Kebahagiaan Tidak Membahagiakan

Opini Ilmiah


Senin, 16 Februari 2015 - 10:17:56 WIB | dibaca: 1156 pembaca



Tersenyum di Stadium Santiago Bernabéu - Madrid

Oleh: Aswandi
 
FITRAH manusia mencari kebahagiaan, dan kebahagian yang dipersepsi secara benar menjadi sumber kehidupan bermakna, baik bagi diri seseorang maupun bagi generasi berikutnya. Riset menunjukkan bahwa “perasaan lebih bahagia menyebabkan produktivitas yang lebih tinggi dan penghasilan yang lebih besar. Mereka yang bahagia tidak saja mampu menanggung rasa sakit dan melakukan langkah-langkah pencegahan masalah kesehatan dan keamanan, melainkan juga mampu menetralisir emosi negatif”, dikutip dari Martin Seligman (2005) dalam bukunya “Authentic Happiness”. Sementara banyak manusia gagal menjalani kehidupannya sebagai korban atau salah memaknai dan memahami sumber kebahagiaan itu.

Mengingat pentingnya kebahagiaan bagi umat manusia, maka penulis mengapresiasi survei kebahagiaan oleh Badan Pusat Statistik yang hasilnya adalah sebagai berikut; Indeks kebahagiaan Indonesia tahun 2014 sebesar 68,28 mengalami peningkatan dari tahun 2013 sebesar 65,11. Indeks kebahagiaan Indonesia tersebut merupakan indeks komposit yang disusun oleh tingkat kepuasan terhadap 10 aspek kehidupan yang esensial yang secara substansi dan bersama-sama merefleksi tingkat kebahagiaan yang meliputi kepuasan terhadap; (1) kesehatan; (2) pendidikan; (3) pekerjaan; (4) pendapatan rumah tangga; (5) keharmonisan rumah tangga; (6) ketersediaan waktu luang; (7) hubungan sosial; (8) kondisi rumah dan aset; (9) keadaan lingkungan, dan (10) kondisi keamanan.

Tiga aspek yang  memiliki konstribusi paling tinggi terhadap kebahagiaan orang Indonesia adalah (1) pendapaatan rumah tangga sebesar 14,64%; (2) kondisi rumah dan aset sebesr 13,22%; dan (3) pekerjaan sebesar 13,12%. Sementara aspek keharmonisan keluarga mengalami peningkatan paling rendah, yakni hanya sebesar 0,78 poin.Tingkat kepuasan yang paling rendah adalah aspek pendidikan (Berita Resmi Statistik, BPS No. 16/02/Th.XVIII, 5 Februari 2015).

Mencermati hasil survei kebahagiaan tersebut di atas, penulis ingin menyampaikan beberapa catatan penting dalam sebuah opini berjudul “Kebahagiaan Yang Tidak Membahagiakan”, antara lain meliputi; makna kebahagiaan dan sumber kebahagiaan.

Para pakar mengalami kesulitan dan sering tersandung dalam memaknai kebahagian itu. Apakah kebahagian itu berfungsi sebagai variabel bebas (yang mempengaruhi), sebagai variabel terikat (dipengaruhi) atau kedua-duanya sehingga mereka sepakat bahwa kebahagian itu bersifat subjektif dan multi tafsir atau kebahagian dipersepsi secara berbeda.

Kesalahan selama ini, kebahagiaan disamakan dengan kesuksesan, kesenangan, dan memperoleh pekerjaan belum jaminan membahagiakan seseorang, masih harus tergantung apakah pekerjaan tersebut menyenangkan, demikian juga memperoleh uang atau pendapatan, serta memiliki banyak aset. Untuk membuktikan tesis di atas, tanyakan hal tersebut kepada para relawan atau volunter.
Kembali penulis tegaskan bahwa kebahagiaan itu bukanlah kesenangan, karena kesenangan bersifat sementara, sementara kebagiaan bersifat abadi dapat terus dirasakan.

Daniel Gilbert (2007) dalam bukunya “Stumbling on Happiness” mengatakan bahwa kebahagiaan adalah sebuah kata yang umumnya digunakan untuk menunjukkan sebuah pengalaman dan bukan untuk perbuatan yang menyebabkannya. Dibagian lain, ia mengatakan sering orang tidak mendapatkan kebahagiaan karena mereka terlalu jauh memikirkan masa depannya, sementara mereka melalaikan kehidupan berbahagia pada hari. Pribahasa lama mengatakan, “Berakit-rakit ke hulu, berenang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu bersenang kemudian” tampaknya memerlukan revitalitasi sekarang ini. Pakar DNA mencoba merumuskan kembali pribahasa lama tersebut menjadi “Bersenang-senang (berbahagia) dahulu, Sukses kemudian”. Gilbert mengutip pernyataan seorang guru besar psikologi Harvard University; “Kunci menuju kebahagiaan, kepuasan dan pencerahan adalah ketika berhenti berpikir terlalu banyak tentang masa mendatang sehingga melupakan hidupmu hari ini. Martin E.P. Seligman (2004) seorang psikolog yang menstudi kebahagiaan secara mendalam, dalam bukunya “The Core Happiness, Remapping the Human Nature” mengatakan bahwa kebahagiaan adalah kewajiban moral yang hanya dimiliki manusia. Sayangnya, kita sepihak, menuntut orang lain berbuat baik demi kebahagiaan kita, padahal kita berniat saja belum untuk membahagiakannya.

Viktor Frankl (2008) bapak logotrapi dalam bukunya “Man’s Search for Meaning” menegaskan bahwa manusia membutuhkan makna dan tujuan dalam kehidupannya, yang tidak hanya diperlukan untuk meraih kebahagiaan, tetapi diperlukan untuk membedakan karakter manusia. Viktor Frank mengalami kekejaman penjara karena menentang Nazi, namun ia merasa berbahagia hidup diteralis besi karena memiki makna dan tujuan dalam hidupnya. Untuk memastikan apakah kehidupan ini membahagiakan kita, maka pertanyaan yang harus selalu muncul adalah “Apakah Hidupku ini Bermakna atau Bermanfaat?”. Guna memberi pemahaman tentang kebahagiaan, Martin Seligman memformulasikan konsep kebahagian secara matematis berikut ini: K = R + L + P. Secara singkat dijelaskan; K adalah level kebahagiaan jangka panjang, R adalah rentang kebahagiaan, L adalah lingkungan, dan P adalah faktor-faktor yang berada di bawah kendali sadar Anda.

Berikutnya, penulis ingin menjelaskan bahwa kebahagiaan sejati bersumber dari dalam, bukan dari luar sebagaimana keyakinan kita selama ini, Martin Seligman seorang psikolog peduli kebahagiaan mengatakan, kebahagiaan bersumber dari filosofi hidup dan diraih dari rasa syukur. Perhatikan, semua orang yang pandai bersyukur adalah berbahagia, dan sebaliknya mereka yang tidak pandai bersyukur pasti tidak akan menemukan kebahagiaan itu. Pendapat lain membuktikan bahwa sumber kebahagiaan itu dari dalam sebagaimana Joel Osteen (2006) dalam bukunya “Your Best Life Now” mengatakan bahwa akar dari semua ketidakbahagian ini karena orang tidak menyukai dirinya sendiri, dan alasan banyak orang tidak merasa puas atau bahagia karena mereka membandingkan dirinya dengan orang lain. Martin Seligman (2005) mengatakan bahwa kebahagiaan itu diciptakan melalui psikologi positif. Dan kebahagiaan tersebut muncul karena sebuah pilihan, dimana ia adalah keputusan dari pikiran yang dibuat, bukan emosi yang hanya dirasakan.

Banyak kebahagiaan diperoleh karena seseorang melakukan hal-hal kecil di tempat mereka berada sekarang, dan bukan karena mereka tinggal di perkotaan. Orang bijak mengatakan, dapatkan kebahagiaan hari ini dimanapun kita berada.

Catatan penulis selanjutnya adalah tanggapan terhadap kesimpulan survei kebahagiaan bahwa tingkat pendidikan berpengaruh terhadap kebahagiaan. Penulis merasa tidak berbahagia karena aspek pelayanan pendidikan menempati posisi terendah dan tidak mengalami perubahan dari tahun sebelumnya.

Perlu kehati-hatian dalam memahami ketidakbahagiaan terhadap pelayanan pendidikan ini. Jangan sampai pemahaman masyarakat terhadap pelayanan pendidikan ini hanya sebatas makro pendidikan, namun mengabaikan pendidikan bersifat mikro. Disamping itu harus jelas kedudukan variabel kebahagiaan dan pendidikan itu berada. Survei lain membuktikan ketidakberdayaan atau  ketidakbahagiaan seseorang adalah dampak dari proses yang dipelajarinya, Riset Sandy McGregor menemukan bahwa anak usia dini lebih kreatif dan pantang menyerah karena pembelajaran menyenangkan yang dialaminya dibanding mahasiswa/i di perguruan tinggi yang seringkali mengalami stress dalam perkuliahannya, Kasus tersebut mengindikasikan bahwa kebahagiaan sebagai variabel bebas, sementara pendidikan sebagai variabel terikat (Penulis, Dosen FKIP Untan dan Direktur The Aswandi Foundation)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Memikirkan Kembali Perguruan Tinggi

Bacaan Pertama dan Utama

Suksesi Kepemimpinan

Guru Inspiratif

Menguji Komitmen Kita