Guru Inspiratif

Opini Ilmiah


Senin, 19 Januari 2015 - 12:32:27 WIB | dibaca: 2110 pembaca



Oleh: Aswandi
 
RISET membuktikan, “kunci keberhasilan seseorang meskipun dalam perkembangannya dikelilingi oleh banyak kesulitan hidup dan buruknya pendidikan di masa anak-anak adalah adanya kehadiran paling tidak satu orang dalam kehidupannya yang memberi dukungan emosional secara teratur dan berpengaruh positif”, dikutip dari William Sears (2004) dalam bukunya “Anak Cerdas”. Mereka adalah guru (pendidik) inspiratif dan pemberi harapan yang jumlahnya sangat sedikit dalam komunitas guru. Sementara sebagian besar guru berada dalam kategori; bad/ordinary teacher can tell, good teacher can explain, and  excellence teacher can demonstrace, yakni guru yang pandai bercerita, menjelaskan, dan menunjukkan.

Bapak Anies Baswedan selaku Mendikbud mengatakan bahwa guru Indonesia memiliki kelayakan dalam kategori masih sangat rendah, yakni hanya memiliki nilai 44,5. Padahal standar kompetensi (professional dan pedagogic) guru di negeri ini setidaknya memiliki nilai 75. Bagaimana lagi kualitas kelayakan kompetensi sosial dan kepribadian guru Indonesia?.

Beberapa contoh guru inspiratif yang telah berhasil mengantarkan siswanya mencapai prestasi puncak, diantaranya; (1) Suster Anne Sullivan seorang guru sang pembawa cahaya dalam diri Helen Keller, seorang anak manusia yang penderita buta dan tuli sejak berusia 17 bulan, namun setelah dewasa mencapai prestasi akademik terpuji dari sebuah perguruan tinggi paling bergensi dan prestesius di dunia ini; (2) Torey Hayden, seorang guru pada Sekolah Luar Biasa (SLB) yang sering mendapat perlakuan kasar siswanya, tetapi diterimanya dengan ikhlas karena kecintaannya kepada muridnya. Seorang muridnya bernama Shella, yang semulanya abnormal, Setelah dewasa, sembuh dari penyakitnya dan mencapai prestasi akademik terpuji karena diasuhnya dengan cinta kasih yang tulus; (3) Morrie Schwartz, seorang profesor inspiratif yang cacat fisiknya sehingga perkuliahan diselenggarakan di rumahnya setiap hari Selasa. Namun dibalik kisah banyak orang sukses di negerinya ternyata mereka adalah mahasiswanya; (4) Ibu Chysan seorang relawan yang kesehariannya mendidik dan mengasuh 190 siswa di sebuah perkampungan kumuh yang menurut sosiolog anak tersebut gagal dalam hidupnya, mereka akan menjadi sampah masyarakat,dan masa tua mereka di penjara. Setelah 25 tahun kembali diteliti, ternyata hipotesis tersebut meleset, 186 orang siswanya setelah dewasa berhasil di bidangnya masing-masing tersebar di belahan dunia, hanya 4 orang saja yang gagal. Ketika diwawancara secara mendalam mereka yang sukses sebanyak 97,8% itu memberi jawaban yang sama, mereka mengatakan keberhasilannya terinspirasi oleh seseorang guru bernama ibu Chysan. Alhamdulillah guru inspiratif tersebut masih hidup, beliau ditanya oleh peneliti tentang kiat sukses mendidik siswanya, ibu Chysan tidak bisa dan tidak tahu menjawabnya. Ia hanya mengatakan “Saya Mencintainya”
Kisah guru inspiratif lainnya, (5) seorang ibu guru bernama Een Sukaesih baru saja wafat. SBY melalui akun twitternya menyampaikan duka yang mendalam atas meninggalnya guru pejuang yang sangat inspiratif itu. Seorang ibu guru yang diketahui sejak berusia 18 tahun menderita penyakit langka radang sendi ganas (remathoid artitis), hanya bisa terbaring di tempat tidur menahan sakit yang dideritanya, namun ia tetap saja melaksanakan tugasnya mengajar dan mendidik anak sekolah di rumahnya tanpa pernah mengeluh hingga ajal menjemputnya; (6) Kisah selanjutnya, di tahun 2004, penulis memiliki pengalaman bersama guru berprestasi tingkat nasional, ia ditetapkan sebagai guru berprestasi karena terbukti berhasil mengantarkan siswa-siswinya menjadi juara olimpiade sains internasional yang sangat membanggakan kita semua. Guru berprestasi tersebut sangat sederhana, ia tinggal bersama keluarga di sebuah rumah yang hanya terdiri satu ruangan, layaknya sebuah ruangan kelas yang berukuran tidak lebih 4x6 meter persegi. Di rumah itu pula ia membimbing siswa-siswinya yang mengalami keterlambatan dalam belajar agar besok harinya siswa-siswi tersebut dapat mengikuti pelajaran dengan baik. Tanpa merasa malu dengan serba kekurangan tersebut, ia jalin hubungan harmonis penuh kepercayaan sesama guru, orang tua dan siswanya, dan tanpa keluh kesah ia jalankan profesinya dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab.

Ini adalah sebuah fenomena yang membuktikan bahwa kebenaran identitas atau jati diri adalah akar dari keberhasilan pengajaran. Ketika banyak orang yang diundang ke istana negara untuk bersama-sama presiden dan petinggi negara ini memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik, dilanjutkan kegiatan ramah-tamah sesama para teladan, berkunjung ke berbagai tempat bersejarah dan tempat rekreasi membuat mereka sangat haru bercampur bahagia. Tetapi sangat berbeda dengan sang guru prestasi yang zuhud tadi, ia justru tidak tahan untuk berlama-lama berpisah dengan siswa-siswinya, siswa/siswinya juga demikian meminta agar gurunya segera pulang karena alasan yang sama, artinya, baik guru maupun siswa/siswinya selalu ingin bersama-sama dalam pergaulan yang bersifat edukatif yang langka terjadi selama ini. Tentu saja masih ada guru inspiratif lainnya yang tidak mungkin penulis ceritakan kisah hidupnya satu persatu di rubrik opini yang sangat terbatas ini, seperti ibu Muslimah dalam novel Laskar Pelangi.

Dari kisah guru inspiratif tersebut di atas tersirat makna bahwa guru inspiratif adalah guru yang mengenal identitas jati dirinya sebagai seorang pendidik, menjalankan tugasnya dengan cinta kasih atau kasih sayang.
Parker J. Palmer (2009) dalam bukunya “The Courage to Teach” menyatakan; “pengajaran yang baik tidak dapat disederhanakan menjadi bentuk teknik, metode, dan strategi pengajaran belaka, pengajaran yang baik berakar pada identitas dan integritas pendidik”.

Untuk bisa mengajar secara efektif, lebih mengenal peserta didik dan bidang ilmu yang diajarkan sangatlah tergantung pada kemampuan dan kesadaran semua guru atau pendidik mengenali identitas dirinya sendiri. Semakin kita mengenal identitas atau jati diri atau siapa diri kita sebenarnya, maka semakin efektif pengajaran yang diberikan dan semakin mudah pula kehidupan kita.

Yang lebih mereka (peserta didik) rasakan dan pentingkan dari gurunya adalah apakah gurunya benar-benar ada bersama mereka dan dari perasaan itulah mereka merespons pengajaran yang disampaikannya.

Dalam rangka mengejar ketinggalan bangsa ini dari bangsa lain, kita membutuh guru inspiratif dalam jumlah yang lebih besar, yakni guru yang tidak tidak cukup memiliki kompetensi professional dan sejahtera, melainkan guru yang memiliki martabat tinggi dan mulia dimana profesi mendidik, mengasuh, membimbing dan mengajar adalah panggilan jiwanya, dilakukannya dengan tulus ikhlas atas dasar kasih sayang (Penulis, Dosen FKIP Untan dan Direktur The Aswandi Foundation).


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Menguji Komitmen Kita

Memaknai Awal Perubahan

Pendidikan Indonesia Gawat Darurat

Kasih Sayang Ibu

Memilih Rektor Tepercaya