Kasih Sayang Ibu

Opini Ilmiah


Senin, 22 Desember 2014 - 10:06:11 WIB | dibaca: 1827 pembaca



Oleh: Aswandi
 
Menyambut hari ibu tahun 2014 ini, penulis ceritakan kembali tiga kisah tentang kasih sayang sejati seorang ibu. semoga saja ada manfaatnya bagi kita semua. Besok tidak boleh ada lagi seorang anak melaporkan ibu kandungnya ke polisi dan seorang ibu terlantar hidupnya, melainkan semua ibu berbahagia.
Emmet Fox mengatakan,  “Tak ada kesulitan yang tak dapat dikalahkan, tak ada penyakit yang tak dapat disembuhkan, tak ada pintu yang tak akan dibukakan, tak ada teluk yang tak mungkin dijembatani, tak ada dinding yang tak dapat dihancurkan, tak ada dosa yang tak dapat ditebus, dan seterusnya selama ada cinta sejati di dalamnya.

Tak peduli berapa besarnya kesulitan, betapa sirnanya harapan, betapa rumitnya masalah, dan betapa besarnya kesalahan. Kesadaran akan kasih yang dalam dapat menguraikan semuanya. Bila kita dapat mencintai dengan tulus ikhlas.
BJ. Habibie,  Presiden RI ke-3, di saat penganugerahan gelar Doktor Honorius Causa di Universitas Indonesia mengatakan bahwa “Di balik seorang tokoh, selalu tersembunyi peran dua perempuan, yakni ibu dan istri”.

Kisah Pertama, Pada suatu sore, seorang anak menghampiri ibunya di dapur. Ia menyerahkan selembar kertas yang telah ditulisnya. Setelah sang ibu mengeringkan tangannya dengan celemeh. Iapun membaca tulisan dan inilah isinya, untuk: memotong rumput 2 dinar, membersihkan kamar tidur minggu ini 1 dinar,  pergi ke toko disuruh ibu berbelanja ½ dinar, membuang sampah 1 dinar, mencapai nilai ujian yang bagus 3 dinar, membersihkan dan menyapu halaman ½ dinar; Jadi jumlah hutang ibu kepadaku adalah 8 dinar. Sang ibu memandangi anaknya dengan penuh harap. Berbagai kenangan, suka dan duka terlintas dalam benaknya. Lalu iapun mengambil pulpen, membalikkan kertasnya. Dan inilah yang ia tulis, untuk: sembilan bulan ibu mengandungmu dalam suka dan duka; GRATIS, dalam semua kesejukan malam ibu menemanimu; GRATIS, mengobatimu dan mendoakanmu; GRATIS, semua saat susah penuh air mata dalam mengurusmu; GRATIS. Untuk semua mainan, makanan, dan baju; GRATIS. Anakku, dan kalau kamu menjumlahkan semua, maka akan kau dapatkan bahwa harga cinta kasih ibu adalah GRATIS. Seusai membaca apa yang ditulis ibunya, Sang anakpun bersimpuh dan menatap wajah ibunya dengan berlinang air mata menahan rasa sedih dan penyesalan yang mendalam seraya berkata, ”Bu, buu, buuu, aku sayang sekali padamu ibu. Kemudian ia mengambil pulpen, dan menulis sebuah kata dengan huruf-huruf besar: LUNAS”. Sambil mengusap kepala anaknya, seorang ibu yang penuh cinta kasih mengutip sebuah pepatah Arab, ”Tidak ada satupun obat yang bisa menyembuhkan sakit hati kecuali  keikhlasan”.

Kisah Kedua, Di suatu desa ada seorang ibu yang sudah tua hidup berdua dengan putera tunggalnya. Suaminya sudah lama meninggal karena sakit. Sang ibu sering sekali merasa sedih memikirkan anak satu-satunya yang  mempunyai tabiat sangat buruk, yaitu suka mencuri, berjudi dan banyak lagi yang membuat si ibu sering menangis meratapi nasibnya yang malang ini. Namun begitulah ibu tua itu selalu berdoa kepada Tuhan, “Tuhan tolonglah aku, sadarkan anakku satu-satunya yang sangat kusayangi, supaya ia tidak berbuat dosa lebih banyak lagi. Aku sudah tua dan aku ingin menyaksikan dia bertobat sebelum aku mati”. Namun semakin lama, si anak semakin larut dengan perbuatan jahatnya. Sudah sangat sering ia keluar masuk bui karena kejahatan yang dilakukannya. Suatu hari, ia kembali mencuri di sebuah rumah penduduk desa. Namun malang nasibnya, ia tertangkap basah oleh penduduk yang kebetulan lewat. Kemudian dia dibawa kehadapan raja untuk diadili sesuai kebiasaan di kerajaan tersebut. Setelah ditimbang berdasarkan sudah seringnya ia mencuri, maka tanpa ampun lagi si anak tersebut dijatuhi hukuman pancung. Pengumuman hukuman mati tersebar di tengah masyarakat. Hukuman pancung akan dilakukan keesokan harinya di depan rakyat dan raja, tepat pada saat lonceng berdentang menandai pukul enam pagi. Berita hukuman itu sampai juga ketelinga si ibu. Ibunya menangis, meratapi anaknya yang sangat dikasihaninya, sembari berlutut dia berdoa kepada TuhanNya. ”Tuhanku, ampunilah anak hamba. Biarlah hambamu yang sudah tua renta ini yang menanggung semua dosa dan kesalahannya. Dengan tertatih-tatih dia mendatangi raja dan memohon agar anaknya dibebaskan, tetapi keputusan sudah bulat. Si anak tetap harus menjalani hukuman. Dengan hati hancur si ibu kembali ke rumah. Tidak berhenti dia berdoa supaya anaknya diampuni. Karena kelelahan dia tertidur dan bermimpi bertemu TuhanNya. Keesokan harinya, di tempat yang sudah ditentukan, rakyat berbondong-bondong ingin menyaksikan hukuman pancung tersebut, Sang algojo sudah siap dengan pedangnya, dan si anak sudah pasrah menanti saat ajal menjemputnya. Terbayang di matanya, wajah ibunya yang sudah tua renta, tanpa terasa dia menangis menyesali perbuatannya. Detik-detik yang dinantikan akhirnya tiba. Sampai waktu yang ditentukan, lonceng belum juga berdentang, suasana mulai berisik, sudah lima menit dari waktunya. Akhirnya didatangi petugas yang membunyikan lonceng tersebut. Petugas juga mengaku heran, karena sudah sedari tadi dia menarik lonceng, namun suara dentangnya tidak ada. Ketika mereka sedang terheran-heran, tiba-tiba dari tali yang dipegangnya mengalir darah, darah tersebut datangnya dari atas, berasal dari tempat dimana lonceng diikat. Dengan jantung berdebar-debar seluruh rakyat menanti saat beberapa orang naik ke atas menyelidiki sumber darah itu. Tahukah anda apa yang sesungguhnya terjadi?. Ternyata di dalam lonceng besar itu ditemui tubuh si ibu dengan kepala hancur berlumur darah. Dia memeluk bandul di dalam lonceng yang mengakibatkan lonceng tidak berbunyi sebagai ganti kepalanya yang terbentur ke dinding lonceng. Seluruh orang yang hadir menyaksikan kejadian tersebut tertunduk dan meneteskan air mata. Sementara si anaknya meraung-raung memeluk tubuh ibunya yang telah remuk diturunkan. Dia menyesali dirinya yang selalu menyusahkan ibunya. Ternyata malam sebelumnya si ibu dengan bersusah payah memanjat ke atas dan mengikat dirinya di lonceng tersebut serta memeluk besi di dalam lonceng untuk menghindari hukuman pancung anaknya.

Kisah Ketiga, Seorang pemuda jatuh cinta kepada seorang wanita. Anehnya, wanita tersebut mempersyaratkan hal yang tidak biasa dan biadab, yakni meminta pemuda tersebut memancung kepala ibunya. Dasar pemuda sudah kemasukan iblis dan setan permintaan wanita idamannya itu dilaksanakannya. Dalam penjalanannya di kegelapan malam, dimana guntur, petir, hujan lebat membuat si pemuda yang sedang membawa sebuah bungkusan berisi kepala ibunya hampir saja terjatuh. Dengan khodrat dan hidayat Allah SWT, kepala ibunya yang masih dalam gendongannya berkata, ”Wahai Anakku, hati-hatilah berjalan di malam yang gelap ini, jangan sampai engkau terjatuh”. Durhaka sekali pemuda tersebut terhadap ibunya hanya karena cinta buta ia tega membunuh secara kejam ibunya, sungguhpun demikian tetap saja kasih sayang dan doa ibu menyertai pemuda jahat dan biadab itu.

Tiga kisah ibu dan anaknya di atas, sudah cukup menjadi bukti besarnya kasih sayang ibu terhadap anaknya. Berbahagialah mereka yang selama ini telah membahagiakan dan merawat sendiri ibunya, tidak menitipkannya pada orang lain sebagai wujud ketaatannya kepada Allah SWT dan RasulNYa. Dan Allah SWT berjanji memberi keselamatan hidup di dunia dan akhirat kepada mereka yang menyayangi dan berbakti pada ibunya, Amiiin (Penulis, Dosen FKIP Untan dan Direktur The Aswandi Foundation)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Memilih Rektor Tepercaya

Diminta Kembali Menjadi Rektor

Memulai Perubahann

Guru Indonesia

Menolak Standarisasi Ujian