimpinan Berbasis Kekuatan

Oleh: Aswandi
 
SETIAP kali akan dilaksanakan pemilihan pemimpin di negeri ini selalu terjadi kampanye hitam berupa ghibah atau mengguncing dan fitnah terhadap pihak lawan yang dilakukan oleh orang yang tidak bertanggung jawab, Misalnya ghibah terhadap Joko Widodo (Jokowi) dan calon-calon presiden RI lainnya yang disebarkan lewat pesan singkat (sms) kepada masyarakat luas. Terlepas dari salah dan benar pesan yang disampaikan itu, mestinya pesan tersebut harus ditimbang dari berbagai aspek lainnya, yakni perlu-tidaknya dan baik-buruknya  sebagaimana pesan Aristoteles, ”Sampaikan sebuah kebenaran yang diperlukan untuk kebaikan dengan penuh tanggung jawab”.

Penulis sangat prihatin terhadap fenomena maraknya penyakit hati masyarakat berupa ghibah, fitnah dan mengguncing tersebut hanya untuk merebut sebuah kekuasaan yang bersifat sementara dan belum tentu memberi manfaat, baik bagi dirinya maupun bagi orang lain itu tanpa mengindahkan bahwa perbuatan mereka berbuah dosa dan telah dijanjikan oleh Allah SWT pelakunya masuk neraka.  
Allah Swt berfirman, “Janganlah sebagian kalian mengguncing (ghibah) sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kalian memakan daging saudaranya yang sudah mati?. Tentu kalian merasa jijik kepadanya (QS. Al-Hujarat:12)

Hadist Rasulullah Saw, Berhati-hatilah kalian terhadap ghibah atau mengguncing karena ghibah itu lebih buruk dari pada zina. Jika seorang berzina, lalu bertobat kepada Allah, Allah mengampuninya. Sedangkan ghibah atau mengguncing tidak akan diampuni dosanya sebelum orang yang diguncing itu memaafkan”
Imam Al-Ghazali (2006) dalam kitabnya “Mukasyafah Al-Qulub” mengutip sabda Rasulullah Saw tentang batasan ghibah yakni engkau menyebut-nyebut saudaramu tentang hal-hal yang tidak disukainya, baik tentang kekurangan pada tubuhnya, nasabnya, perbuatannya, perkataannya, agamanya maupun dunianya hingga tentang pakaiannya, jubahnya dan kendaraannya.

Diriwayatkan, seorang pendek datang kepada Nabi Saw untuk menyampaikan beberapa keperluannya.Ketika ia keluar, “Aisyah berkata, “Betapa pendeknya,…”.Beliau segera bersabda “Engkau telah mengguncingnya, Aisyah!”. Segeralah meminta maaf kepadanya.
Ka’ab ra berkata, “Barang siapa yang mati setelah bertobat dari ghibah, ia akan menjadi orang terakhir masuk surga. Akan tetapi, barang siapa yang mati dalam keadaan tetap melakukan ghibah (karena permohonan maafnya belum diterima), maka ia merupakan orang pertama masuk neraka”.

Apapun kelemahan seorang calon pemimpin, pada diri mereka pasti ada kekuatan atau kebaikan. Dan kepemimpinan efektif tidak berfokus pada kelemahan, melainkan berfokus pada kekuatan. Bukankah pada setiap orang ada kelebihan dan kelemahannya. Biasanya, orang yang kuat itu selalu mempunyai kelemahan yang kuat pula. Sebuah pribahasa mengatakan “Dimana ada gunung di situ ada lembah”. Seringkali kita memuji calon pemimpin yang kita kehendaki tanpa mau berusaha memahami bahwa calon pemimpin tersebut memiliki banyak kelemahan, dan sebaliknya kita mencaci maki, memfitnah, dan mengguncing calon pemimpin yang tidak dikehendaki, padahal kita mengetahui bahwa calon pemimpin yang tidak dikehendaki itu memiliki banyak kebaikan atau kekuatan. Mengapa harus mengguncingnya?.
Peter F. Drucker (1997) dalam bukunya “The Effective Executive” menegaskan bahwa seseorang tidak bisa berpedoman pada kelemahannya. Untuk bisa memperoleh hasil, seseorang harus menggunakan segala kekuatan atau potensi yang tersedia.

Martin Seligman menyatakan hal yang sama bahwa, “Kesuksesan tertinggi dalam hidup dan kepuasan emosional paling mendalam berasal dari membangun dan menggunakan kekuatan-kekuatan khas Anda”.

Zenger, Folkman, Sherwin dan Steel (2013) dalam bukunya “How to be Exceptional” mengatakan bahwa pemimpin luar biasa muncul karena kekuatan mereka, bukan karena sedikitnya kelemahan pada dirinya dan kesalahan yang mereka lakukan. Memusatkan perhatian pada kekuatan berarti menuntut adanya suatu kinerja. Sementara mencoba untuk membangun berdasarkan kelemahan adalah langkah yang mengacaukan tujuan organisasi. Sebuah kekuatan atau kemampuan jika dilaksanakan dengan tingkat ketrampilan dan keahlian tinggi, akan memberi pengaruh dahsyat pada kemampuan mereka untuk sukses. Sementara berapapun besarnya usaha untuk memperbaiki kelemahan. Itu hanya akan membawa mereka ke titik bagian tengah dalam pengukuran efektivitas keseluruhan. Dengan perkataan lain, Siapapun menempatkan seseorang dalam sebuah organisasi untuk mencegah terjadinya kelemahan, paling-paling hanya akan menjumpai atau menghasilkan kualitas atau kinerja yang biasa-biasa saja.

Setiap organisasi semestinya, membuat kekuatan menjadi efektif dan kelemahan menjadi tidak relevan. Dan yang menjadikan seseorang pemimpin besar adalah keberadaan kekuatannya, bukan ketiadaan kelemahan.
Dalam kehidupan manusia sehari-hari, jarak antara pemimpin dengan orang biasa adalah tetap. Jika kinerja kepemimpinannya tinggi, maka kinerja orang biasa tersebut akan ikut naik.

Kepemimpinan yang efektif terkait dengan sumber kekuatan, yakni, peduli, inklusif, tegas, terbuka, integritas, mengembangkan orang lain, melibatkan orang lain, dan pribadi akuntabel. Namun tidak semua kekuatan itu dimiliki oleh pemimpin efektif, setidaknya mereka memiliki beberapa kekuatan sangat dahsyat saja yang membuatnya menonjol dibanding banyak orang lain.
Tugas seorang pemimpin bukanlah untuk merubah manusia. Melainkan untuk melipatgandakan kapasitas kinerja dari keseluruhan orang dengan memanfaatkan segala bentuk kekuatan, kebugaran, dan aspirasi apapun yang ada di dalam diri para individu.

Para peneliti sepakat bahwa beberapa kekuatan dahsyat itu dapat dikembangkan, yakni melalui tiga unsur penting, yakni; (1) kompetensi (competence), (2) semangat atau gairah (passion) dan (3) kebutuhan organisasi (organisation need), disingkat CPO. Maksudnya, Jika ingin menjadi seorang pemimpin efektif, mulailah mengembangkan beberapa kompetensi yang anda miliki dan cukup Anda kuasai, tentu saja kompetensi yang akan dikembangkan tersebut menggairahkan Anda untuk mengerjakannya dan mempertimbangkan kompetensi yang menggairahkan itu sesuai kebutuhan organisasi yang Anda pimpin.

Mengakhiri opini ini, penulis mengingatkan, terutama kepada penulis sendiri dan semua pembaca untuk membatasi diri dalam persoalan ghibah atau mengguncing calon pemimpin atau presiden/wakil presiden yang akan dipilih nanti. Kekhawatiran dan ketakutan penulis jika mengguncing mereka, justru menyulitkan kita untuk meminta maaf kepada mereka dan bisa saja di akhir hayat kita, mereka tidakatau belum memberi maaf atas gunjingan yang kita sebar luaskan itu. Jika hal ini terjadi, nerakalah tempatnya (Penulis, Dosen FKIP Untan danDirektur The Aswandi Foundation)