Kemerdekaan dalam Pembelajaran

Opini Ilmiah


Senin, 18 Agustus 2014 - 15:53:26 WIB | dibaca: 475 pembaca



Foto: Pembekalan Pelatihan Polmas bagi Para Tokoh Masyarakat Se- Indonesia

Oleh: Aswandi
 
SEBUAH ilustrasi, Rockefeller University di New York City, berdiri tahun 1901, sebuah universitas swasta ternama, terutama di bidang kedokteran, kimia biomedis, bioinformatika, dan fisika dengan dukungan 72 laboratorium telah menghasilkan 24 orang ilmuan penerima nobel. Selain sumber daya yang dimilikinya, faktor yang sangat mempengaruhi kesuksesan dan prestasi akademik universitas tersebut adalah kemerdekaan dalam pembelajaran (freedom of learning).

Sejak berdiri, Universitas Rockefeller telah memeluk struktur terbuka untuk mendorong kolaborasi antar disiplin dan sumber daya fakultas, berani mengambil “high-risk” dan “high-reward project”, tidak ada departemen formal, birokrasi dikesampingkan, para dosen dan peneliti diberi sumber daya, dukungan dan kebebesan secara tidak terbatas mengikuti kemanapun dan dimanapun ilmu itu berada. Pada jenjang pasca sarjana diterapkan, “Learning Science by Doing Science” berbasis adat dan budaya setiap peserta didik.  

Harvard University sebuah universitas prestesius di dunia hingga saat ini juga melakukan hal yang sama, yakni memberikan kemerdekaan dalam pembelajaran, contoh kecil, jika dosen dinilai oleh mahasiswanya tidak mampu menyampaikan perkuliahan secara efektif, maka para mahasiswa memintanya untuk memilih antara; dosen atau mahasiswa yang harus keluar meninggalkan ruang kelas”, demikian kesaksian Mukarami salah seorang dosen universitas tersebut.

Hal yang sama “Kemerdekaan dalam Pembelajaran” juga diterapkan di Finlandia, sebuah negara yang dikenal memiliki mutu pendidikan terbaik dunia. misalnya tidak ada kurikulum dan evaluasi standar secara nasional, semua diserahkan pada kebebasan sekolah masing-masing.
Berbeda dengan praktek pembelajaran di negeri ini, sebagian besar peserta didik belum memperoleh kemerdekaan dalam pembelajaran. Sekolah tempat mereka menuntut ilmu tidak beda sebuah penjara.

Penulis sering sekali mendengar keluhan orang tua, mahasiswa/i dan siswa/i atas ketidaknyamanan belajar sebagai dampak dari proses pembelajaran yang tidak memerdekakan itu.

Berikut ini, penulis kemukakaan beberapa hal penting terkait kemerdekaan dalam pembelajaran.
Kemerdekaan dalam pembelajaran bermula dari sebuah pandangan bahwa pengetahuan adalah non-objektif, bersifat temporer, selalu berubah dan tidak menentu.
Belajar adalah penyusunan atau membentuk pengetahuan dari pengalaman konkrit, aktifivitas kolaboratif, refleksi dan interpretasi. Sementara mengajar adalah menata lingkungan agar si belajar termotivasi dalam menggali makna serta menghargai ketidakmenentuan.

Akibatnya, siswa memiliki pemahaman yang berbeda terhadap pengetahuan tergantung pada pengalamannya, dan presfektif yang dipakai dalam menginterpretasikannya. Dan sukses mengajar ditentukan oleh kesiapan siswa untuk belajar atau readness of learning.

Bukankah yang terjadi selama ini, pengetahuan dipandang objektif, bersifat pasti dan tetap, dan tidak berubah. Belajar dimakna sebagai perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar diartikan memindahkan pengetahuan (transfer of knowledge) ke orang yang belajar.
Siswa diharapkan akan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan pendidiknya.

Tujuan pembelajaran yang memerdekakan menekankan pada belajar bagaimana belajar; menciptakan pemahaman baru yang menuntut aktivitas kreatif-produktif dalam konteks nyata (kontektual) yang mendorong siswa untuk berpikir, memikir ulang dan mendemonstrasikan.
Kemerdekaan dalam pembelajaran memerlukan penataan lingkungan belajar dalam suasana kondusif sekalipun terlihat tidak teratur, tidak pasti, dan semeraut.

Sebuah asumsi, orang belajar harus bebas (freedom of learning). Hanya di alam yang penuh kebebasan tersebut si belajar dapat mengungkapkan makna yang berbeda dari hasil interpretasi terhadap segala sesuatu yang ada di dunia nyata. Kebebasan menjadi unsur yang esensial dalam lingkungan belajar.

Kegagalan atau keberhasilan, kemampuan atau ketidakmampuan dilihat sebagai interpretasi yang berbeda yang perlu dihargai.
Kebebasan dipandang sebagai penentu keberhasilan belajar. Siswa adalah subjek, bukan objek, Mereka harus mampu menggunakan kebebasan untuk melakukan pengaturan diri dalam belajar. Hal yang sangat penting bagi pembelajaran yang memerdekakan itu dimana kontrol belajar dipegang oleh diri siswa sendiri.
Sebaliknya, praktek pembelajaran yang tidak memerdekakan selama ini tampak dimana si belajar dihadapkan dan ditetapkan pada aturan yang jelas dan ketat.

Pembelajaran lebih banyak dikaitkan dengan penegakan disiplin,  bahkan kegagalan atau ketidakmampuan dalam penambahan pengetahuan dikategorikan sebagai kesalahan yang perlu dihukum dan keberhasilan atau kemampuan dikategorikan sebagai perilaku yang pantas diberi hadiah. Dan ketaatan pada aturan dipandang sebagai penentu keberhasilan belajar. Siswa dipandang sebagai objek yang harus berperilaku sesuai aturan. Kontrol belajar dipegang oleh sistem yang berada di luar diri siswa itu sendiri.

Strategi pembelajaran yang memerdekakan, menekankan pada penggunaan pengetahuan secara bermakna mengikuti urutan dari keseluruhan ke bagian. Proses
pembelajaran lebih banyak diarahkan untuk meladeni pertanyaan atau pandangan siswa. Aktivitas belajar lebih menekankan pada ketrampilan berfikir kritis, analisis, membandingkan, generalisasi, memprediksi, dan menyusun hipotesis.
Pembelajaran dan evaluasi menekankan pada proses.

Pelaksanaan evaluasi dalam pembelajaran yang memerdekakan menekankan pada penyusunan makna secara aktif yang melibatkan ketrampilan terintegrasi dengan menggunakan masalah dalam konteks nyata.

Evaluasi menggali munculnya berfikir divergen, pemecahan masalah secara ganda atau tidak menuntut satu jawaban benar karena pada kenyataannya tidak ada jawaban salah, yang ada justru pertanyaan yang salah.
Evaluasi merupakan bagian utuh dari belajar dengan cara memberikan tugas yang menuntut aktivitas belajar yang bermakna serta menerapkan apa yang dipelajari dalam konteks nyata, artinya evaluasi lebih menekankan pada ketrampilan proses dalam kelompok.

Dari uraian di atas, penilis simpulkan sebagai berikut: (1) ketidakmampuan belajar (disability of learning) masyarakat adalah akibat dari proses yang dipelajarinya; (2) sebagian peserta diri belum memperoleh kemerdekaan dalam pembelajaran; (3) untuk meningkatkan kemampuan belajar masyarakat tidak cukup dengan memberikan muatan isi (subject matter) berupa dogma dan doktrin sebanyak-banyaknya ke dalam otak mereka, melainkan yang terpenting adalah proses mengetahui (knowing) melalui kemerdekaan dalam pembelajaran (Penulis, Dosen FKIP Untan dan Direktur The Aswandi Foundation)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Pemilu Menguji Integritas

Komunitas Pembelajar