Kehidupan Bermakna

Opini Ilmiah


Senin, 22 September 2014 - 10:32:06 WIB | dibaca: 426 pembaca



Foto: Memaknai Kehidupan di Tiongkok

Oleh: Aswandi
 
TERDAPAT seuntai kalimat pendek yang terdiri tiga kata, namun penuh makna dalam Undang-Undang Dasar RI, yakni “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”, Kalimat pendek tersebut seringkali kurang dipahami secara benar yang kemudian kesalahpahaman tersebut dijadikan dasar dalam membuat keputusan atau kebijakan, khususnya kebijakan bidang pendidikan. Bukankah cita-cita luhur bangsa ini didirikan dan diproklamirkan dengan tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa, atau tidak sekedar mencerdaskan bangsa. Penulis harus berani mengatakan, bahwa kecerdasan bangsa yang diukur dengan menggunakan parameter lama sekolah dan melek hurup dari tahun ke tahun meningkat atau mengalami kemajuan. Pertanyaan selanjutkan, apakah peningkatan dan kemajuan tersebut diikuti atau memberi makna bagi kehidupan peserta didik?. Tampaknya, “Belum”.

Nilai terpenting dari proses pendidikan itu adalah memanusiakan manusia atau melahirkan manusia bermakna karena melalui jalan hidup penuh makna itu keselamatan diperoleh, sebagaimana Allah SWT tidak membedakan seseorang karena perbedaan ras, warna kulit, dan asal usul. Kemuliaan Tuhan diberikan kepada setiap orang yang menjalani kehidupan bermakna, tanpa dibatasi ruang dan waktu; dimana dan kapan saja. Dan kehidupan bermakna yang demikian itu, bukan saja mengantarkan  seseorang kepada kesuksesan sejati di akhir kehidupannya, melainkan membuat mereka telah mengapai dan menikmati kesuksesan dari sejak awal, selama dan diakhir kehidupannya.

Bagi pencari kehidupan bermakna, sekalipun mereka gagal mencapai keinginannya tidak membuat mereka merasa berada di belakang, dan tidak pernah menyesali hidupnya. Setiap kali, mereka diperlakukan secara tidak wajar dan kurang menyenangkan. Mereka sabar menahan amarahnya karena mereka yakin bahwa bersikap sabar terhadap penzaliman itu akan membesarkannya menjadi seseorang yang terhormat. Dan biasanya mereka yang suka memfitnah, suka berbuat zalim tersebut menjadi bukti mereka itu menunjukkan kualitas akhlaknya jauh lebih rendah dari orang lain yang dihinakannya.

Penulis saksikan dan lihat sendiri di dua negara maju, yakni Jepang dan China, mereka yang sudah lansia dan para CEO atau pimpinan perusahaan mengambil bagian dalam menjaga dan mengatur kelancaran lalu lintas tanpa berharap menerima gaji. Ketika ditanya mengapa mereka mau melakukannya, Jawabannya, antara lain adalah ingin memberi makna dari sisa atau akhir hidupnya.

Orang bijak berkata, “Ketika kau dilahirkan, kau menangis, semua orang yang ada di sekitarmu tersenyum, terutama ibumu yang telah berhasil mempertaruhkan nyawanya melahirkanmu. Berilah makna dalam kehidupanmu, agar nanti di saat kau meninggal, mereka menangis, sementara kau tersenyum”.

Akhir-akhir ini, pembicaraan kita tentang pendidikan adalah sebatas “Pendidikan Bermutu Untuk Semua”. Pendidikan bermutu yang kita gaung-gaungkan selama ini tidak serta merta pendidikan itu bermakna, masih sangat ditentukan dari apa yang dimaksud pendidikan bermutu itu.

Pendidikan belum mengajarkan kehidupan bermakna secara sungguh-sungguh dan anak kita belum belajar tentang kehidupan, baik sekolah hingga di perguruan tinggi, dengan perkataan lain kehidupan bermakna dalam praktek penyelenggaraan pendidikan masih terabaikan, Oleh karena itu, jangan heran apabila keberhasilan studi anak bangsa ini seringkali tidak menjadikannya sukses dalam kehidupan. KPK mensinyalir lebih dari 52% koruptor di negeri ini berpendidikan S2 dan S3.

Bukti lain, kemampuan akademik yang diperoleh secara sempurna dari jenjang paling rendah (TK) hingga perguruan tinggi belum cukup memberi bekal atau modal atau hanya 30,3% bagi kesuksesan dalam hidupnya, sementara selebihnya sebanyak 60,6% harus mereka dapatkan dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Fenomena yang sama juga terjadi dimana-mana di berbagai belahan dunia ini sebagai bukti bahwa pendidikan itu bukanlah tempat untuk mempersiapkan kehidupan sukses bagi seseorang dan banyak orang, melainkan pendidikan itu adalah kehidupan itu sendiri.

Kita harus berani mengatakan bahwa praktek penyelenggaraan pendidikan belum berjalan secara sinergis. Untuk itu diperlukan pemahamaan dan pemikiran kembali konsep dan penyelenggaraan pendidikan di semua jenis, jalur dan jenjang pendidikan. Fakta selama ini, peserta didik atau anak-anak kita mempelajari materi pelajaran yang sama di semua jalur pendidikan; di lingkungan keluarga, di sekolah, dan di masyarakat sama saja yang dipelajarinya. Padahal hakikat dari perbedaan jalur (tri pusat) pendidikan itu mehadirkan proses pembelajaran yang berbeda pula sebagaimana larangan memberi tugas tambahan berupa Pekerjaan Rumah (PR) bagi siswa di Finlandia. Menurut mereka, subject matter dan strategi pendidikan yang diajarkan guru di sekolah berbeda dengan yang diajarkan orang tua di rumah, demikian pula berbeda di masyarakat.  

Harus diakui, anak-anak kita tidak dan belum belajar banyak tentang kehidupan bermakna di rumahnya. Diantara mereka banyak yang tidak tahu apa yang harus menjadi tanggung jawabnya masing-masing. Mengingat pentignya belajar kehidupan bermakna sebagai modal kesuksesan sejati dalam hidup ini, maka penulis sejak beberapa bulan terakhir ini, setiap hari harus mengajarkan rasa hormat dan rasa bertanggung jawab kepada keluarganya. Pandangan penulis, kehidupan bermakna harus diajarkan mulai dari lingkungan keluarga, seperti di WC, di meja makan, di tempat tidur, di halaman rumah. Demikian pula, kepedulian dan hubungan antar anggota keluarga harus diajarkan kembali, misalnya bagaimana yang tua menyayangi yang muda dan yang muda menghormti yang lebih tua.

Perhatikan praktek pendidikan bermakna di sekolah dan di perguruan tinggi, masih ditemukan rendahnya kesadaran, disiplin dan tanggung jawab warga sekolah terhadap sekolahnya; siswa dan mahasiswa masih menikmati ruang kelas dan bangku yang berantakan di kelasnya setiap kali jam pelajaran dan perkuliahan berakhir tanpa merasa perlu merapikan ruang kelas tersebut yang akan digunakan oleh mahasiswa pada jam berikutnya.

Di masyarakat tidak berbeda. Barangkali di banyak tempat kita mencium baru tak sedap, tentu saja ada yang membuat bau tidak sedap itu.
Semestinya, kapanpun dan dimanapun kita berada, kehadiran kita di sana membuat suasana menjadi kondusif dan menyenangkan, bukan sebaliknya seperti keledai dimana dalam keadaan lapar dan kenyang sama saja, selalu membuat gaduh.

Dan kehidupan bermakna harus kita pelajari, mulai dari diri kita sendiri karena dalam prakteknya, membuat orang senang itu tidaklah mudah, memerlukan pengorbanan material dan non-material. Akhirnya, penulis berkesimpulan; (1)  kehidupan bermakna tanpa batas ruang dan waktu harus dilakukan guna memperoleh kesuksesan sejati; (2) praktek penyelenggaraan pendidikan di semua jalur, jenis dan jenjang pendidikan sekarang ini mengabaikan prinsip kehidupan bermakna; (3) diperlukan usaha serius dan sungguh-sungguh dalam mengimplementasikan kehidupan bermakna di institusi pendidikan (Penulis, Dosen FKIP Untan dan Direktur The Aswandi Foundation)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Mempolisikan Polisi

Kampus Penyelamat

Transisi Kepemimpinan

Kemerdekaan dalam Pembelajaran

Pemilu Menguji Integritas