Harapan pada Pendidikan Tinggi

Opini Ilmiah


Selasa, 22 April 2014 - 11:19:32 WIB | dibaca: 1301 pembaca



SAAT menyampaikan sambutan pada Dies Natalis Universitas Tanjungpura (Untan) ke-54, Senin, 20 Mei 2013 lalu, Muhammad Nuh selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia mengawali sambutannya dengan mengulang kembali apa yang pernah disampaikannya pada pidato Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), 2 Mei 2013 lalu, yakni penyakit sosial yang diderita oleh sebagian besar bangsa di dunia sekarang ini, adalah penyakit kemiskinan, ketidaktahuan atau kebodohan, dan ketinggalan peradaban. Selama penyakit tersebut belum dapat disembuhkan, maka selama itu pula sebuah bangsa akan mengalami ketinggalan. Para ahli sependapat bahwa pintu masuk pertama dan utama menuju kemajuan bangsa adalah pendidikan bermutu di semua jenis dan jenjang pendidikan. Universitas Tanjungpura adalah satu diantara jenjang pendidikan, khususnya pendidikan tinggi wajib mengambil bagian dalam membangun peradaban bangsa ini.

Sehubungan dengan itu, beliau berpesan kepada rektor Untan beserta sivitas akademik agar memperhatikan empat hal berikut; (1) mewujudkan perguruan tinggi (Untan) sebagai pusat unggulan akademik; (2) perguruan tinggi diminta menjaga netralitas menjelas pemilu tahun 2014 dan jangan berpolitik praktis; (3) manajemen pendidikan tinggi dikelola secara efektif, efisien dan akuntabel, dan (4) menjaga dan meningkatkan keramahan sosial .

Berikut ini, penulis mencoba memberikan pemahaman terhadap empat pesan Mendikbud tersebut di atas.
Mempelajari sejarah pendidikan tinggi, ditemukan bahwa hampir seluruh pendidikan tinggi di dunia ini mengembang tiga misi yang sama, yang kita kenal sebagai tri darma pendidikan tinggi, yakni misi; pendidikan dan pengajaran (teaching), penelitian (research) dan pengabdian dan pelayanan (service). Misi tri darma pendidikan tinggi tersebut dari waktu ke waktu mengalami perkembangan sesuai dengan perubahan yang terjadi di masyarakat, terjadi pergeseran dari kehadiran perguruan tinggi sebagai sebuah menara gading menjadi sebuah institusi multiuniversity yang berfungsi menjaga, memelihara dan membangun peradaban manusia.

Sinergitas tri darma pendidikan tinggi adalah sebuah penjelmaan yang akan melahirkan pendidikan tinggi sebagai pusat unggulan akademik.


Penulis mengamati misi tri darma pendidikan tinggi sekarang ini, terlebih lagi bagi pendidikan tinggi yang masih berbentuk teaching university belum berjalan secara sinergis, melainkan misinya berjalan sendiri-sendiri. Misalnya, praktek pembelajaran di perguruan tinggi tidak jauh berbeda dengan praktek pembelajaran di jenjang persekolahan; pembelajaran belum berbasis riset (reaseach base teaching), demikian pula penelitian dan pengabdian pada masyarakat, jarang sekali dilakukan berdasarkan hasil penelitian. Dan harus diakui bahwa selama ini, alokasi dana riset perguruan tinggi masih sangat kecil. Bapak Soejatmiko ketika menjabat rektor Universitas PBB membandingkan dana riset sebuah perusahaan di Jepang jauh lebih besar dibanding dana riset yang disediakan untuk seluruh perguruan tinggi di Indonesia. Karena keterbasan dana penelitian, tentu sulit memperoleh keunggulan akademik. Menyadari akan hal tersebut, pemerintah mengalokasikan dana penelitian pendidikan tinggi sebesar 30% yang akan digunakan oleh dosen dan mahasiswa.  

Membangun perguruan tinggi sebagai pusat unggulan akademik tidak cukup dengan hanya menyedaikan dana penelitian, melainkan jauh lebih penting adalah membangun tradisi dan etika akademik sivitas akademikanya, terutama tradisi dan etika akademik para dosennya. Pada suatu workshop yang dihadiri penulis, Sekretaris Balitbang Kemendikbud dalam sambutannya mengatakan bahwa penelitian di perguruan tinggi masih sering dilakukan karena ingin memenuhi komulatif angka kredit untuk naik pangkat atau jabatan, dan untuk memperoleh fee, belum dimaksudkan untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, Setelah naik pangkat, naik jabatan dan mendapat sedikit fee dari penelitian tersebut, maka sudah selesailah aktivitas akademiknya; selesailah membaca buku baru dan selesailah mempublikasikan karya tulisnya.

Direktur Ketenagaan Ditjen Dikti pada satu kesempatan menegaskan bahwa keberadaan atau eksistensi pendidikan tinggi sangat dipengaruhi oleh terjaga tidaknya etika akademik itu, jika sebuah pendidikan tinggi sudah kehilangan etika akademik, beliau menyarankan agar perguruan tinggi tersebut lebih baik dibubar saja. Anehnya ketika pemerintah mengatur agar etika akademik dijunjung tinggi di perguruan tinggi melalui publikasi ilmiah atau larangan plagiat, justru banyak perguruan tinggi menolaknya. Riuh rendah penolakang publikasi ilmiah di Indonesia mengingatkan penulis kepada Ali Akbar Velayati seorang ilmuan sekaligus Menteri Luar Negeri Iran, dimana beliau atas inisiatif sendiri  mempublikasikan dan mendokumentasikan pikirannya melalui pertemuan ilmiah dan disampaikan atau dipublikasikan di berbagai jurnal ilmiah agar diketahui dan dikritisi oleh para ilmuan lain.

Pesan selanjutnya, ketika Mendikbud meminta agar perguruan tinggi menjaga netralitas menjelang pemilu 2014 agar jangan berpolitik praktis. Untan harus menjadi “Cahaya Putih” karena warna putih tercipta dari sebuah spektrum utuh, dan Untan tidak boleh menghilangkan satu bagian dari spektrum tersebut, bisa berwujud agama, suku, awal usul, ras dan sebagainya. Penulis tambahkan semua orang harus nyaman dalam keberagaman. Pluralistik tersebut tidak hanya diomongkan sebagai pemanis bibir, melainkan diwujudkan dalam perbuatan nyata. Dalam pikiran penulis, barang kali beliau selain mengingatkan kita semua, juga menyindir Untan karena perhargaan yang diberikan pada saat Dies Natalis Untan ke-54 itu menuai multi tafsir, bahkan ada diantara kolega mempertanyakan kepantasan pemberian penghargaan itu. Menjelang tahun pemilu 2014, multi tafsir seperti itu tidak bisa dihindarkan dan selalu ada, namun sudahlah, kami panitia tulus ikhlas memberikan penghargaan itu.

Manajemen pendidikan yang efektif dan efisien sudah sejak lama digaungkan, namun selama kepemimpinan Muhammad Nuh, sangat terasa adanya kemajuan dalam manajemen pendidikan yang berintikan pada efektif, efisien dan akuntabel tersebut. Pilihan pada tiga prinsip tersebut telah memenuhi suatu kaidah manajemen pendidikan modern, namun yang terpenting implementasi dari tiga prinsip tersebut.

Menjaga dan meningkatkan keramahan sosial. Mendikbud mengatakan bahwa kemuliaan Untan tidak diukur dari banyaknya mobil mewah yang di parkir di Untan, melainkan semakin banyaknya mahasiswa berprestasi dari keluarga kurang mampu secara ekonomi tercatat sebagai mahasiswa Untan. Oleh karena itu pihak Untan jangan pasif, melainkan aktif dan proaktif menjemput calon mahasiswa dari kaum dhu”afa dan wong cilik. Mereka harus memperoleh harapan dan akses pendidikan tinggi bermutu di negeri ini. Secara jujur, penulis rasakan bahwa bapak Muhammad Nuh selaku Mendikbud RI adalah seorang menteri pendidikan yang sangat ramah dan peduli terhadap masa depan anak bangsa, termasuk mereka yang berasal dari keluarga fakir, miskin dan yatim. Dalam banyak kesempatan, penulis katakan pahala yang diberikan Allah Swt karena mengurus anak fakir, miskin dan yatim ini menutup dosanya karena sedikit khilab dan lalai dalam mengurus UN SMA di 11 provensi 2013 lalu. (Penulis: Aswandi - Dosen FKIP Untan dan Direktur The Aswandi Foundation)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Kebaya Identitas Perempuan Indonesia

Biarkan Mereka Berbeda

Apapun Masalahnya Kerja Jawabannya

Memaknai Kembali Genius

Menjemur Kolor di Tempat Umum