Karakterku adalah Kebiasaanku

Opini Ilmiah


Kamis, 15 Oktober 2015 - 08:40:28 WIB | dibaca: 887 pembaca


MEMBANGUN karakter telah dilakukan jauh sebelum kemerdekaan, bahkan telah dilakukan oleh para nabi dan rasul hingga sekarang dengan menggunakan istilah (term) yang berbeda, seperti akhlaqul karimah (akhlak mulia), character building, dan revolusi mental. Namun implementasinya dalam kehidupan masih belum berjalan efektif.
Selaku pribadi, penulis dan barangkali juga para pembaca seringkali mengalami dan merasakan kesulitan membentuk karakter dan akhlak mulia pada diri anak dan siswa atau mahasiswa, selalu saja ada hambatan dan kendalanya.

Persoalannya, mengapa sulit membentuk perilaku atau karakter baik pada anak. Jawabannya sangat sederhana, sebagaimana sudah sejak lama diajarkan oleh Mahatma Gandhi, agar ”Perhatikan kebiasaanmu, karena ia akan menjadi karaktermu”, artinya marilah kita mulai lebih serius dan bersungguh-sungguh dalam melakukan kebiasaan keseharian kita.

Charles Duhigg (2014) dalam bukunya “The Power of Habit” mengutip hasil penelitian seorang peneliti Duke University pada tahun 2006 menemukan bahwa “40% lebih tindakan yang dilakukan orang setiap hari bukanlah keputusan sungguhan melainkan kebiasaannya”. Ada pendapat menyatakan bahwa pengaruh perasaan dalam membentuk kehidupan kita jauh lebih besar dari pada yang kita sadari, bahkan kebiasaan sedemikian kuat sampai-sampai otak kita terus bergantung kepada kebiasaan tanpa memperdulikan segala sesuatu yang lain termasuk akal sehat.

Faktanya, jika pembaca mengamati penulis sering bicara ceplas-ceplos atau blak-blakan, barangkali cara bicara penulis seperti itu adalah sebuah kebiasaan, tidak terbatas oleh ruang dan waktu, dimana dan kapan saja. Rutinitas telah menjadi kebiasaan, dan kebiasaan itu muncul karena otak terus menerus mencari cara untuk menghemat upaya atau memungkinkan benak kita lebih sering bersantai.
Kebiasaan bukanlah takdir. Ketika kebiasaan muncul, otak berhenti turut serta penuh dalam pengambilan keputusan. Otak berhenti bekerja keras, mengalihkan fokus ke tugas lain.

Kebiasaan memegang peran yang sangat penting dalam kehidupan manusia, ia mengambil porsi yang cukup besar dalam usaha manusia. Islam menggunakan kebiasaan sebagai salah satu sarana pendidikan”, dikutip dari Ibrahim Hamd Al-Qu’ayyid (2005) dalam bukunya “10 Kebiasaan Manusia Sukses Tanpa Batas”.
Ibn Miskawaih (1998) dalam bukunya “Tahdzib Al-Akhlaq” menegaskan bahwa “karakter manusia terletak pada fikirannya, dan dapat dicapai melalui pendidikan dan pergaulan, pengulangan atau kebiasaan dan disiplin”.

Joyce Divinyi (2003) dalam bukunya “Discipline Your Kids” mengatakan hal senada bahwa “otak membutuhkan pengulangan untuk membuat tingkah laku tertentu menjadi kebiasaan”.

Para pakar neurofisiologi menyimpulkan temuan mereka, bahwa otak mempunyai kemampuan yang menakjubkan untuk menerima pikiran atau perilaku yang berulang-ulang dan menyambungkannya ke pola-pola atau kebiasaan-kebiasaan yang otomatis dan di bawah sadar. Proses ini mulai dengan pilihan sadar yang pertama dan melalui pengulangan, kebiasaan itu mulai pindah ke bagian belakang pikiran bawah sadar yang tenang. Semakin sering mengulangi pikiran dan tindakan yang konstruktif, pikiran atau tindakan itu akan menjadi semakin dalam, semakin cepat, dan semakin otomatis”, demikian dikutip dari Paul G. Stoltz (2000) Adversity Quotient”. Di bukunya yang lain, Paul G. Stoltz (2003) dalam bukunya “Adversity Quotient @ Work” mengutip pendapat Stephen R. Covey yang mengatakan bahwa “Karakter kita pada dasarnya disusun dari kebiasaan-kebiasaan kita”.

Stephen R. Covey (2010) dalam bukunya “The 7 Habits of Highly Effective People”, menjelaskan bahwa kebiasaan menentukan keberhasilan manusia, baik sebagai pribadi maupun anggota kelompok.
Sebagai pribadi, manusia efektif dicirikan; (1) jadilah proaktif/antisipatif, jangan reaktif, yakni melakukan sesuatu untuk mengatasi suatu; (2) merujuk pada tujuan akhir, yakni berpikir visioner; (3) dahulukan yang utama (prioritas). Sadar atau tidak keberhasilan manusia karena selalu memperhatikan skala prioritas, tidak menunda-nunda pekerjaan dan tidak suka berdalih dalam tindakannya.

Selanjutnya untuk kemenangan dan keberhasilaan publik atau kelompok, manusia efektif dicirikan; (1) berpikir menang-menang, ketika menang tidak merasa dikalahkan, demikian juga jika kalah tidak merasa dikalahkan atau dizhalimi; (2) berusaha mengerti terlebih dahulu, baru dimengerti; (3) wujudkan sinergi, kemitraan atau kerjasama atas dasar enam prinsip kemitraan berikut; (a) adanya masalah bersama; (b) komitmen bersama; (c) setara; (d) win-win; (e) terintegrasi; dan (f) menjadi lebih baik.
Baik selaku pribadi dan anggota kelompok, manusia efektif adalah manusia yang selalu memperbaharui dirinya atau selalu mengasah gergaji.

Kemudian Covey menyempurnakan 7 (tujuh) kebiasaan tersebut dengan menambah satu kebiasaan yang oleh beliau diyakini “Melampaui Efektivitas Menggapai Keagungan” sebagaimana dijelaskan dalam bukunya berjudul “The 8th Habit”.

Tentu saja, melakukan banyak kebiasaan sekaligus tidaklah mudah, Oleh karena itu biasakan untuk melakukan hal-hal kecil, mulai dari diri sendiri dan mulai dari sekarang juga. Friel & Friel (2002) mengatakan bahwa “satu perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten dan dengan integritas, benar-benar bisa mengubah  keseluruhan sistem“.

Mengakhiri opini ini, penulis mengajak para pembaca untuk melahirkan generasi bangsa berkarakter, berintegritas dan berakhlak mulia melalui kebiasaan yang baik dan benar dalam kehidupan keseharian kita tanpa dibatasi ruang dan waktu. Banyak kebiasaan baik dan benar yang dulu dilakukan di sekolah dan di kelas, sekarang kebiasaan baik dan benar itu sudah banyak kita tinggalkan (Penulis: Dr. Aswandi, Dosen FKIP Untan)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Bahasa Identitas Bangsa

Tidak Mau Sekolah

Pendidikan Terjebak Formalisme

Negeri “Seolah-Olah”

Proses Menjadi Seorang Pemimpin