Kampus Penyelamat

Opini Ilmiah


Senin, 08 September 2014 - 13:59:24 WIB | dibaca: 2186 pembaca



Foto: di Great Wall of China - Tembok Besar China

Oleh: Aswandi
 
SELAIN menggunakan nama para pahlawan, identitas kampus di negeri ini dapat dikenali melalui warna, seperti; Universitas Indononesia (UI) dengan sebutan kampus kuning, Fakultas-fakultas di lingkungan UNTAN dicirikan pula dengan warna sebagaimana terlihat pada bendera dan toga, seperti: Fakultas Hukum berwarna merah, Fakultas Ekonomi berwarna hijau, Fakultas Teknik berwarna biru dan FKIP berwarna orange.

Sebuah warna yang dipilih, ditetapkan dan digunakan sebagai suatu identitas mempunyai maksud yang baik. Namun harus dipahami oleh sivitas akademikanya. Jika tidak dipahami, dikhawatirkan justru memberi dampak terhadap pengambilan keputusan atau tindakan yang kurang bermakna. Viktor Frankl, bapak logotrapi mengatakan bahwa kehidupan bermakna apabila seorang memahami alasan atas tindakannya, misalnya jika ia disuruh memakai jas biru, mereka harus mengerti alasan mengapa harus memakai jas berwarna biru, bukan jas berwarna hitam atau merah.

Asumsi penulis, sebagian besar sivitas akademika belum memahami alasan penggunaan warna tersebut, dan boleh jadi arti dari setiap warna merekapun tidak memahaminya, kecuali warna merah dan putih (warna bendera RI) yang berarti berani di atas kesucian.

Pada kesempatan ini, izinkan penulis memberi penjelasan singkat mengenai warna orange yang digunakan sebagai sebuah identitas FKIP UNTAN.

Helen Graham (1998) dalam bukunya “Healing With Colour’ mengatakan bahwa warna merupakan kebutuhan mendasar yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Ibnu Sina dalam bukunya “Canon of Medicine” memberi penjelasan tentang warna sebagai sebuah terapi perawatan karena warna tersebut memiliki pengaruh signifikan terhadap kondisi fisik tubuh. Dr. Herry Wohlfarth menunjukkan bukti lain bahwa warna mempunyai efek yang dapat diukur dan diduga pada sistem saraf otonom manusia, Dalam banyak kajian ditemukan bahwa tekanan darah, denyut nadi dan kecepatan peningkatan pernapasan terjadi di bawah cahaya orange dan sangat menurun di bawah cahaya hitam.

Ken Wilber (2012) dalam bukunya “A Theory of Every Thing” menjelaskan bahwa warna orange adalah warna yang memiliki dorongan penggerak yang dapat membuat analisis dan strategi pertumbuhan, memiliki semangat dan prestasi yang tinggi, serta teliti dan tekun.

Warna orange merupakan asal muasal dari warna kotak hitam yang sering digunakan untuk mencari informasi objektif dan akuntabel tentang sebab jatuhnya sebuah pesawat. Dan warna orange juga digunakan sebagai sebuah identitas tim SAR, juru parkir dan sebagainya. Dari penjelasan di atas, disimpulkan bahwa warna orange memiliki makna yang sangat penting bagi kehidupan umat manusia, yakni sebuah simbol “Penyelamatan”.

FKIP Untan sebagai sebuah LPTK atau perguruan tinggi yang diberi tugas oleh pemerintah untuk menyelenggarakan program pengadaan, pendidikan dan pelatihan guru atau tenaga kependidikan lainnya, dan sebagai lembaga penyelengara dan pengembang ilmu pengetahuan bidang pendidikan dan non kependidikan harus bangga dengan identitas sebagai “Penyelamat” itu.

Hirohito selaku kaisar Jepang setelah kalah perang dan menyisakan banyak korban perang, beliau menanyakan kepada rakyatnya, “Apakah guru masih hidup?”, Sebuah pertanyaan yang oleh sebagian rakyatnya terdengar aneh, kenapa beliau tidak bertanya, “Apakah para jenderal masih hidup?. Setelah itu beliau menjelaskan, memberikan keyakinan dan semangat kepada rakyatnya bahwa sekalipun Jepang hari ini kalah perang, karena guru masih hidup atau sang penyelamat masih hidup, maka pada saatnya nanti Jepang akan kembali bangkit dan menjadi negara maju di Asia dan bahkan di dunia. Prediksi Hirohito, kaisar Jepang itu terbukti benar adanya. Selama sebulan tinggal di Jepang, penulis merasakan sendiri akan kemajuan negeri mahatari terbit itu.

Para pakar dan banyak orang berpendapat bahwa kemajuan sebuah negara tergantung pada kemajuan dan mutu pendidikan sebagai dampak dari kehadiran guru sebagai agent perubahan dan penyelamat. John Hattie dari University of Auckland New Zealand (2007) mereview sebanyak 50.602 hasil penelitian, akhirnya menyimpulkan bahwa guru mempunyai pengaruh yang sangat besar (50%) terhadap kemajuan dan mutu pendidikan, sementara kurikulum mempunyai pengaruh sebesar 45% dan pembelajaran sebesar 43%.

Ketika penulis menghadiri Konfrensi Internasionaal Pendidikan di Bejing China yang diikuti lebih dari 1.500 pimpinan perguruan tinggi di seluruh dunia beberapa waktu lalu, menyepakati sebuah rekomundasi yang isinya antara lain; Kehadiran guru professional, bermartabat dan sejahtera mutlak bagi semua orang yang ingin bangsanya tetap eksis atau selamat dalam kehidupan ini. Rekomendasi tersebut menambah keyakinan penulis akan makna guru berperan sebagai penyelamat.   
Bill Clinton (2013) menulis sebuah buku “Diving” menjelaskan bahwa ditengah masyarakat yang semakin kapitalis dan liberalis ini, telah lahir sebuah masyarakat baru “Diving Society” atau masyarakat yang senang memberi atau suka sadaqah. Yang kaya memberi dengan duitnya, yang kuat memberikan tenaganya, yang pintar memberikan pemikirannya, yang sempat memberikan waktunya, yang terzolimi memberikan pengampunannya. Semuanya ingin memberi keselamatan bagi umat manusia.

Kita harus malu dengan seekor cacing, sekalipun ia hidup di tempat yang sangat kotot, namun tindakannya selalu ingin menyuburkan tanah yang kemudian menjadi tempat yang baik bagi orang untuk bercocok tanam di atas tanah tersebut.

Barang kali sejak berdirinya hingga saat ini belum banyak yang dibuat oleh para sivitas akademika FKIP Untan. Namun semangat orange atau penyelamat anak bangsa ini harus ditanam atau terpatri dalam hati sanubari yang kemudian menjadi pola pikir (mindset) dan pola tindak bagi semua sivitas akademikanya dimanapun mereka berada. Sekecil apapun, jadilah bagian sebagai penyelamat bangsa ini. Ambillah bagian dalam; (1) standardisasi lembaga dan pengelolaan pendidikan tenaga kependidikan yang didukung oleh ketenagaan, sarana dan prasarana, teaching school, serta pembiayaan yang memadai; (2) penataan dan pengembangan sistem rekrutmen dan seleksi mahasiswa calon guru yang menjamin perolehan calon-calon yang benar-benar potensial menjadi guru bermutu, profesional, dan berkarakter; (3) penyelenggaraan model pendidikan calon guru berasrama yang berikatan dinas untuk mengokohkan pembangunan jatidiri dan karakter keguruan; (4) penataan ulang program dan kurikulum pendidikan guru sehingga pendidikan akademik dan pendidikan profesi benar-benar merupakan satu keutuhan untuk membentuk guru yang bermutu, profesional, dan berkarakter; (5) standardisasi mutu penyelenggaraan pendidikan guru yang ditandai dengan adanya kultur akademik yang memberdayakan; (6) pengembangan model penentuan beban kerja guru yang lebih proporsional sehingga memungkinkan para guru memiliki kesempatan untuk mengembangkan diri secara professional; (7) penataan manajemen ketenagaan guru yang dikendalikan secara nasional; (8) pembentukan Dewan Guru Nasional yang berfungsi sebagai pengawal mutu guru dan pendidikannya, dan (9) Pembelajaran inovatif di Lembaga Pendidikan Guru (Penulis,Dosen FKIP Untan dan Direktur The Aswandi Foundation)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Transisi Kepemimpinan

Kemerdekaan dalam Pembelajaran

Pemilu Menguji Integritas

Komunitas Pembelajar