Kekerasan Seksual pada Anak

Opini Ilmiah


Senin, 28 April 2014 - 10:25:53 WIB | dibaca: 2325 pembaca



SETIAP hari pembaca disuguhkan berita semakin banyaknya bocah menjadi korban kekerasan seksual yang terjadi di lingkungan sekitarnya.Terakhir, diberitakan seorang guru di Medan melakukan hal yang sama, yakni kekerasan seksual terhadap muridnya.  
Beberapa tahun lalu, Unicef, sebuah organisasi peduli anak dunia melaporkan bahwa kekerasan fisik dan seksual terhadap anak sudah sering terjadi di lembaga pendidikan (sekolah), yakni sebuah lembaga yang semestinya melindungi anak dari berbagai bentuk kekerasan. Terbukti ruang publik (rumah dan sekolah) sekarang ini semakin tidak aman bagi anak. Pembeeritaan tentang kekerasan terhadap anak saat ini layaknya sebuah gunung es, artinya masih banyak kasus yang sama belum terungkap dan belum diketahui oleh masyarakat (publik).

Korban, orang tua, masyarakat dan pemerintah masih banyak yang belum peduli terhadap persoalan kekerasan terhadap anak, dan bahkan banyak diantara mereka yang takut mengungkapkannya karena dikhawatirkan menjadi aib, bagi si anak korban kekerasan seksual maupun bagi keluarganya, masyarakat dan pemerintah. Dan sangat berbeda, jika terjadi kekerasan fisik lainnya dengan mudah terungkap ke publik, bahkan tidak jarang orang tua mengeksploitasi sedikit kekerasan fisik yang dialami anaknya sebagai pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM).

Penulis amati, Lebih kurang peduli jika yang terjadi pada anak adalah kekerasan verbal, padahal kekerasan verbal itu berdampak sangat buruk terhadap tumbuh kembang anak, seperti penghinaan yang dialami anaknya.
Disamping itu, seringkali fenomena kekerasan terhadap anak hanya dipandang sebatas peristiwa sesaat, belum pada memahami sebab dan akibat yang ditimbulkannya. Lilienfield, Scott O, dkk (2012) menghimpun banyak riset mengenai dampak negatif dari kekerasan seksual terhadap kepribadian anak setelah mereka dewasa sebagaimana terdapat dalam bukunya “50 Great Myths of Popular Psychology”. Para psikolog menyimpulkan bahwa sebagian besar anak yang mengalami kekerasan seksual semasa kanak-kanak (usia dini) akan mengalami gangguan kepribadian parah secara permanen ketika mereka dewasa.

Dampak lain yang lebih mengkhawatirkan adalah setiap anak yang pernah diperlakukan kasar atau menjadi korban kekerasan, pada saat dewasa nanti, mereka akan menjadi pelaku kekerasan.
Di kalangan psikolog terdapat perberbedaan pendapat mengenai dampak kekerasan seksual terhadap kepribadian anak. Kelompok yang memproklamirkan diri mereka sebagai kelompok “Emansipasi Pedofilia”, dimotori oleh Bruce Rind berpendapat bahwa banyak orang selamat dari riwayat kekerasan atau pelecehan seksual semasa kanak-kanak dengan sedikit atau tanpa menderita psikopatologi jangka panjang. Banyak sekali penelitian yang menunjukkan adanya relasi seseorang yang pernah mengalami kekerasan seksual semasa kanak-kanak bukan psikopatologi, melainkan ketabahan (dampaknya ditentukan dari tabah tidaknya si korban kekerasan itu).

Ketika Rind dan pendukungannya diminta menyampaikan hasil penelitian mereka di hadapan Dewan Perwakilan Rakyat, semua anggota Kongres AS yang berjumlah 355 orang menolak hasil penelitian tersebut.   
Menurut penulis, pandangan Rind menarik untuk dikaji dan diteliti secara lebih mendalam, dimana mereka menekankan akan pentingnya “Ketabahan” itu. Dalam banyak kasus, khususnya pada anak usia dini, barang kali ada diantara pembaca juga pernah mengalami perlakuan kekerasan di saat kecil, tetapi banyak diantara mereka terbukti sukses dalam kehidupannya, dan bahkan banyak diantara mereka berterima kasih kepada orang tua mereka yang telah membesarkan mereka melalui pendidikan yang keras itu, seperti yang dialami Dave Pezler

Pezler mendapat perlakukan kasar dari ibu kandungnya dari sejak keci. Di usia 4 tahun, ia harus bekerja hingga tengah malam (jam 24.00), setelah bekerja seharian itu, baru ia mendapat makanan. Ibunya lebih menyayangi anjing kesayangannya dari pada menyayangi dirinya, di sekujur tubuhnya penuh tanda atau bekas kekerasan yang dilakukan ibunya, namun ia selalu menutupi kekerasan ibunya itu. Ketika ditanya oleh gurunya, “Kenapa ada luka di tubuhmu”, ia selalu mengatakan, “Terjatuh dan sebagainya” untuk menutupi dosa ibunya. Pada usia 7 tahun dia sudah tidak mampu lagi tinggal bersama orang tuanya, ia pergi meninggalkan rumah (minggat), tidak mengerti harus kemana kaki melangkah, yang penting baginya ia terbebaskan dari perilaku kasar ibunya. Dalam perjalanan yang tidak tahu arahnya, ia bertemu dengan seorang wanita yang sangat peduli dan iba melihat anak kecil korban kekerasan ibunya, Wanita penuh kasih tersebut mengasuh dan mendidiknya hingga ke jenjang sekolah menengah. Sebelum ia menamatkan pendidikan di SMA, ia mendapat kesempatan mengikuti seleksi menjadi perwira calon penerbang dan lulus dengan pujian, kemudian pemerintah memintanya untuk memimpin sebuah peperangan dan sukses. Semua presiden AS menobatkannya sebagai anak tertabah yang dimiliki AS. Penderitaannya sejak kecil, prestasinya, dan ketabahannya telah diketahui oleh banyak orang di belahan dunia ini. Ia berkunjung ke banyak negara dan menyampaikan sambutan penghormatan yang dihadiri banyak petinggi negara. Yang menarik bagi para hadirin dan penulis adalah ia selalu memulai pidatonya dengan mengucapkan terima kasih kepada ibunya, padahal semua orang tahu bahwa ia adalah korban kekejaman dan kekerasan ibunya. Pezler mengatakan, “Jika tidak karena ibu, saya tidak mungkin seperti sekarang ini”. Pernyataan beliau tentang ibunya menambah kekaguman banyak orang terhadap dirinya.

Berdasarkan uraian di atas, jika kita tidak ingin kekerasan terhadap anak terus terjadi, maka selain menjegah sebelum terjadinya perlakuan kekerasan terhadap anak, perlu dipikirkan bagaimana melahirkan, membesarkan dan mendidik anak yang memiliki kepribadian penuh ketabahan atau memiliki kecerdasan pengendalian diri yang tinggi.   
Ketabahan hidup seseorang lahir dari kecerdasan mengelola kesulitan hidup. Misalnya mereka membesarkan anak-anaknya tanpa pemanjaan karena memanjakan anak terbukti memiliki dampak yang kurang baik (buruk) bagi anak itu sendiri, tentu saja tetap menjaga keharmonisan keluarga karena efek kekerasan semasa kanak-kanak sulit dipisahkan dari lingkungan keluarga yang bermasalah.

Keluarga yang harmonis ditandai adanya interaksi yang efektif sesama anggota keluarga, misalnya setiap anak tidak menutupi segala kesalahan, kekurangan yang menimpa dirinya kepada orang tuanya, dan orang tua mereka dengan senang hati dan tulus menerima informasi dari anaknya sekalipun informasi yang disampaikan anaknya itu kurang menyenangkan baginya. Kelemahan selama ini anak sering diposisikan orang tuanya sebagai sebuah piala dimana banyak orang tua hanya ingin mendapat informasi yang baik-baik saja dari anaknya padahal anaknya sendiri sedang menghadapi masalah dan bingung harus bagaimana mengatasi atau keluar dari permasalahan tersebut (Penulis: Aswandi, Dosen FKIP Untan dan Direktur The Aswandi Foundation).  


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Larangan Menyisakan Makanan

Buku Perubah Peradaban

Penyakit Narsistik

Matinnya Pemimpin Karismatik

Harapan pada Pendidikan Tinggi