Kembali pada Keluarga

Opini Ilmiah


Kamis, 10 April 2014 - 08:05:43 WIB | dibaca: 483 pembaca



FENOMENA saat ini sedang terjadi demoralisasi dan dehumanisasi generasi muda penerus masa depan bangsa; Kehidupan freesex, AIDS, narkoba, hamil di luar nikah/perawan saat ijab kabul sudah mulai langka, aborsi, agresivitas/kekerasan peserta didik ada dimana-mana, mudah putus asa disertai melakukan tindakan   destruktif, seperti bunuh diri dan depresi terberat adalah jenis penyakit baru generasi muda sebagai dampak dari kehilangan harapan akan masa depannya. Demikian pula toleransii antar sesama, kebhinnekaan dan kejujuran hanya seolah-olah dan kurang dihargai. Tampaknya diantara kita belum merasa berada di ruang tamu dari sebuah rumah besar Indonesia, masih banyak yang kurang peduli atau tetap membiarkan mereka hidup dan menikmati kehidupannya di kamar dan di bilik etnisitas dan status sosial, ekonomi dan budayanya masing-masing sekalipun kehidupan di kamar masing-masing tidak dilarang.

Semakin banyak saja jumlahnya anak yang tidak hormat pada orang tuanya dan pada orang yang lebih tua dari mereka. Misalnya, saat ditegur oleh orang tua mereka segera melawan atau membantah kasar.  

Generasi muda pada saat ini secara umum tidak peduli terhadap siapa pemimpinnya, mereka semestinya menjadi pemilih cerdas untuk pemilu berkualitas. Namun kenyataannya tidak demikian, mereka sudah terjebak pada politik transaksional sebagaimana yang mereka lihat langsung dari orang tua mereka. Program yang bagus dari calon pemimpin tidak laku dijual dengan hanya bermodalkan air liur tanpa dibaringi upeti. Tentu saja kandidat bermodal upeti yang lebih tinggi nilai duitnya lebih diminati atau menjadi pilihan. Hari ke hari penulis amati pemilih sudah semakin tidak cerdas berdampak pada pemilu tak berkualitas, meminjam istilah Gus Dus, “Demokrasi Seolah-Olah”.

Abdullah Nashih Ulwan (1999) dalam kitabnya “Tarbiyatul Auladfil Islam” mengemukakan bahwa kenakalan anak disebabkan oleh beberapa hal, antara lain; (1) kemiskinan yang menimpa keluarga; (2) disharmoni antara ayah dan ibu; (3) kurang efektifnya penggunaan waktu senggang anak; (4) pergaulan negatif dan teman yang jahat; (5) buruknya perlakuan orang tua terhadap anak; (6) tontonan yang kurang baik pada anak; (7) tersebarnya pengangguran dalam masyarakat; (8) kelalaian orang tua terhadap pendidikan anak; dan (9) bencana keyatiman.  

Usaha membentuk kepribadian dan karakter baik, serta akhlak mulia telah lama diselenggarakan dan diusahakan di sekolah, bahkan mata pelajaran yang terkait langsung dengan pembentukan kepribadian, karakter dan akhlak mulia tersebut telah diajarkan sebagai mata pelajaran utama. Namun fakta adalah sebaliknya.

Tentu ada yang memerlukan penyempurnaan. Sambil memperbaiki praktek pembelajaran, khususnya dalam pembentukan sikap di sekolah, penulis usulkan untuk kembali memperhatikan pendidikan sikap itu dalam lingkungan keluarga. Usulan tersebut didasarkan atas beberapa hal, yakni; (1) pembentukan kepribadian, karakter dan akhlak mulia dimulai sejak dini, di saat anak pertama kali berhubungan dengan dunia orang lain di sekitarnya, yakni dalam keluarga. Sebuah kesalahan selama ini, di era kemajuan teknologi informasi dengan menggunakan produk teknologi modern seperti handphone hubungan antara manusia semakin mudah tanpa dibatasi ruang atau tempat. Namun harus diingat bahwa quantity time atau sentuhan fisik setiap anak pada orang tua mereka masih sangat diperlukan karena sentuhan tersebut memberi pengaruh yang sangat besar terhadap tumbuh kembang anak. Para ahli pendidikan menyarankan agar kita memiliki waktu untuk menjalin hubungan empat mata penuh kasih dengan setiap anggota keluarga kita. Namun kunci semua hubungan tersebut adalah interaksi edukatif penuh cinta kasih; (2) waktu anak di rumah jauh lebih lama dibanding mereka di luar rumah; (3) keluarga, selain pertama, juga adalah lembaga pendidikan yang utama. Hillary Clinton seorang ibu negara, politikus dan mantan Menlu AS dalam sebuah bukunya berjudul “It A Village” mengatakan bahwa pendidik terbaik bagi setiap anak adalah orang tua mereka sendiri. Hal yang sama ditegas oleh Prof. Dr. Paulus Hendrikus Janssen, disapa Romo Janssen menegaskan bahwa tempat tinggal terbaik bagi anak adalah bersama orang tua mereka, dikutip dari Readers Digest, Februari 2014; dan (4) beberapa sebab kenakalan anak sebagaimana tersebut di atas, terkait erat dengan peran orang tua di rumah atau di lingkungan keluarga.  

Stephen R. Covey (2000) dalam bukunya “The 7 Habits of Highly Effective Families” mengemukakan sebuah metafora bahwa keluarga yang efektif atau keluarga yang baik (sakinah ma waddah) ibarat sebuah perjalanan pesawat yang kuncinya terletak dalam memiliki sebuah tujuan, sebuah rencana penerbangan dan sebuah kompas.
Di bagian lain dari buku tersebut, ia mengemukakan tujuh kebiasaan keluarga yang sangat efektif; (1) bersikap proaktif adalah kunci menuju semua kebiasaan lainnya. Sikap proaktif adalah kemampuan untuk bertindak berdasarkan prinsip dan nilai dari pada bereaksi berdasarkan emosi atau keadaan; (2) memulai dengan memikirkan tujuan, artinya menciptakan visi yang jelas, kuat mengenai apa keinginan suatu keluarga; (3) mendahulukan hal yang utama. Orang bijak berkata, “Hal yang penting tidak boleh berada dibawah kendali hal yang kurang penting”. Misalnya, memutuskan mata rantai kemiskinan adalah melalui pendidikan bermutu. Oleh karena dalam kondisi seperti apapun keluarga kita, maka memberi pendidikan bermutu pada anak-anak kita adalah hal yang utama kita lakukan, bukan yang lain; (4) berpikiran menang-menang. Kebiasaan ini mengingatkan kita bahwa sebuah keluarga bukanlah sebuah areal kompetisi, dimana yang satu menang, sementara yang lain kalah; (5) Seringkali orang tua dalam sebuah keluarga meminta untuk didengarkan atau dipahami terlebih dahulu, pada telinganya sendiri belum siap untuk mendengarkan atau memahami. Kebiasaan tersebut adalah keliru, yang benar adalah berusaha untuk memahami dahulu baru dipahami; (6) bersinergis adalah “Summum Bonum” dari sebuah keluarga, artinya buah tertinggi dari yang tertinggi dari semua kebiasaan. Ingatlah, Kunci menuju sinergitas, termasuk dalam keluarga adalah kesadaran, keinginan dan kebutuhan kita untuk merayakan perbedaan sehingga kita merasa nyaman dalam perbedaan dan keberagaman itu; dan (7) mengasah gergaji, artinya sebuah keluarga pembelajar atau sebuah keluarga yang selalu memperbaharuhi diri mereka. Di bukunya yang lain, Covey mengingatkan bahwa kita ini terlalu asik menggergaji, tetapi lupa mengasah gergaji yang kita gunakan itu.

Menutup opini ini, penulis kutip pernyataan Mantan Ibu Negara Amerika Serikat Barbara Bush dihadapan para lulusan Wellesley College. Nasehat beliau pada wisudawan dan wisudawati berbunyi; “Di akhir hidup anda, anda tidak akan pernah menyesal karena tidak berhasil dalam sebuah ujian, tidak memenangkan sebuah kasus, tidak menandatangani sebuah kontrak. Anda akan menyesali hidup Anda karena waktu yang tidak Anda habiskan atau tidak Anda gunakan dengan baik bersama seorang suami, bersama anak dan teman, dan bersama ayah dan ibu Anda. Keberhasilan kita sebagai masyarakat tidak bergantung pada apa yang terjadi di Gedung Putih, melainkan apa yang terjadi di rumah-rumah kita” (Penulis: Aswandi - Dosen FKIP Untan dan Direktur The Aswandi Foundation)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Petunjuk Penulisan Artikel Penelitian / Jurnal Elektronik di Lingkungan UP4I - FKIP Untan

Bersatu Berjuang Menang

Sekolah Tanpa Kertas

Pencapaian Hasil Belajar

Takut Menjadi Pemimpin