Guru Indonesia

Opini Ilmiah


Senin, 24 November 2014 - 10:45:58 WIB | dibaca: 1362 pembaca



Foto: Saat Menghadiri Borneo Studies Network

Oleh: Aswandi
 
MENURUT perundang-undangan yang berlaku, “guru Indonesia adalah pendidik professional, bermartabat, dan sejahtera dengan tugas utama; mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan  mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal (TK), pendidikan dasar, (SD/MI, SLTP/MTs) dan pendidikan menengah (SMA/SMK/MA/MAK).

Guru menempati posisi strategis bagi kemajuan sebuah bangsa sebagaimana  para pakar sependapat bahwa “Pendidikan bermutu adalah pintu masuk kemajuan sebuah bangsa”. Bicara pendidikan bermutu tidak terlepat dari ketersediaan guru professional/bermutu, bermartabat/berkarakter, dan sejahtera.

Sebuah studi di tahun 2007 mengenai prestasi belajar pada dua kelompok peserta didik yang memiliki kesamaan karakteristik, diajar oleh guru dengan kualitas keprofesionalannya yang berbeda. Diketahui setelah 3 (tiga) tahun terdapat perbedaan prestasi belajar peserta didik sebesar 56%. Murid yang diajar oleh guru professional prestasi akademik dan kepribadiannya lebih baik 56% dari pada peserta didik yang diajar oleh guru yang tidak professional, dan kurang bermartabat. Diperparah lagi, jika diteruskan praktek pendidikan dan pembelajaran tersebut, dampak merusaknya bertambah besar, demikian sebaliknya. Hendry Brock Adam mengatakan, “Pengaruh guru tiada batasnya, dia sendiripun tidak tahu kapan batas itu berakhir”.

Ciri pertama guru Indonesia adalah professional dan pemerintah berkewajiban melakukan pembinaan kompetensi, melakukan penilaian kinerja, pengembangan karier, perlindungan dan penghargaan, dan menjaga etika,    
Melahirkan guru profesional memerlukan pemikiran ulang mengenai kompetensi guru (professional, pedagogik, sosial dan kepribadian) yang dipercayai selama ini. Sebagian pakar pendidikan mengatakan rumusan kompetensi guru tersebut salah rujuk. Rujukan mereka adalah pilar pendidikan menurut UNESCO yang digunakan oleh lembaga dunia tersebut untuk mengukur kelayakan pendidikan secara umum, bukan untuk menilai kelayakan seorang guru. Oleh karena itu jangan heran dan mengeluh, jika mengalami kesulitan dalam mewujudkan guru profesional. Kelompok pakar pendidikan yang tidak setuju rumusan kompetensi tersebut mengusulkan empat kompetensi guru, yakni guru; memahami karakteristik peserta didik, menguasa materi pembelajaran, mengajar yang mendidik, dan profesionalisasi guru secara berkelanjutan melalui tiga kegiatan utama; pengembangan diri, publikasi ilmiah dan karya inovatif.

Selain itu, pembinaan dan pengembangan profesi guru harus dilakukan secara simultan, antara lain mensinergikan sembilan dimensi; analisis kebutuhan guru, penyediaan guru oleh LPTK, rekruitmen dan seleksi, penempatan, redistribusi, evaluasi kinerja, pengembangan profesi guru berkelanjutan, dan pengawasan etika profesi.

Harus diingat bahwa mewujudkan guru profesional, setidaknya melalui empat tahapan; (1) penyediaan guru berbasis perguruan tinggi oleh LPTK strata sarjana, (2) induksi guru pemula berbasis sekolah, antara lain melalui program SM 3T, (3) profesionalisasi guru berbasis prakarsa institusi, dan (4) profesionalisasi guru berbasis individu atau menjadi guru madani. Mencermati ketentuan dan perundang-undangan yang berlaku mengenai profesionalisasi guru bermuara pada guru itu sendiri atau guru menjadi manusia pembelajar terus menerus.

Upaya mewujudkan guru professional memelukan penilaian kinerja yang fokus utamanya adalah menilai; disiplin guru, baik kehadiran maupun ethos kerja,
efisiensi dan efektivitas pembelajaran, yakni kapasitas transformasi ilmu ke siswa, keteladanan guru (berbicara, bersikap dan berperilaku), dan upaya guru dalam memotivasi belajar siswanya.

Secara khusus melahirkan guru professional ditentukan oleh pendidikan guru. Teacher education summit menyampaikan sebuah deklarasi tentang pendidikan guru masa depan terdiri dari 9 (sembilan) point, yakni; (1) standardisasi LPTK, (2) penataan dan pengembangan sistem rekrutmen dan seleksi mahasiswa calon guru, (3) model pendidikan calon guru berasrama, (4) penataan ulang program dan kurikulum pendidikan guru, (5) standardisasi mutu penyelenggaraan pendidikan guru, (6) model penentuan beban kerja guru yang lebih proporsional, (7) penataan manajemen ketenagaan guru, (8) pembentukan Dewan Guru Nasional, dan (9) pembelajaran inovatif di LPTK.

Memperhatikan fenomena tersebut di atas, maka LPTK harus berani melakukan perubahan, mulai penataan sistem kelembagaan yang paling dasar, yakni memperkuat posisi jurusan dan program studi karena kekuatan sebuah LPTK sangat ditentukan dari kekuatan jurusan dan program studinya.

Guru Indonesia memerlukan organisasi profesi yang bertanggung jawab dalam banyak hal, seperti pembinaan profesionalisme dan menjaga etika profesi guru. Menurut perundang-undangan yang berlaku, organisasi profesi guru tidak terbatas hanya PGRI, melainkan guru dapat saja berhimpun dalam sebuah organisasi profesi berbasis bidang studi.   

Ciri kedua guru Indonesia adalah bermartabat karena karakteristik guru bermartabat telah terbukti melahirkan orang dewasa yang bermartabat pula. Mereka mengajar yang mendidik atas dasar kasih sayang atau cinta kasih dan dapat dicontoh atau ditauladani siswa dan masyarakatnya. Jika seorang guru tidak layak dicontoh atau ditauladani, maka sesungguhnya guru tersebut sudah kehilangan hak moral untuk mendidik dan mengajar.  

Dalam banyak kesempatan, penulis menyampaikan satu kasus dimana terdapat 200 siswa Sekolah Dasar (SD) dari kalangan kaum miskin yang tinggal di daerah kumuh dididik oleh seorang ibu guru berstatus relawan. Menurut pakar antropologi mereka nanti setelah dewasa masuk penjara akibat dididik seperti itu. Kenyataannya tidak demikian, setelah mereka dewasa hanya terdapat 4 orang yang masuk penjara, selebihnya sebanyak 196 orang tercatat sebagai orang sukses. Fenomena tersebut membuat para pakar antropologi kembali melakukan penelitiannya karena apa yang diasumsikan selama ini adalah salah. Setelah diselidiki secara mendalam terbukti semua siswa yang sukses itu memberikan jawaban yang sama bahwa mereka sukses karena terinspirasi oleh nasehat ibu gurunya di SD yang seorang relawan itu. Alhamdulillah, ibu guru tersebut saat penelitian ulang dilakukan masih hidup. Ditanyakan kepadanya kiat mendidik siswa menjadi orang sukses. Jawabannya hanya satu “Saya Mencintai dan Menyayanginya”.

Penulis menduga, sebagian guru di negeri ini kurang inspiratif karena pembinaan yang dilakukan lebih diarahkan untuk melahirkan seorang guru dengan ciri “ordinary teacher can tell” atau guru yang hanya pandai bicara, belum berorientasi melahirkan “good teacher can explain” atau guru yang pandai menjelaskan, apalagi “excellent teacher can demonstrace” atau guru yang mempu menunjukkan dan “great teacher is inspire” atau guru yang menginspirasi.

Ciri ketiga guru Indonesia adalah sejahtera. Keinginan mensejahterakan guru Indonesia mulai terwujud, dimana guru Indonesia memperoleh gaji pokok, tunjangan fungsional, tunjangan profesi, tunjangan khusus, dan beberapa maslahat tambahan. Baru sekarang ini di Indonesia, seorang guru menerima gaji sama besarnya dengan gaji yang diterima oleh seorang gubernur, bupati dan walikota. Meningkatnya kesejahteraan guru tersebut mengangkat harkat dan martabat profesi guru. Semakin banyak anak cerdas di negeri ini berminat menjadi guru (Penulis, Dosen FKIP Untan dan Direktur The Aswandi Foundation).


Berita Terkait Opini Ilmiah / Opini Aswandi

Menolak Standarisasi Ujian

Menghormati Pahlawan

Pemimpin Bersama Guru

Pidato Pelantikan Pemimpin

Berguru Kepada Orang Gila