Harapan Hidup Bermakna

Opini Ilmiah


Selasa, 26 Juli 2016 - 10:14:12 WIB | dibaca: 530 pembaca


Oleh: Aswandi - ZUFELT (2004) dalam bukunya “The DNA of Success” menyatakan bahwa “Kesuksesan seseorang ditentukan oleh hasrat ini, keinginan atau harapan sesungguhnya”. Mudah sekali mengantarkan seseorang ke depan pintu kesuksesannya selama apa yang menjadi harapannya cepat diketahui, kemudian melakukan tindakan untuk mewujudkan harapan tersebut. Kesulitan dan kesalahan selama ini tidak ditemukan harapan atau hasrat inti akibat otonomi sebagai prinsip menemukan, mengembangkan dan mewujudkan harapan itu terabaikan dan dilanggar. Orang bijak mengingatkan, “Apapun bisa dirampas dari manusia kecuali satu; kebebasan terakhir manusia, yakni kebebasan untuk menentukan sikap dalam setiap keadaan, kebebasan untuk memilih jalannya sendiri.   

Kehilangan kontrol terhadap sistem kita sendiri dimana manusia kehilangan hubungan dengan dirinya dalam kehidupannya adalah hantu baru merasuki jiwa manusia sekarang ini, demikian, Erich Fromm (1996) dalam bukunya “The Revolution of Hope”. Oleh karena itu, memperkuat kontrol oleh diri sendiri dan menghormati otonomi sebagai sumber kemajuan adalah sangat penting dan harus mendapat perhatian serius.

Banyak orang telah kehilangan harapan, tiada mimpi, dan tidak punya cita-cita dalam hidupnya disebabkan banyak hal, seperti kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan di berbagai bidang lainnya. Ketika tamat dari satu jenjang pendidikan, seorang anak ditanya,“Setelah lulus melanjutkan pendidikannya kemana?”. Mereka menjawab, “Tidak melanjutkan pendidikan karena tidak ada biaya”, padahal mereka sangat ingin melanjutkan pendidikannya.

Penelitian penulis beberapa waktu lalu, menyimpulkan hal yang sama bahwa banyak sekali anak usia sekolah di daerah ini menyatakan “Tidak Mau Sekolah” karena alasan ekonomi atau kemiskinan, nilai sekolah dan banyak alasan lainnya. Mereka adalah generasi kehilangan harapan yang pada saatnya nanti secara pasti menimbulkan masalah besar bagi daerah dan bangsa ini.  

Erich Fromm (1996) mengatakan “Hantu Baru” di zaman modern sekarang ini bernama “Kehilangan Harapan”, kehadirannya membuat takut dan merusak masyarakat. Daya rusahnya jauh lebih dahsyat dari komunisme dan fasisme.

Michael V. Pantalon (2013) dalam bukunya “Instant Influence” menyatakan hal senada bahwa masyarakat maju saat ini dihantui rasa takut putra-putrinya kehilangan harapan, cita-cita dan mimpi. Kehilangan harapan digolongan sebagai penyakit jiwa atau depresi mental terburuk. Oleh karena itu diperlukan kesadaran kolektif masyarakat melawan hantu baru tersebut. Martin Luther King pejuang hak asasi manusia sudah sejak lama, tepatnya 28 Agustus 1963 menyampaikan pidato sebagai bentuk perlawanan terhadap hantu baru tersebut berjudul “Saya Punya Mimpi” dan Sigmund Freud menulis sebuah buku berjudul “The Interpretation of Dreams”.

Harapan adalah menghendaki dan menginginkan, baik berupa materi maupun non materi, yakni berupa kehidupan yang lebih bermakna, kondisi hidup lebih menyenangkan, bebas dari kejenuhan. Menjadi bermakna sebaliknya (non-hope), jika mengandung sifat kepasifan dan “menunggu untuk”.

Harapan bukanlah pasif, juga bukan tidak realities terhadap apa yang tidak bisa dilakukan, melainkan sebuah kesadaran yang terencana dengan baik. Manusia tidak dapat hidup tanpa harapan, orang yang hancur harapannya akan membenci hidupnya.

Erich Fromm menambahkan bahwa harapan merupakan unsur yang sangat penting dalam setiap upaya mengadakan perubahan sosial agar menjadi lebih hidup, sadar dan lebih berakal.

Michael V. Pantalon (2013) menjelaskan secara singkat tiga prinsip harapan ini: (1) Tidak ada seorangpun yang harus melakukan sesuatu; pilihan selalu ada pada Anda; Riset membuktikan, banyak orang menghindari apa yang diminta untuk mereka lakukan dan memilih apa yang diminta untuk mereka hindari. Menyuruh orang untuk memilih sebuah aktivitas, mesti mereka menyukainya, hampir dapat dipastikan bahwa mereka akan menghindarinya. Itulah sebabnya banyak orang tidak suka disuruh untuk melakukan sesuatu. (2) semua orang telah memiliki motivasi yang cukup. Salah satu aspek paling melemahkan dari depresi adalah kurangnya tenaga dan rasa tidak memiliki harapan yang tampaknya mematikan setiap usaha perubahan kebiasaan sebelum ia memulainya; dan (3) berfokus pada motivasi, sekecil apapun lebih baik dari pada menanyakan tentang keengganan.

Sejarah mengajar bahwa Hitler dengan Nazinya sangat kejam dan biadab. Siapa saja yang dihukum olehnya dihadapkan pada dua pilihan, yakni dibakar hingga menjadi abu atau kerja paksa di sebuah kamp yang sangat angker.

Viktor E. Frankl seorang profesor psikologi analitik saksi hidup mendapat hukuman kerja paksa bersama banyak tahanan lainnya.

Ia menceritakan pengalamannya, banyak tahanan di kamp kerja paksa Nazi masih berusia lebih muda darinya, namun meninggal lebih dahulu. Fenomena tersebut diteliti secara mendalam untuk mengetahui apa sesungguhnya yang terjadi. Sampai pada kesimpulan bahwa; “Mereka meninggal karena kehilangan harapan dalam hidupnya, sementara yang tetap hidup karena memiliki harapan untuk hidup lebih bermakna. Ia simpulkan, sebuah pukulan yang tidak menimbulkan berkas dalam situasi tertentu lebih menyakitkan dibanding pukulan yang menimbulkan bekas. Bagian yang paling menyakitkan dari pululan adalah hinaan yang menyertainya, Selain itu, riset tersebut membuktikan bahwa keinginan mencari“Makna Hidup” mempengaruhi keberlangsungan hidup manusia. Tidak ada sesuatupun di dunia ini yang bisa lebih efektif membantu seseorang untuk bertahan hidup bahkan dalam kondisi terburuk sekalipun selain kesadaran bahwa hidupnya memiliki makna”, demikianViktor E. Frankl (2004) dalam bukunya “Man’s Search for Meaning”.  

Nietzsche menambahkan bahwa memiliki alasan untuk hidup, akan mampu bertahan dalam hampir semua kehidupan.

Viktor E. Frankl (2008) dalam buku lainnya “Optimisme” mengatakan, “Jangan mencari sukses, semakin keras kamu berupaya dan menjadikan sukses sebagai target , maka semakin sulit kamu meraihnya. Karena sukses sama halnya dengan kebahagiaan, tidak dapat dikejar, dia harus terjadi dan itu hanya bisa diraih sebagai efek samping dari dedikasi pribadi seseorang terhadap upaya yang lebih bermakna, dampak penyerahan seseorang kepada orang lain di luar dirinya sendiri. Berdasarkan uraian di atas, disimpulkan bahwa eksistensi manusia ditentukan oleh harapanya untuk hidup bermakna atau bermanfaat bagi orang lain. Bukakan pintu kepada setiap orang agar mereka memiliki harapan, cita-cita dan mimpi dalam hidupnya, dan ajarkan kepadanya kehidupan sejati itu adalah kehidupan bermana. Jika Anda tidak mampu membangun jalan tol, bangunlah titian bambu menuju mata air kehidupan (Penulis, Dosen FKIP Untan)


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Ayam dan Merpati

Penyakit Hedonisme

Pertanyaan adalah Jawaban

Pengendalian Diri

Integritas Semut