Integritas Semut

Opini Ilmiah


Jumat, 03 Juni 2016 - 16:37:35 WIB | dibaca: 684 pembaca


Oleh: Aswandi - PENULIS merasa malu kepada seekor cacing, binatang yang menjijikkan dan hidup di tempat-tempat kotor, namun hidupnya selalu berusaha menyuburkan tanah agar tanaman yang tumbuh di atasnya menjadi subur dan sangat bermanfaat bagi manusia. Malu kepada lebah, serangga yang menghasilkan madu berkhasiat tinggi bagi kesehatan, dan tidak pernah mengganggu jika mereka tidak diganggu. Malu kepada pohon bambu yang sangat lentur dan kokoh sekali, sekencang apapun angin bertiup, sebatang bambu tak pernah patah atau tercabut dari akarnya, kemampuan beradaptasi dan sangat kokoh itu sebagai dampak dari kekuatan yang dibangun dari dalam menuju ke luar. Malu kepada pohon pisang yang tidak akan mati sebelum berbuah dan semua bagian dari tubuhnya bermanfaat bagi manusia. Malu kepada semut selain karena sifatnya yang senang bersilaturrahmi, juga integritas yang dimilikinya sangat tinggi dan mulia.

Singkat cerita, di saat nabi Ibrahim ra dibakar oleh raja karena mempertahankan aqidah, keyakinan atau tauhidnya kepada Allah SWT, ada seekor semut membawa setetes air di mulutnya bermaksud untuk memadamkan kobaran api yang sedang membakar nabi Ibrahim ra, burung elang melihatnya dan berkata kepada semut, “Wahai Semut, tidak mungkin setetes air di mulutmu mampu memadamkan api yang sangat besar itu, percuma saja, lebih baik kau diam saja?”. Elang pasti mengetahui, semua orang takut kepada raja yang sangat berkuasa dan kejam itu, dan tidak sedikit orang mengikuti kebiadaban dan kezaliman penguasa alasan mencari selamat, “Pokoknya Selamat”. Nasehat elang tidak bergeming, semut terus saja melakukan keinginannya untuk memadamkan api seraya berkata, Wahai Elang, aku sadar bahwa kekuatan air yang ada dimulutku tidak sebanding dengan kobaran api itu, tapi ini kulakukan karena aku ingin menunjukkan bahwa sekalipun aku hanya seekor semut, binatang kecil yang dipandai tidak ada artinya, namun aku memiliki harga diri dan jati diri (integritas), aku ingin menunjukkan bahwa kebenaran itu bukanlah kekuasaan. Peristiwa tersebut terulang kembali sekarang ini, tidak sedikit partai politik, organisasi kemasyarakatan, kaum intelektual mampu menunjukkan integritasnya, banyak yang kehilangan integritas dan harga diri, yang awalnya berseberangan dengan penguasa, sekarang berkoalisi hanya untuk jabatan tertentu dan kenikmatan sesaat. Jika ditanya, bermacam-macam alasan pembenaran yang disampaikannya. Semestinya, mereka malu kepada cacing dan semut binatang kecil yang sering terhinakan, namun memiliki integritas sangat tinggi.       

Integritas dimaknai sebagai sesuatu yang tidak terbagi, kokoh, terpadu, tidak mengalami kerusakan, mempunyai prinsip moral, etika yang tinggi dan bersifat menyeluruh atau utuh”, demikian Henry Cloud (2007) dalam bukunya “Integrity” dan Stephen L. Carter (1999) dalam bukunya “Integrity” dan John Maxwell (2001) dalam bukunya “The Right to Lead”.

Mahatma Ghandi mengatakan “integritas adalah kesatuan yang tak terbagi-bagi, seseorang tak dapat mengatakan hal benar di satu bagian dari kehidupannya, sementara dia sibuk melakukan hal-hal yang salah di bagian lain manapun dari kehidupannya”. Misalnya, ketika melaksanakan ibadah terlihat sangat khusu’, zuhud dan tawaduk, namun dalam menjalani kehidupan sehari-hari, baik di rumah maupun di kantor atau tempat mereka bekerja sangat rakus, tama’, menghalalkan segala cara, dan mau memakan apa yang sesungguhnya bukan menjadi milik dan haknya. Penulis tambahkan integritas dicirikan, sifat, karakter atau kepribadian seseorang yang tidak lapuk karena hujan dan tidak lekang karena panas. Ia kokoh sebagaimana kokohnya batu karang.

KPK mendefinisikan integritas; (1) kesatuan yang kuat antara apa yang dipikirkan, dikatakan, dilakukan dengan hati nurani; (2) bersatunya antara kejujuran, konsistensi, dan keberanian untuk melakukan tindakan tanpa kompromi. Sedangkan bapak Joko Widodo selaku presiden RI ke-7 menyatakan integritas meliputi; kejujuran, gotong royong dan kerja keras. Berdasarkan pendapat di atas, penulis tegaskan kembali bahwa hakikat integritas adalah kokoh, istiqomah atau hidup berprinsip bukan utuh atau komprehenship.

Integritas berfungsi sebagai penghubung berbagai kekuatan yang membuat kehidupan kita menyeluruh dan hidup, bukan terpisah-pisah dan mati”, dikutip dari Parker J. Palmer (2009) dalam bukunya “The Courage to Teach”. John F. Kennedy mengatakan; “Ketika suatu hari nanti pengadilan tinggi sejarah mengadili kita masing-masing, mencatat apakah dalam perjalanan hidup kita yang singkat ini, kita penuhi tanggung jawab kita. Sukses atau gagal kita akan diukur dari jawaban kita terhadap empat pertanyaan utama, satu diantara pertanyaan utama tersebut adalah; “Apakah kita benar-benar telah memiliki integritas”, dikutip dari John c. Maxwell (2003) dalam bukunya “Quality a Leader”. Jadi, integritas itu merupakan modal utama yang harus dimiliki oleh seseorang dan/atau suatu kelompok manusia dengan kemanusiaannya menjadi pembeda dari makhluk-makhluk lainnya.

Uraian di atas, menegaskan bahwa hakikat integritas adalah kokoh, maka untuk melahirkan seorang dan institusi berintegritas mulailah dengan membiasakan satu kebiasaan secara kokoh. Ingin mewujudkan sebuah lembaga berintegritas misalnya, mulailah dari membiasakan satu karakter saja, yakni karakter yang sesuai visi dan misi lembaga atau organisasi tersebut, seperti karakter “Tertib” dengan slogan “Tertib Diriku, Tertib Kampusku” atau memilih karakter lain “Berkualitas” dan “Peduli”. Sama halnya, jika ingin mewujudkan integritas bersifat pribadi, mulailah dari membiasakan satu karakter yang diyakini paling prioritas dalam hidup ini, penulis sendiri memilih satu karakter, yakni “Kejujuran” karena menurut keyakinan penulis kejujuran tersebut merupakan jalan kebenaran dan kesuksesan, terutama jujur kepada diri sendiri. Thomas Lickona seorang pakar karakter menyarankan untuk memilih dua karakter dalam membentuk perilaku yang baik, yakni “Rasa Hormat dan Tanggung Jawab”. Kementerian Agama RI memilih tiga nilai, yakni “Iman, Ilmu, Amal”. Hugo Saves seorang pemimpin Venezuela yang sangat berpengaruh dan dihormati oleh para pemimpin dunia memilih tiga nilai, yakni “Bersatu, Berjuang, Menang”. Bagi bangsa ini, sumber integritas sudah sangat jelas, yakni dasar negara Pancasila memuat lima nilai dasar; ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah-mufakat, dan keadilan.

Tidak perlu memulainya dengan harus membiasakan diri melalui banyak karakter agar komprehenship, sekali lagi tidak perlu, dikhawatirkan justru mengalami kesulitas dalam mewujudkan pembentukan karakter itu sendiri. Pakar perubahan perilaku menegaskan satu kebiasaan dilakukan secara konsisten akan memberikan dampak penggiring yang lebih besar bagi pembentukkan karakter lainnya. Dicontohkan, jika seseorang secara konsisten membiasakan satu karakter, yakni “Bertanggung Jawab” misalnya, maka karakter lainnya akan mengikutinya, seperti berdisiplin dan menghargai waktu (Penulis, Dosen FKIP Untan)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Anak adalah Bintang

Belajar di Era Ketidakpastian

Nyalakan Pelita Terangkan Cita-Cita

Melawan Rasa Takut (2)

Pejabat Dilarang Merokok