Kebaya Identitas Perempuan Indonesia

Opini Ilmiah


Senin, 21 April 2014 - 10:29:11 WIB | dibaca: 1854 pembaca



Mempelajari pemikiran RA. Kartini sebagaimana dapat dibaca dari kumpulan surat dan nota yang disampaikannya kepada Slingenberg melalui Annie Glaser, suratnya kepada Amendanon, dan pandangan Snouck Hurgronje terhadap surat dan nota tersebut, serta sejarah perjuangan beliau, khususnya tentang emansipasi kaum perempuan Indonesia, maka sudah sewajarnya bangsa ini memperingati hari kelahirannya, yakni tanggal 21 April 1879 sebagai “Hari Kartini”.


Dalam dokumen, baik surat maupun nota RA. Kartini terbaca jelas penegasan beliau kepada para wanita agar berpesan aktif dalam pembentukan watak manusia karena wanita itu menurut beliau adalah pendidik pertama manusia, bukan tanpa alasan kebaikan dan kejahatan diminum anak bersama air susu ibunya. Di pangkuan seorang ibu, anak pertama belajar merasa, berpikir dan berbicara. Di tangan ibulah pertama meletakkan benih kebaikan, dan kejahatan dalam hati manusia yang tidak jarang dibawa sepanjang hidupnya.

BJ. Habibie, salah seorang presiden RI menegaskan bahwa setiap kesuksesan seseorang tidak bisa dilepaskan dari peran dua orang perempuan, yakni ibu dan istrinya. Pendapat senada mengatakan bahwa jika Anda mendidik seorang wanita, berarti Anda telah mendidik satu komunitas, sementara jika Anda mendidik seorang lelaki, maka Anda hanya mendidik seorang manusia.

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, 21 April 2014 ini, Gubernur Kalimantan Barat melalui suratnya No. 400/1165/BP3AKB-B menghimbau kepada semua Kepala SKPD/BUMN/BUMD dan Instansi Vertikal di Lingkungan Pemerintah untuk mengenakan kebaya nasional/modern/kreasi sebagai salah satu identitas pakaian perempuan Indonesia.

Sebelum lebih jauh menjelaskan pakaian/kebaya sebagai sebuah identitas perempuan Indonesia, ada baiknya  terlebih dahulu penulis mengemukakan tentang pentingnya sebuah identitas bagi setiap orang/manusia, termasuk bagi kaum perempuan..
Arthur F. Carmazzi (2006) dalam bukunya “Identity Intelligence” menyatakan bahwa identitas adalah unsur utama pemberi semangat dalam berbagai hal dan benar-benar tidak mempunyai motivasi dalam hal lainnya.

Pendapat lain menyatakan, “identitas adalah jaringan di seputar diri kita dimana semua kekuatan yang membangun hidup kita terkumpul dalam identitas kita, bukan hanya pada karakter kita yang luhur atau pada amalan baik dan gaya pemberani yang kita lakukan untuk menutupi dan menyembunyikan kekurangannya sebagaimana sering dilakukan oleh banyak orang yang kurang percaya diri.

Pada saat ini, diyakinibahwa maju mundurnya sebuah bangsa sangat ditentukan oleh kecerdasan identitas atau harga diri. Bangsa yang maju adalah bangsa yang memiliki harga diri atau memiliki kecerdasan identitas yang tinggi, demikian sebaliknya.

Selain berfungsi sebagai penutup aurat, perhiasan, memelihara terhadap bencana. Agama menjelaskan bahwa pakaian berfungsi sebagai identitas dan pembeda.


Allah Swt berfirman, “Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin. Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya (sejenis baju kurung yang longgar yang dapat menutup kepala, wajah dan dada) ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu (QS Al-Ahzab:59). Rasulullah Saw sangat menekankan pentingnya identitas melalui pakaian ini sebagaimana Abu Daud meriwayatkan, “Rasulullah Saw melarang lelaki memakai pakaian perempuan dan sebaliknya, perempuan memakai pakaian lelaki”.

Pakaian hijab/pembeda atau identitas bangsa tidak ditentukan dari harga yang mahal, melainkan sesuai dengan keaslian dan kultur bangsa tersebut.
Pakaian perempuan bangsa Birma, terbuat dari kain yang sangat kasar, namun menjadi pakaian kebanggaan bagi semua perempuan bangsanya. Mereka mengenakan pakaian tersebut pada acara kebesaran atau prestisius, seperti pada saat pertemuan berskala internasional. Pelajaran penting di sana adalah mereka sangat menghargi dan menghormati pakaian perempuan mereka sekalipun pakaian tersebut terbuat dari bahan yang kasar. Ketika ditanyakan kepada mereka tentang makna pakaian tersebut, Jawabannya sangat sederhana, Pakaian adalah identitas atau jati diri bangsa.

Terkait persoalan pakaian perempuan, Islam secara tegas telah mengatur hal tersebut.  Al-Quran paling tidak menggunakan tiga istilah untuk pakaian ini, yaitu; libas, tsiyab, dan sarabil. Dari tiga istilah tersebut, ide dasarnya adalah tertutupnya aurat, namun karena godaan setan, aurat manusia menjadi terbuka, artinya tanda kehadiran setan pada diri manusia antara lain adalah keterbukaan auratnya. Jadi sesuatu yang mengembalikan aurat kepada ide dasarnya adalah tertutup, demikian Quraish Shihab (1996) dalam bukunya “Wawasan Al-Qur’an”.

Kebaya adalah pakaian tradisional yang dikenakan oleh wanita Indonesia terbuat dari kain kasa yang dikenakan dengan sarung, atau pakaian tradisional lainnya, seperti songket dengan motif warna-warni.

Pengaruh atau akultrasi budaya Cina, Islam dan Erofa, kebaya di Indonesia mengalami perubahan dan perbedaan kreasi, seperti kebaya Jawa, kebaya Bali, kebaya Melayu, kebaya Medan, kebaya Tasik, kebaya Palembang, kebaya Riau, Kebaya Minangkabau, kebaya Ambon, kebaya Betawi, kebaya Madura, kebaya Pagatan, kebaya Kutai, kebaya Minahasa, kebaya Sunda, dan seterusnya. Karena mode kebaya di negeri ini sangat terbuka terhadap perubahan yang sedang terjadi, maka selanjutnya, kita tunggu lahirnya “Kebaya Kalbar” dan “Kebaya Muslimah” karena kebaya tradisional yang dikenal selama ini, menurut penulis  tidak sesuai dengan syariat Islam, selain terlalu ketat mengikuti bentuk tubuh, juga seringkali memperlihatkan secara jelas bagian yang memancing birahi atau syahwat, seperti buah dada dan pinggul yang semestinya ditutupi. Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan/atau Ormas Islam lainnya harus peduli terhadap persoalan ini, harus menetapkan kriteria yang jelas mengenai pakaian tersebut agar dalam berbusana ini, umat tidak terjebak pada tuntutan mode semata, sementara yang terpenting dari berpakaian sebagaimana tuntunan beribadah dan wujud ketaatan kepadaNYA, justru terabaikan. Diperkuat lagi dari aspek-aspek utama emansiapasi bangsa sebagaimana terdapat pada surat dan nota RA. Kartini, penulis belum menemukan pandangan beliau mengenai model kebaya resmi yang harus dikenakan sebagai pakaian satu-satunya bagi perempuan Indonesia.

Menutup opini ini, penulis mengapresiasi pemerintah daerah kabupaten/kota di Kalimantan Barat yang telah memasyarakatkan penggunaan pakaian bermotif daerah masing-masing, baik kepada para pelajar maupun pegawai di lingkungan pemerintah dan swasta semoga pakaian yang digunakan itu menjadi sebuah kebanggaan dan kesederhanaan yang kemudian memberikan inspirasi, membangun kesadaran kolektif, menambah semangat untuk belajar dan kerja lebih baik (Penulis: Aswandi - Dosen FKIP Untan dan Direktur The Aswandi Foundation)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Biarkan Mereka Berbeda

Apapun Masalahnya Kerja Jawabannya

Memaknai Kembali Genius

Menjemur Kolor di Tempat Umum

Cerdas Menerima Kekalahan