Kemerdekaan dan Pendidikan

Opini Ilmiah


Rabu, 19 Agustus 2015 - 08:47:40 WIB | dibaca: 1185 pembaca


Oleh: Aswandi
 
PEMBUKAAN UUD RI 1945 secara tegas menyatakan bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh karena itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai perikemanusiaan dan perikeadilan. Dan diantara tujuan kemerdekaan itu adalah mencerdaskan kehidupan bangsa.

Terkait kemerdekaan ini, para ahli berpendapat; John Stuart Mill dalam bukunya “On Liberty” menegaskan tidak ada alasan bagi masyarakat untuk mencampuri kemerdekaan atau kebebasan bertindak seseorang kecuali kemerdekaan atau kebebasan itu mencederai orang lain, bahkan setiap orang harus menerima tanggung jawab untuk melindungi satu sama lain. Di bagian lain Mill mengatakan, saya tidak setuju dengan apa yang anda katakan, namun saya akan mempertahankan hingga mati hak anda untuk mengatakannya atau membela anda hingga mati karena kita berbeda pendapat.

Bung Hatta mengatakan bahwa kebebasan yang tidak terbatas atau tidak bertanggung jawab justru mengundang lawan kebebasan itu sendiri, dikutip dari Nurcholish Madjid (1992) dalam bukunya”Islam Doktrin dan Peradaban”.
Kemerdekaan dan pendidikan berhubungan secara simbiotik atau saling mempengaruhi dan saling ketergantungan (inter-dependence), dan tidak ada yang satu lebih penting dari yang lainnya, melainkan keduanya sama pentingnya. Kemerdekaan yang sempurna adalah dampak dari proses pendidikan yang bermutu dan bermakna, demikian sebaliknya, pendidikan bermutu dan bermakna sangat tergantung seberapa jauh kemerdekaan dalam proses pendidikan, khususnya pembelajaran dijalani oleh setiap orang.

Para pengamat sosial yang cermat mengajukan argumen yang kuat mengenai korelasi yang tinggi antara kemerdekaan atau  kebebasan manusia dan pembangunan manusia. Negara yang berperingkat tinggi pada indeks kemerdekaan atau kebebasan juga berperingkat tinggi pada skala pembangunan. Kemerdekaan atau kebebasan berpotensi melepaskan tenaga kreatif manusia dari belenggu yang menghasilkan tingkat-tingkat pendapatan serta kemajuan yang lebih tinggi”, dikutip dari Kotler, Jatusripitak dan Maesincee (1998) dalam bukunya “The Marketing of Nations)

Fakta lain, Hari proklamai kemerdekaan 17 Agustus 1945, kita peringati hari ini satu napas dengan peristiwa sejarah memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan, mulai Kebangkitan Nasional, 1 Oktober 1908; Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, dan 10 Nopember 1945, dipelopori atau dimotori oleh kaum terdidik atau terpelajar, diantara mereka ada yang bersekolah di negeri Belanda (negeri penjajah pada waktu itu) dan gerakan kaum terdidik tersebut menginspirasi atau berimbas kepada generasi muda yang berada di tanah air. Keteguhan tekad mempertahankan kemerdekaan itu teruji kembali pada peristiwa 10 Nopember 1945 di Surabaya.   

Pendidikan dan pembelajaran yang memerdekakan menjadi solusi dalam mewujudkan bangsa yang beradab dan bermartabat.
Sebuah ilustrasi, Rockefeller University di New York City, berdiri tahun 1901, sebuah universitas swasta ternama, terutama di bidang kedokteran, kimia biomedis, bioinformatika, dan fisika dengan dukungan 72 laboratorium telah menghasilkan 24 orang ilmuan penerima nobel. Selain sumber daya yang dimilikinya, faktor yang sangat mempengaruhi kesuksesan dan prestasi akademik universitas tersebut adalah kemerdekaan dalam pembelajaran (freedom of learning).

Sejak berdiri, Universitas Rockefeller telah memeluk struktur terbuka untuk mendorong kolaborasi antar disiplin dan sumber daya fakultas, berani mengambil “high-risk” dan “high-reward project”, tidak ada departemen formal, birokrasi dikesampingkan, para dosen dan peneliti diberi sumber daya, dukungan dan kebebesan secara tidak terbatas mengikuti kemanapun dan dimanapun ilmu itu berada. Pada jenjang pasca sarjana diterapkan, “Learning Science by Doing Science” berbasis adat dan budaya setiap peserta didik.

Harvard University sebuah universitas prestesius di dunia hingga saat ini juga melakukan hal yang sama, yakni memberikan kemerdekaan dalam pembelajaran, contoh kecil, jika dosen dinilai oleh mahasiswanya tidak mampu menyampaikan perkuliahan secara efektif, maka para mahasiswa memintanya untuk memilih antara; dosen atau mahasiswa yang harus keluar meninggalkan ruang kelas”, Kemerdekaan dalam pendidikan dan pembelajaran” juga diterapkan di Finlandia, sebuah negara yang dikenal memiliki mutu pendidikan terbaik dunia. misalnya tidak ada kurikulum dan evaluasi standar secara nasional, semua diserahkan pada kebebasan sekolah masing-masing.

Berbeda dengan praktek pembelajaran yang sering terjadi dimana sebagian besar peserta didik belum memperoleh kemerdekaan dalam pembelajaran. Meminjam istilah dari Bernard Shaw, “Sekolah tempat menuntut ilmu lebih kejam ketimbang penjara”, dikutip dari Naomi (1999) dalam buku “Menggugat Pendidikan”.

Penulis sering sekali mendengar keluhan orang tua, mahasiswa/i dan siswa/i atas ketidaknyamanan pembelajaran yang mereka alami sebagai dampak dari proses pembelajaran yang tidak memerdekakan itu. Sejak lama Martin Seligman seorang pakar psikologi mengingatkan agar berhati-hati dalam melaksanakan proses pembelajaran karena telah terbukti dan teruji bahwa ketidakberdayaan manusia adalah dampak dari proses belajar yang dijalaninya. R. Buckminster Fuller mengatakan, “Semua orang yang terlahir genius, tapi proses pendidikan dan pembelajaran yang dialaminya menghilangkan kegeniusan mereka”.

Sering kali anak dan peserta didik diperlakukan dengan manja (spoil) oleh orang tua dan/atau pendidiknya, misalnya, ketika mereka ingin makan ikan, orang tua dan pendidiknya memberinya ikan yang dimintanya sehingga mereka hanya mampu hidup satu hari. Semestinya, ketika mereka meminta ikan, orang tua dan pendidiknya memberinya pancing agar mereka hidup untuk selamanya.
Kemerdekaan dalam pembelajaran memerlukan penataan lingkungan belajar dalam suasana kondusif sekalipun terlihat tidak teratur, tidak pasti, dan semeraut.

Sebuah asumsi, orang belajar harus merdeka (freedom of learning). Hanya di alam yang penuh kemerdekaan itu peserta didik dapat mengungkapkan makna yang berbeda dari hasil interpretasi terhadap segala sesuatu yang ada di dunia nyata. Kebebasan menjadi unsur yang esensial dalam lingkungan belajar karena ia menjadi penentu keberhasilan belajar. Peserta didik adalah subjek, bukan objek, Mereka harus mampu menggunakan kemerdekaan atau kebebasan untuk melakukan pengaturan atau control diri dalam belajar.

Iwan Pranoto guru besar Matematika ITB dalam opininya “Aku Merdeka” mendukung implementasi pendidikan yang memerdekakan, memposisikan peserta didik sebagai subjek dan pelaku utama perbaikan pendidikan yang digagas Kemendikbud RI sekarang ini guna melahirkan generasi kreatif, kritis, inovatif, komunikatif, dan percaya diri, Kompas 27 Juli 2015

Dari uraian di atas, penulis simpulkan bahwa mutu dan makna pendidikan dirasakan masih rendah karena peserta didik belum memperoleh kemerdekaan dalam proses pendidikan, khususnya pembelajaran, demikian sebaliknya masyarakat belum menikmati kemerdekaan yang sempurna karena pendidikan yang diperolehnya belum bermutu dan bermakna (Penulis, Dosen FKIP Untan)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Ayo Kerja

Thuma’ninah dalam Pembelajaran

Rumahku Pantiku

Publikasii Ilmiah Guru

Korban Salah Didik